Bahasa dan Prinsip Ekonomisnya

Posted on December 12, 2015

0


Ternyata bukan hanya bidang ekonomi yang mengenal prinsip ekonomis. Bidang bahasa pun juga mengenal prinsip ekonomis: berupaya mengujarkan kata sesingkat mungkin untuk mengutarakan suatu maksud.

Maka kita pun mengenal istilah-istilah baru yang kalau ditelusuri tak lain tak bukan adalah pemendekan dua kata. Contoh berikut ini memperjelas maksud saya ini:

Baper = TerBAwa PERasaan.
Curhat = CURahan HAti
Curcol = CURahan hati COLongan.

Tentunya masih banyak lagi yang seperti itu. Bisakah Anda menambahnya?

Bahkan di bidang sintaksis (kalimat) pun terjadi penerapan prinsip ekonomis. Ambil contoh kata “text” yang bermakna “pesan singkat lewat ponsel”. Aslinya, itu adalah kata benda, namun manusia akhirnya menjadikannya kata kerja, misalnya dalam kalimat “He is texting his lover”. Di kalimat itu kata “text” menjadi kata kerja. Bahkan dalam bahasa Indonesia pun kita sudah tidak asing lagi dengan bentukan “mutant” itu: “nanti saya sms kamu ya.”. Kata “sms” yang semula adalah kata benda (sms = short message service) bisa dengan seketika menjadi kata kerja di kalimat tersebut. Jelas terjadi penerapan prinsip ekonomis disini karena bentukan aslinya dengan tetap mempertahankan kata benda memang jauh lebih panjang: “He is sending a text message to his lover”, dan “nanti saya kirim sms ke kamu ya”.

Bahasa memang seperti makhluk hidup. Dia bisa tumbuh dan berubah. Ada gejala kebahasaan yang namanya perubahan bahasa. Yang berubah bukan hanya pola kalimat saja, namun juga makna kata (semantik).

Suatu kata bisa mengalami beberapa jenis perubahan makna. Yang pertama adalah “amelioratif”, yaitu perubahan dari makna jelek menjadi makna yang lebih bagus. Kata “wicked”, misalnya, semula bermakna “jahat”; namun di kalangan generasi muda, makna itu sedang berangsur-angsur bergeser menjadi “hebat”.

Satu kata lagi yaitu “badass”. Ini mungkin dari dua kata yang jelek sekali: “bad” dan “ass”. Makna aslinya pasti jelek, namun sekarang ini makna dari kata tersebut bisa berupa “hebat”; “luar biasa”, “jagoan”. Ada makna nekad, sedikit gila, tapi mengagumkan. Jadi kalau ada seorang pembalap nekad nan hebat seperti Vettel atau Alonso, orang akan menjulukinya “badass”. Misalnya “Alonso is such a badass; he drives his Ferrari like crazy through that difficult corner”.

Jenis kedua adalah perluasan makna. Suatu kata bisa mengalami makna tambahan yang bahkan bisa berbeda jauh dari makna aslinya. Ini banyak terjadi di dunia komputer. Kata “cookies” di tahun 1950 an pastilah bermakna “kue-kue”, namun sekarang ini di era 2015, “cookies” juga bermakna “rekaman situs yang sudah pernah dikunjungi di sebuah komputer terhubung Internet”.
Kata “protocol” duluuuu sekali bermakna “aturan; tata cara; prosedur”. Namun sekarang kata itu bermakna “kode yang digunakan oleh dua perangkat komputer untuk saling berkomunikasi”.

Masih banyak lagi kata seperti ini. “Tablet” yang dulunya adalah pil sekarang ini bisa bermakna “gadget seperti iPad atau Samsung”.

Menarik!
P.S. Ini adalah posting dari bidang saya. Saya sudah banyak merambah dunia lain, yaitu astrofisika dan spiritualitas. Agak gamang juga melakukannya karena kan saya hanya tahu sedikit sekali. Nah, untuk mengimbanginya, saya nulis juga sesuatu dari bidang yang sudah lama saya tekuni, yaitu kebahasaan.

Posted in: Uncategorized