Ngetop

Posted on December 21, 2015

0


 

Manusia adalah makhluk yang di bawah sadarnya memerlukan pengakuan dari manusia lain. Apapun yang mereka buat dan lakukan, mereka diam-diam ingin orang lain memperhatikannya. Semakin banyak yang memperhatikan, semakin mereka bersuka cita. Maka, ketika era media sosial maya meledak dengan hadirnya Facebook, manusia pun seakan menemukan oase untuk menyegarkan kehausannya yang tiada tara: menjadi ngetop. Kita lebih baik mengakui saja bahwa semakin banyak “like” yang ditaruh oleh orang lain di posting atau gambar kita di sosmed, semakin kita merasa senang. Semakin banyak yang menjadi pengikut kita di twitter, semakin pula kita senang, apalagi kalau sampai tweet kita di retweet atau bahkan dijadikan favorit. Semakin banyak yang mengakui eksistensi kita atau prestasi kita, semakin kita merasa ngetop.

 

Namun ada suatu masa di mana keinginan untuk ngetop itu memudar, bahkan hilang. Keinginan untuk tetap eksis di dunia maya tetap ada, namun keinginan untuk ngetop sudah dipersetankan. Mau di like atau tidak, mau dibaca atau tidak, kita akan tetap menaruh sesuatu di sosmed kita.

 

Sedikit banyak ini terjadi pada saya sendiri. Saya suka twitteran. Salah satu twitter saya adalah @inggrisanda, yang secara khusus menyebarluaskan kosa kata bahasa Inggris, sedikit tips belajar bahasa Inggris, dan kadang-kadang berita-berita sekilas dalam bahasa Inggris. Ketika saya buat tahun 2013, yang ikut setelah beberapa bulan hanya 10. Itu mengenaskan. Namun ternyata saya tidak perduli. Saya tetap saja mengetwitkan kata-kata bahasa Inggris disitu.

 

Hari ini akun @inggrisanda itu sudah tembus 900 lebih sedikit. Itu bahkan lebih banyak dari yang saya ikuti, yang hanya 800 an. Sebagian besar pengikut adalah manusia, jadi bukan tweet robot yang konon dipasang untuk mencari pengikut itu.

 

Hal yang sama terjadi dengan cerpen-cerpen saya di storial.co. Karena saya menulis semuanya dalam bahasa Inggris, tidak banyak yang membaca. Ketika ada pemilihan cerpen-cerpen terbaik oleh redaksinya, tak satupun cerpen saya terpilih. Ketika ada pemilihan cerpen paling populer, tak satupun cerpen saya terpilih. Kenapa? Ya saya endak tahu. Kenapa saya tidak mau tahu? Ya karena setengahnya saya tidak perduli.

 

Hari ini, kumpulan cerpen saya itu sudah dilanggan oleh dua orang pengikut saya disitu. Seorang dari mereka menambahkan “like” nya di cerpen yang memang saya akui paling bagus, yang bercerita tentang seorang wanita yang mengalami schizoprenia. Lalu beberapa hari kemudian seseorang berkomentar: “salut ya mau nulis dalam bahasa Inggris semua.” (asal tahu saja, di situs ini ada gejala aneh bin ajaib, yaitu banyak penulis yang memberi judul kumpulan cerpennya dalam bahasa Inggris namun ternyata isinya dalam bahasa Indonesia semua).

 

Saya mengamati bahwa cerpen-cerpen yang populer disitu semuanya dalam bahasa Indonesia, dan isinya berkisar pada dinamika orang kedungsal-dungsal karena cinta, atau misteri. Kalau saya mau ngetop, saya ya lebih baik menulis yang seperti itu. Tapi sayangnya, mau ngetop atau endak saya ternyata tidak perduli. Saya menulis yang saya suka, persetan orang mau menjadikannya favorit atau endak.

 

Ada beberapa ungkapan yang akhir-akhir ini sering saya lihat di berbagai meme. Intinya, jangan takut menjadi yang berbeda.  Jangan bangga kalau bisanya hanya mengikuti tren, tapi banggalah kalau menjadi yang tampil aneh dan unik sendiri, lalu perlahan-lahan mulai menarik perhatian banyak orang dan menjadi trendsetter tersendiri.

 

Kemarin setelah capek seharian keliling Matos mengantar belanja, saya mulai menulis lagi di storial.co tersebut. Ada 3 cerpen yang saya terbitkan dalam waktu dua hari di akhir pekan itu. Nampaknya ketiganya sedang makin menuai banyak pembaca. Apa judulnya? Dan mana linknya? Ya, kalau saya berikan linknya disini, pasti saya akan merintis jalan lebih cepat menuju kengetopan.

 

Namun sayangnya saya tidak perduli. Jadi kalau penasaran mau baca ya silakan cari sendiri.

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted in: Uncategorized