Apa Enaknya Hidup di Indonesia?

Posted on December 22, 2015

0


Apa enaknya hidup di Indonesia?

 

Pertanyaan itu sangat mudah dijawab. Jawabannya: tidak ada.

 

Apalagi kalau Anda sudah ratusan kali pesiar ke luar negeri. Jangankan Anda, saya yang hanya baru beberapa kali ke beberapa negara lain saja sudah hampir yakin bahwa memang tidak ada enaknya hidup di Indonesia. Lihat saja. Jalanan makin macet. Ratusan ribu sepeda motor membanjiri jalan dan langkah antisipasinya saja sangat terlambat sehingga macet makin parah dimana-mana. Anggota legislatif yang katanya mewakili rakyat bermental bobrok semua. Kalau kita buka usaha dan memperkerjakan buruh, buruhnya sering demo minta kenaikan upah sehingga produksi terganggu. Pendidikan mawut kocar-kacir dengan kurikulum tambal sulam. Alamnya kaya tapi hasil pengolahannya hanya menetes sepercik-sepercik ke rakyat karena sudah kadung dinikmati oleh perusahaan-perusahaan multinasional.

 

Penderitaan bertambah kalau kita tergolong minoritas. Karena hukum rimba berlaku, maka yang jumlahnya lebih banyak pasti harus dimenangkan, sementara yang lebih sedikit ya terpaksa harus mengalah, bahkan untuk urusan sesepele mendirikan tempat ibadah.

 

Sementara itu, ketika kita pergi ke negeri sebelah saja, kita sudah langsung dimanjakan dengan lingkungan yang bersih, terawat rapi, sehat, dan manusiawi. Jangan kata di negeri makmur seperti Malaysia atau Singapura, lha wong di Phnom Penh saja ada taman panjang dan luas sekali untuk tempat bersosialisasi antar anggota masyarakat. Asuransi kesehatan memberikan layanan yang sangat bagus, tidak birokratis, dan memanusiakan pasien. Tenaga medisnya cakap, jarang memberikan diagnosa dan obat ngawur yang pada ujungnya hanya menguras kantong pasien atau malah membuatnya makin sekarat. Pendidikannya memberikan kesempatan bagi anak didik untuk memaksimalkan bakat dan potensinya tanpa mencekokinya dengan muatan tidak jelas atau membandingkannya dengan teman-temannya.

 

Maka saya tidak heran ketika adik saya dan suaminya yang sudah pernah hidup lama di berbagai negara menceritakan bahwa banyak orang Indonesia yang tinggal disana sudah setengahnya mengingkari tanah airnya sendiri. Ungkapan seperti “saya tidak mau dipandang sebagai orang Indonesia”, “saya tidak akan kembali ke Indonesia, karena lebih enak disini” sering terdengar di kalangan mereka.

 

Jadi, apa enaknya tinggal di Indonesia? Mau dijawab “tidak ada” seperti di atas kok rasanya kuwalat terhadap tanah air sendiri. Tapi mau dijawab apa, wong memang kenyataannya demikian?

 

Saya punya beberapa kenalan. Kedua-duanya dari kalangan menengah atas. Setelah mengenyam pendidikan tinggi di luar negeri, beberapa memutuskan untuk mengatakan “lo gue end” ke tanah airnya dan menjadi warga negara di luar sana. Sebagian kecil memutuskan untuk kembali ke tanah air ini. Sekalipun hartanya sangat cukup untuk mendapatkan kewarganegaraan negeri asing, mereka tetap bertekad untuk tinggal disini. Sampai akhir menutup mata.

 

“Ini negeri saya,” kata salah seorang di antaranya. “Bukan kebetulan Tuhan menciptakan saya menjadi manusia yang lahir dan besar di Indonesia. Mau enak atau tidak, Indonesia adalah tempat saya lahir, dibesarkan, dan mati.”

Memang itu jawaban yang sangat tidak masuk akal. Wong di luar negeri jelas lebih enak, kok masih ngeyel mau hidup di Indonesia.

Tapi memang hidup tidak selamanya harus masuk akal. Apa yang dia katakan mempunyai makna jauh lebih dalam daripada sekedar hitung-hitungan untung rugi. Keterikatan perasaaan dengan tanah air–seberapapun parah kondisinya–itu memang tidak bisa diukur dengan enak ndak enak, rugi ndak rugi.

 

“Enak di Singapore,” kata seorang mantan mahasiswa. “Semua lebih enak disini daripada di Indo. Tapi sayangnya aku tinggal di Indo.”

Saya tercenung.

“Tapi ndak enak ah disini,” dia melanjutkan.

“Kenapa?”

“Semua serba mahal.”

Hahaha, lha kok nggelethek tenan jawabanmu Nduk?

Hahaha . . .

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tagged:
Posted in: Uncategorized