Doktor Mblebes

Posted on December 4, 2015

0


Sejak beberapa bulan terakhir saya dibuat terpana oleh beberapa cerita dari teman-teman tentang kualitas lulusan jaman sekarang. Seorang mantan teman sekelas saya jaman kuliah S1 menyatakan keprihatinannya ketika menjumpai lulusan S1 Bahasa Inggris dengan IPK 3.8 ternyata ngomongnya mengandung banyak kesalahan grammar. “Lha IPK 3.8 kok kayak gini ngomongnya? Grammarnya ancur!”

 

Seorang rekan yang berprofesi sebagai dokter juga menyatakan keprihatinan yang sama: “dokter lulusan jaman sekarang akan beda kualitasnya dengan lulusan 20 – 30 tahun lalu,” kata dia.  “Sekarang ini kelasnya massal, buanyak, belum lagi kalau masuknya karena duitnya banyak dan bukan semata-mata prestasi awalnya yang sudah bagus.”

Ternyata gejala menurunnya kualitas lulusan yang sudah pernah saya tulis dalam posting sekitar 2 tahun yang lalu masih bergaung, dan makin keras. Makin banyak kalangan mencurigai nilai kuliah sekarang makin murah. Akibatnya, lulusan dengan IPK tinggi belum tentu juga menunjukkan kinerja yang mengagumkan.

Apakah ini gejala yang disebabkan makin dangkalnya kebiasaan membaca mendalam dan berpikir karena semuanya sudah disajikan oleh gadget? Ya bisa jadi. Lulusan tahun 1970 an – 1990 an masih banyak membaca, banyak berpikir mendalam, sehingga kualitas pemikirannya pun bermutu.

 

Saya juga tidak lagi berbinar-binar kalau ada unit atau lembaga yang mengklaim bahwa staf pengajarnya sudah lulus S3. “Wah, dosen kita sudah Doktor semua”. “Yo, terus opo’ooo??” demikian saya akan bertanya.

 

Apa iya kalau sudah jadi Doktor lalu produktif menulis dan meneliti? Endak juga. Kalau mau melihat apakah seorang Doktor itu rajin meneliti dan menulis, lihatlah rekam jejaknya sejak dia masih S1. Kalau sejak itu dia sudah rajin menulis, bisa dipastikan setelah jadi Doktor pun tetap rajin menulis dan meneliti. Kalau endak, berani taruhan dia hanya nulis ketika masih kuliah S3; setelah itu dia akan jadi pejabat struktural atau apalah dan rekam jejak papernya pun mendekati nol. Kalaupun nulis ya hanya sekelas prosiding seminar. Yo akeh ae lek ngunu. Doktor tuh seharusnya sudah  menulis di jurnal, bukan cuma sekedar prosiding seminar.

 

Indikator lain: ketik namanya di google scholar. Kalau tidak ada, berarti dia hanya Doktor mblebes, alias tidak menunjukkan kinerja yang mencorong dan hanya mengesankan asesor akreditasi yang melihat jumlah Doktornya sudah banyak.

 

 

 

 

Posted in: Uncategorized