Neraka dan Surga itu Tidak Ada

Posted on December 10, 2015

2


Seorang saudara dekat meyakini bahwa setelah kita mati, maka Tuhan akan mengadili kita dan kalau ternyata kita sarat dengan dosa, maka kita akan dikirim ke neraka. Sebaliknya, kalau kita adalah orang baik semasa hidup, maka kita akan diijinkan masuk surga.

Apa surga itu? Nah, menurut dia, surga adalah suatu tempat dimana tidak akan ada lagi kejahatan, kelaparan, penyakit, iri hati, dengki, cemburu, dendam, dan segala hal yang menyebabkan penderitaan. Surga, menurutnya, adalah tempat dimana kita akan mengalami yang baik-baik saja. Kita akan dihibur, dikenyangkan, dibuat tertawa-tawa, penuh kedamaian, dan sebagainya wis talah pokoke sing enak-enak itu.

 

Saya pikir, dia sedang berkhayal. Kenapa? Karena mustahil ada alam seperti itu. Tidak lah mungkin di alam ini, atau di dimensi manapun, ada tempat yang isinya baik semua. Orang Inggris bilang: “That kind of world is simply not sustainable. Impossible to exist”.

 

Kenapa tidak mungkin ada ? Ya karena memang mana ada hal yang BAIK  tanpa ada hal yang TIDAK BAIK yang menyertainya? Kita semua tahu dan pernah mengalami hal BAIK karena kita tahu dan pernah mengalami semua hal yang TIDAK BAIK. Kita tahu dan mengalami konsep KENYANG karena kita juga pernah mengalami konsep TIDAK KENYANG atau lapar; kita tahu apa itu CINTA karena kita pernah mengalami bahkan melakukan yang disebut BENCI; kita  tahu apa itu MULIA karena kita tahu dan mengalami apa yang disebut BEJAT, dan sebagainya dan sebagainya. Jadi, bukankah semua konsep itu ada atau eksis karena ada konsep lawan katanya? Apakah mungkin kita hidup di dunia yang hanya mengenal satu konsep saja? Tidak mungkin.

 

Jadi, bayangan tentang surga yang isinya hanya hal-hal baik saja itu sudah jelas adalah gombal gambul, setidaknya buat saya.

 

Lalu apakah konsep neraka itu menurut saudara saya tadi? Neraka adalah tempat dimana Tuhan membiarkan setan menyiksa manusia yang dulunya jahat. “Lidahnya akan diethet-ethet” demikian dia bilang dengan sangat bersemangat. Sampai kapan ngethet-ethetnya? “Ya, selama-lamanya”, demikian dia menjawab.

 

Astagafirullah . . . . ini pula jelas-jelas membuat saya terbahak-bahak karena konyolnya. Ini sangat menggelikan karena  pada saat yang sama saudara saya tadi meyakini bahwa Tuhan adalah maha pengampun dan maha penyayang. MAHA. Sekali lagi saya tulis: MAHA. Lalu, pertanyaan saya, Tuhan jenis apa yang katanya MAHA pengampun dan penyayang membiarkan ciptaanNya diethet-ethet setan di neraka selama-lamanya? Tuhan macam apa pula itu??

 

Yang jelas Dia adalah Tuhan tidak berperikesetanan karena tega membiarkan setan menyiksa jiwa manusia selama-lamanya. Biyuuuh, kasihan sekali setannya kan? Kan masih banyak kerjaan lebih berguna yang bisa dia lakukan daripada mengethet-ethet lidah manusia selama-lamanya? Eh, jadi anggota DPR Indonesia kek, jadi koruptor kek, atau jadi Lady Gaga, kan masih jauh lebih berguna daripada di neraka menyiksa jiwa? Bwa hahahahaha!

 

Tapi memang itulah orang beragama. Penuh dengan kontradiksi. Mereka meyakini bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan kehendak bebas. BEBAS. Tapi kemudian mereka mengatakan: “kamu harus patuh sama Tuhan, kalau tidak kamu masuk neraka”. Lho, lha katanya diberi kehendak BEBAS? Kenapa ujung-ujungnya diancam masuk neraka?? Aneh kan? Mereka masih mencoba mendebat” Ya, memang sih diberi kehendak bebas, tapi  bla bla bla …”. Lho, ini yak apa tho?? Wong sudah diberi kehendak bebas kok masih ada “tapinya”?? Bukannya Tuhan itu mutlak ya? Apakah Tuhan itu sebangsa provider kartu ponsel atau bank yang dengan lantang menawarkan berbagai diskon dan paket gratis namun di bawahnya ada tulisan kecil-kecil “Syarat dan ketentuan berlaku”?

Ndak habis pikir saya. Tuhan yang katanya absolut itu kok ternyata masih dibatasi dengan “tetapi”.

 

Ya, itu membawa saya pada satu kecurigaan lain tentang agama. Nampaknya memang orang beragama gemar sekali menakut-nakuti manusia lain akan murka Tuhan, siksa neraka dan sebagainya yang seram-seram supaya manusia patuh. Tuhan digambarkan sebagai sosok maha tahu dan maha mengamati yang tekun mencatat semua perbuatan manusia di dunia sehingga bisa memberinya ganjaran surga atau neraka ketika mereka sudah mati nanti.  Jadi orang-orang memutuskan untuk beragama karena sejatinya mereka itu TAKUT sama Tuhan. Saya menyebut hal ini sebagai “fear-based faith”, yaitu keyakinan yang didasarkan pada rasa takut. Aneh, aneh sekali, dan kejam pula. Mengapa hidup  dengan jiwa yang sejatinya maha bebas meraup segala pengalaman  dengan penuh suka cita ini menjadi dikungkung oleh ketakutan? Anda suka memeluk agama dengan berpijak pada rasa takut? Kalau iya, o ya wis emang buthek nasibmu, hahaha.

 

Kembali ke surga dan neraka. Jadi, kesimpulannya, konsep surga dan neraka itu aneh, setidaknya dari sudut pandang saya. Lalu apa sih konsep surga dan neraka itu menurut saya sendiri?

 

Neraka adalah keterpisahan dari makhluk dan ciptaan lain. Ketika Anda mengangkat kitab suci Anda dan dengan geram mengatakan kepada orang lain: “Kamu tidak membaca kitab ini! Kamu berdosa, sesat!”, maka pada saat itulah Anda masuk ke neraka. Neraka itu dimulai dengan penghakiman terhadap yang lain, merasa diri sudah benar dan sempurna, sehingga memisahkan diri dari makhluk lain yang nota bene juga adalah ciptaanNya. Jadi endak usah menunggu mati untuk tahu neraka itu apa. Begitu Anda memeluk satu agama dan memisahkan diri dari yang lain yang tidak seiman dengan Anda, lalu ditambah dengan penghakiman dan  kebencian terhadap mereka, itu sebenarnya sudah neraka kok.

Lalu apa itu surga?

Surga adalah keterpisahan diri dari ego, badan, dan pikiran yang serba gelisah dan cepat busuk itu, kembali menjadi kesadaran tak berbatas waktu dan tempat. Surga bukan tempat. Surga itu  adalah kebebasan, keterlepasan dari keinginan daging dan resahnya pikiran, bebas lepas, tidak menghakimi, tidak marah, tidak sedih, tidak pula gembira. Surga adalah kembali ke nol. Kembali ke kehampaan.

 

Nirvana.

 

Catatan:

mengethet-ethet = memotong-motong; menyayat-nyayat

buthek = keruh; buthek nasibmu = emang nasibmu jelek.

Posted in: Uncategorized