Kekosongan

Posted on December 9, 2015

2


 

Ada sebuah kamar. Jendelanya besar, menghadapkan penghuninya pada pemandangan sebuah kolam ikan dengan gemericik air terjun kecil dari sebuah tebing buatan. Sebuah ranjang empuk bersprei putih nan empuk memenuhi hampir semua ruangan. Sebuah meja kecil dari kayu terletak di sebelahnya. Panel kayu yang menjadi dindingnya diterangi oleh sebuah lampu kuning yang menyinarkan cahaya teduh sebuah lukisan abstrak di bawahnya.

Pertanyaannya: apa yang membuat kamar itu menjadi kelihatan bagus, indah, dan nyaman menyenangkan?

Cahaya dari luar!

Bukan, bukan itu.

Lukisan abstrak yang menjadi aksen di dinding coklat itu!

Bukan, . . . . well, yah, lukisan memang indah, namun bukan itu yang membuat kamar itu menjadi indah.

Perabotnya yang modern dan futuristik!

Bukan, bukan itu pula.

Catnya!

Bukaan, bukan itu juga.

Lhaa terus apaaaa? Apa yang membuat kamar itu menjadi indah?

 

Jawabnya: kekosongan yang ada di dalamnya.

 

Whaaat?? Apaa kau bilang?? Kekosongan??

 

Ya, kekosongan. Kehampaan ruangan itulah yang pertama-tama memungkinkan semua yang tadi disebut itu ada di dalamnya. Coba kalau kamar itu tadinya tidak kosong, penuh dengan barang, kardus dan lain sebagainya bertumpuk-tumpuk. Apakah bisa lukisan, panel dinding, lampu, dan jendela itu berada disana? Tidak mungkin, bukan?

 

Hmm, ya iya juga ya, demikian kita menggumam sambil menyadarinya.

 

Lihatlah sebuah mangkok. Mangkok itu menjadi berguna karena ada ruang kosong di tengahnya. Coba mangkok itu tidak berongga di tengahnya. Mana mungkin kita bisa menaruh es krim atau puding disitu?

 

Perahu demikian pula. Kalau tidak ada rongga kosong di tengahnya, tidak mungkin perahu itu bisa mengapung di air.

 

Kekosongan. Kehampaan. Itulah yang pada awalnya menjadikan semuanya ini ada dan menjadi indah.

 

Ilustrasi di atas saya peroleh dari ceramah para spiritualis. Mereka selalu begitu: pintar sekali menunjukkan hal-hal yang kita anggap sepele dalam kehidupan sehari-hari namun ternyata menyimpan makna sakral sangat dalam di baliknya.

 

Jadi alam semesta ini pada awalnya adalah kekosongan, kehampaan. Yang ada hanya Sang Energi murni. Dari kehampaan itulah lahir semuanya. It is the nothingness that holds everything, demikian mereka mengatakannya.

 

Dalam kepercayaan tertentu, kehampaan itu disebut Nirvana. Nirvana artinya suatu alam tanpa apa pun, kosong, hampa. Karena kosong dan hampa, maka dia tidak lagi ribet dan kemrungsung dengan pikiran dan ego. Karena pikiran dan ego tidak ada, maka yang namanya penghakiman, kekawatiran, penyesalan, dan kecemasan tidak ada lagi disitu.

 

Itu surga dalam arti sebenar-benarnya.

 

Posted in: Uncategorized