Skripsi, Jurnal Ilmiah, dan Bahasa Inggris

Posted on January 22, 2016

0


Posting saya tentang pengalaman menulis skripsi dan tesis dibaca banyak orang dan barusan ada satu yang berkomentar panjang lebar. Yah, saya seneng bisa menginspirasi orang lain lewat blog awur-awuran yang isinya ngalor ngidul ini. Ya, ngalor ngidul karena isinya benar-benar awut-awutan mulai dari yang sakral, serius, ilmiah, sampai yang ecek-ecek ada semua disini.

 

Awal minggu ini ada kunjungan dari Messiah College, USA. Sekitar 17 an orang mahasiswa dan 1 dosennya datang berkunjung ke kampus saya dan mengadakan seminar setengah hari. Yang bikin saya kaget adalah bahwa menurut sang dosen, mahasiswa S1 disana tidak diwajibkan menulis skripsi.  Wah, enak sekali, batin saya. Jangan sampai mahasiswa saya mendengar ini karena mereka bisa minta pindah semua ke Messiah College, hahaha.

 

Di negeri ini, semua mahasiswa S1 harus menulis skripsi. Itu sesuatu yang baik juga karena menjadi ajang latihan berpikir ilmiah dan sistematis dalam memecahkan suatu masalah buat mereka. Tahu ndak bahwa menurut penelitian seorang sarjana pendidikan Inggris, generasi muda Indonesia itu lumayan bisa dalam berbahasa Inggris gaul atau untuk keperluan sehari-hari, tapi masih lemah dalam berbahasa Inggris ilmiah dan akademik. Ya tidak mengherankan, wong ketika masuk kuliah dari SMA aja bekal kosa kata mereka hanya sekitar 1000 kata, padahal minimal harus sudah menguasai sekitar 3000 kata karena untuk memahami teks bahasa Inggris diperlukan sekitar 5000 – 8000 kata.

 

Kemarin seorang mantan mahasiswi datang mengunjungi. Dia bercerita bahwa ketika ingin membuat video klip singkat untuk temannya yang baru menikah, dia ingin mengatakan untaian panjang “Have a happy wedding, may you both live happily ever after.” Celakanya, kalimat penggalan kedua itu rupanya cukup sulit untuk dia ucapkan secara cepat sehingga jadinya “live happilypippip bleb bleb bleb” gak karu-karuan. Saya ngakak keras di kantor mendengar ceritanya. Bahkan ketika sudah pulang pun saya masih ketawa sendirian di mobil. Ya begitulah, sekilas gambaran kemampuan berbahasa Inggris generasi muda negeri ini saat ini.

 

Kembali serius. Tentang artikel ilmiah. Syukur alhamdullilah akhirnya salah satu artikel saya dimuat di salah satu jurnal domestik. Pagi ini bahkan saya menerima kabar yang lebih bagus: jurnal itu sudah terindeks di SCOPUS. Ini prestasi sangat bagus untuk sebuah jurnal yang baru lahir di Indonesia. Saya ikut bangga dan senang. Tapi saya agak termenung juga menyadari bahwa naskah itu saya kirimkan Maret 2015 dan baru dimuat Januari tahun 2016. Luar biasa lama penantiannya. Ya awlooh, sementara manusia lain asyik berjualan online dan wisata kuliner, saya tak henti-hentinya menulis artikel ilmiah lalu menunggu sampek tengik supaya karya-karya itu dimuat di jurnal! Hmm, sekarang saya tahu mengapa tunjangan guru besar di negeri ini cukup besar; ya karena memang perjuangannya sungguh sepi dan jiwa raganya  jatuh bangun dalam menulis dan terutama menunggu karyanya terbit, hahahaha!

 

Hmm, tahun lalu itu saya menulis kayak orang gila. Bahkan saya sudah lupa kemana saja semua naskah ilmiah itu saya kirimkan. Yah, semoga ada hasilnya. Soalnya tahun ini shio Kambing saya diramal banyak menuai sukses🙂

 

 

 

 

 

Posted in: Uncategorized