Jing Anjing Anjing Anjing . . .

Posted on January 8, 2016

0


Setelah membaca posting saya yang kemarin tentang UFO, seorang pembaca setia menukas pendek: “Males, Pak, topik ini saya ndak suka. Terlalu khayal.”

Yaaah, . . .  ya sudah, kali ini saya ndak mau menulis tentang UFO. Saya tulis sesuatu yang dia juga suka, yaitu anjing.

Anjing. Kata orang sih — para penggemar anjing, khususnya, ini adalah binatang sahabat terbaik manusia. Celakanya, saya tidak suka anjing, dan seperti sudah saya katakan di posting-posting sebelumnya, anjing juga ndak suka saya. Kalau saya ke rumah orang tua, anjingnya akan menyambut anggota keluarga yang lain dengan suka cita, tapi benar-benar mencuekkan saya. “Tuh, anjing kita tahu bahwa kamu ndak suka anjing,”  komentar adik saya.  Celaka betul, di keluarga besar maupun keluarga inti saya, saya adalah satu-satunya orang yang tidak suka anjing. Kata para bijak jaman sekarang, untung saya sudah laku;  karena kalo masih jomblo bakal sulit dapat jodoh karena wanita jaman sekarang menganggap pria yang tidak suka anjing adalah pria dingin, cuek, bahkan kejam. Bwahahaha!

 

Tapi berhubung ini adalah posting tentang anjing, ya sudah, saya akan ceritakan tentang anjing saya, atau tepatnya: anjing milik keluarga saya.

 

Setelah anjing kami yang sudah tua renta menjadi linglung lalu pergi ke jalan dan mati disana, kami diberi anjing gila. Gila maksudnya ini adalah jenis anjing termahal yang pernah kami punya. Jenisnya Siberian Husky. Berapa harganya? Gratis, lha wong itu hadiah dari salah seorang teman untuk si bungsu yang sedang berulang tahun. Anjing ini besar, matanya biru kayak bule, dan tingkahnya ya ampuun nakalnya. Nama aslinya Irving Van Doodle, terus sama si bungsu diberi nama Hugo. Entah gimana lalu jadi Guggi.

 

Ini tampangnya. Keren ndak?

 

Hugo

Seorang mantan mahasiswi datang ke depan rumah naik mobil putihnya. Dia melihat Hugo sekilas dan langsung bilang: “Welek, Pak, kejam tampangnya. Sek bagusan Husky saya, tampangnya kalem dan gak nakal.” Dalam hati saya bilang: “untung kamu wis lulus; coba belum saya kasih D semua kamu”. Hahahaha!

 

Kata adik saya, anjing Husky harus rajin dilatih dan dibawa berjalan-jalan. Kalau perlu, datangkan pelatih khusus supaya dia pintar dan sehat. Ongkosnya berapa? 400 ribuan sekali jalan. Wes lah, prei ae. Duwit segitu mah lebih baik dibelikan beras dan lauk-pauk buat makan tuannya, hahaha!

Jadi si Hugo ini akhirnya berkeliaran di halaman depan rumah. Sudah tak terhitung berapa ekor tikus dan kucing yang mati diterkamnya. Sekalipun badannya besar dan para tikus serta kucing itu lincah, dia punya jurus tersendiri untuk bisa menangkap mereka dan membunuhnya. Sadis ya.

 

Karena anjing salju, anjing jenis ini tidak galak dan tidak suka menggonggong. Tapi siapa yang tidak ngeri melihat badannya yang segitu gedhenya? Yang jelas, saking nakalnya, sudah beberapa kali saya tidak membaca koran karena begitu koran datang dari loper, si Hugo akan menyambarnya dan merobek-robeknya sampai berkeping-keping. Mungkin dia sebal setelah membaca judulnya isinya berita ngeri dan berita buruk melulu, maka dirobek-robeknya koran sialan itu, hahaha!

 

 

Lalu, selain Hugo, ada juga si Molly, seekor anjing betina jenis Pomeranian. Kecil, dan judesnya membikin bludrek. Kalau ada orang asing atau bunyi-bunyian yang tidak dia sukai, dia bisa menggonggong melengking-lengking menyakitkan telinga. Keluarga saya menjulukinya “tante judes”.

 

Suatu ketika, beberapa hari setelah Natalan bulan lalu, si Molly jatuh sakit. Jadi murung dan kadang-kadang muntah. Akhirnya, saya bawa ke dokter: tepatnya, saya antarkan si sulung membawa dia ke dokter. Dokternya di Jl. Danau Maninjau sana di daerah Sawojajar. Diagnosanya ndak jelas. Sama dokter dikasih suntikan yang katanya adalah vitamin dan obat anti kembung. Celaka,  satu jam setelah dibawa pulang, nafasnya jadi memburu. Kami bawa lagi ke dokter yang sama, yang yaah, ndak bisa berbuat banyak kecuali memberinya oksigen. Beberapa jam kemudian si Molly pun mati.

 

Dari cerita beberapa orang, saya menarik kesimpulan bahwa anjing sakit yang dibawa ke dokter dan disuntik malah akhirnya mati. Lho iki piye to dokternya kok malah jadi membunuh pasiennya? Ya, saya maklum juga sih, soalnya lain dengan pasien manusia, anjing kan ndak bisa mengatakan kepada dokternya bagian mana yang sakit dan gejalanya seperti apa.

 

Belum juga tanah kuburan Molly kering, keluarga sudah ribut mau cari anjing baru. Akhirnya berkat koneksi peranjingan yang luas, ada satu dari Surabaya yang mau menjual seekor Pomeranian berusia sekitar 4 bulan. Harganya 2 juta. Stamboom, alias ada suratnya. Namanya Barbed Wire. Walaaah, lha ini lak film yang dibintangi Pamela Anderson itu? Akhirnya oleh keluarga dia dipanggil Barbie. Ini tampangnya:

 

10313731_10206890080667695_6919793591072674136_n

Begitulah sekilas tentang anjing-anjing yang ada di sekitar saya. Btw, ikan koki saya mati tadi pagi. Bedanya ikan dengan anjing adalah kalau anjing mati, yang nangis banyak, bahkan sampek gerung-gerung, tapi begitu ikan di akuarium mati, ndak ada yang nangisi.

🙂

 

 

 

 

 

 

 

Posted in: Uncategorized