Mencintai Sesama, Kenapa?

Posted on December 12, 2015

0


 

“Cintailah sesamamu seperti engkau mencintai dirimu sendiri”.

Demikian pernah disabdakan oleh Nabi suatu agama. Keyakinan yang menyejukkan ini juga ditemukan di berbagai agama yang lain, mungkin dengan versi pengungkapan yang sedikit berbeda. Intinya sama: karena kita adalah satu saudara, maka sudah selayaknya kita saling mengasihi.

 

Tapi harus diakui bahwa sulit sekali mencerna fakta bahwa kita adalah satu, bahwa kamu yang sedang membaca blog ini tak lain tak bukan adalah saya yang sedang menulis blog ini, dan juga sama dengan mereka yang mungkin juga sedang membaca blog ini atau melakukan kegiatan lain. Sulit, sulit sekali bagi kita menelan kenyataan itu.

 

Ego kita lah yang membuat ilusi bahwa kita itu terpisah-pisah menjdi individu-individu yang mungkin bahkan tak saling kenal atau tak mau saling mengenal. Ilusi! Iya, ilusi. Beberapa orang yang sudah bisa melampaui cara pikir jauuuh melebihi batasan badan dan ego akan sampai pada kesimpulan bahwa keterpisahan antar individu itu sebenarnya ilusi, karena yang ada ya hanya satu Sumber itu.

 

Mungkin sedikit analogi dengan cermin akan bisa membuat hal ini lebih mudah dipahami. Sekalipun tidak sama persis, namun bolehlah analogi bercermin ini kita pertimbangkan:

 

Suatu ketika Anda menggosok gigi di depan cermin rias di kamar mandi atau wastafel. Ketika menyikat gigi itu, dengan ekor mata Anda melihat ada seorang lain di depan Anda. Siapa itu? Ya, itu bayangan Anda sendiri! Sekilas Anda merasa (berilusi) bahwa ada orang lain di dekat Anda yang juga sedang menggosok gigi, padahal itu ya Anda sendiri. Jadi seolah-olah ada dua orang sedang menyikat gigi, padahal kenyataannya ya hanya satu.

 

Saya pernah masuk ke sebuah toko mebel. Tengah asyik mengamati sebuah model sofa di sebuah ruangan, saya kaget karena mendadak ada seseorang di depan saya. Wah, siapa nih orang? Ada pria berwajah ganteng dan bertampang pinter di depan saya. E alah, sedetik kemudian baru saya sadar bahwa itu adalah bayangan saya sendiri di sebuah cermin yang tadi tidak saya lihat ketika masuk.

 

Kembali ke Anda yang sedang menggosok gigi tadi. Coba letakkan sebuah cermin  lain  di belakang kepala Anda, dus di depan cermin yang tadi. Apa yang Anda lihat? Mendadak bayangan Anda itu menjadi makin banyak berlipat-lipat sampai tak terhingga! Bayangannya berjumlah tak terhingga, dus menciptakan ilusi bahwa ada buanyaak sekali orang di kamar itu, padahal kenyataannya ya hanya satu orang, yaitu Anda sendiri disitu!

 

 

Seperti itulah para ahli kosmologi  dan para spiritualis menggambarkan kesadaran bahwa kita sebenarnya adalah perwujudan atau manifestasi dari SATU sumber hidup yang sama. Satu sumber itu kemudian meledak luar biasa dahsyatnya menjadi trilyunan kepingan benda: planet, matahari, bintang,  galaksi, debu, gas, hewan, tumbuhan, bakteri, manusia . . . . buanyaaak sekali, tak terhingga, tak terbayangkan jumlahnya.

 

Sumber itu disebut sebagai yang Maha Kuasa. Banyak pula yang menyebutnya Kesadaran. Para spiritualis dan ilmuwan menyepakati bahwa apa yang dinamakan Big Bang (dentuman besar yang memulai alam semesta) sebenarnya bukan ledakan secara fisik seperti sebuah bom, namun sebagai letupan sang Kesadaran untuk menjadi berbagai hal dalam ruang dan waktu. Letupan bayangan atau tindak mewujud menjadi berbagai rupa itu menciptakan ruang dan waktu, bukan berada di dalamnya. Sepermilyar  dan bahkan sepertrilyun detik setelah “ledakan” itu materi alam semesta ini menjauh sampai trilyunan kilometer jauhnya dari pusat ledakan, dan terus, teruus, teruuusss menjauh, mengembang dalam hitungan jarak yang sudah luar biasa jauhnya sampai selamanya. Jadi itu bukan ledakan seperti bom; itu adalah kegiatan menciptakan dalam kesadaran, sama seperti kalau kita mendadak membayangkan pizza. Mak jeder langsung begitu saja tercipta di benak kita, tanpa jeda sedetikpun.

 

 

Jadi, sekarang masuk akal kenapa para bijaksana selalu mengatakan: “Kenalilah dirimu, dan kembalilah menjadi dirimu yang sejati”. Siapa itu diri yang sejati? Ya bukan Patrisius, bukan si A, si B, dan bukan Anda yang sedang membaca blog ini, atau orang lain. Diri yang sejati ya SATU SUMBER KESADARAN yang maha hadir dan maha dahsyat itu!

 

Jadi hidup ini sebenarnya ya hanya satu hidup. Ego kita yang menciptakan dan menjebak kita pada suatu ilusi  bahwa ada hidup kamu, hidup saya, hidup dia, hidup mereka, hidup kalian dan sebagainya.

 

“Identify not with your ego, because your ego is mortal. Identify yourself with Who You Are, the immortal being that lies beyond space and time.”

 

Jadi sekarang menjadi sedikit lebih mudah bagi saya untuk memahami sabda di awal tulisan ini: “Cintailah sesama manusia dan makhluk lain sama seperti engkau mencintai dirimu sendiri.”

 

 

 

 

 

 

Posted in: Uncategorized