Spiritualitas vs Religius

Posted on December 1, 2015

0


Saya banyak menemukan ungkapan-ungkapan pendek yang sangat dalam dari beberapa sumber spiritualitas.

Salah satunya adalah ini: “being spiritual means accepting and understanding whatever happens in the material world”.

Ini pendek namun luar biasa dahsyat. Kenapa luar biasa? Ya karena sulitnya. Coba, ayo kita coba, sehari saja kita melakukan hal seperti itu: menerima  dan memahami semua yang sedang terjadi di dunia fana ini.

Bisa?

Saya angkat tangan. Menyerah. Luar biasa sulitnya.  Jangankan sehari, semenit sajapun sulit melakukannya, apalagi kalau kita sedang melihat Facebook, atau membaca koran pagi, mengikuti berita dunia, atau berada di kemacetan lalu lintas, atau berada di suatu forum rapat dengan  atasan yang menyebalkan. Menerima apa adanya? Blaah! Yang kebanyakan saya–dan kita–lakukan pastilah tidak jauh dari mengutuk, menghakimi, merasa gundah, merasa takut, dan semua energi negatif lainnya.

Tapi menjadi spiritual ya begitu itu. “Say yes to the present moment. Dont resist” kata salah seorang dari spiritualis itu.

Yang kedua adalah ini:

“Menjadi spiritual artinya melepaskan diri dari ego, tubuh, dan pikiran.”

Seorang guru, namanya Sadhguru, ketika muda pernah merasa gemblung karena dalam perjalanannya ke gunung-gunung, mendadak dia  merasa dia adalah semua yang dilihat dan didengarnya. Mendadak dia merasa bahwa tumbuhan, hewan-hewan, bahkan batu di sekitarnya adalah dia sendiri. Itu momen epiphany buat dia. Sejak saat itu dia menjadi makin sadar akan kekuatan spiritualnya, kekuatan yang justru meledak ketika dia sudah melampaui  batasan ego dan tubuhnya sendiri.

 

Yang ketiga adalah ini:

“You dont have a life. It’s not about your life, his life, her life, their lives, or our lives, because there is only One Life.”

Hanya kesadaran terdalam yang jauh melampaui ego dan pikiran akan bisa memahami ungkapan di atas. Kalau tidak, maka yang timbul adalah kebingungan atau mungkin ungkapan “kamu ngomong apaan sih??!”.

 

Kenapa menjadi religius bukan sesuatu yang saya pilih? Ya karena pada saat saya mengidentifikasikan diri dengan sebuah agama, maka pada saat itu saya melakukan pembatasan-pembatasan dan keterpisahan dari makhluk lain: “saya Katolik, maka saya menyembah Yesus. Kamu bukan Katolik, maka kamu menyembah yang lain. Saya baca Kitab Suci, kamu endak. Saya ke gereja, kamu ndak tahu kemana yang jelas bukan gereja. Saya menerima komuni, kamu endak.” Itu masih mending; lama-kelamaan kalau diterus-teruskan akan menjadi seperti ini:

“Saya Katolik, maka jalan keselamatan bagi saya adalah Yesus. Kamu  bukan Katolik, jadi kamu ndak akan selamat karena ndak ikut Yesus. Saya baca Kitab Suci, kamu endak. Karena itu, kamu kelak kalau mati ke neraka, dan saya masuk surga.”

 

Ya, okelah kalau keberatan dengan Katolik. Gini aja, coba gantikan kata “Katolik” itu dengan nama salah satu agama, nanti kan intinya sama aja: Anda akan memisahkan diri dari yang lain, dan beranggapan bahwa Anda ke surga, yang lain akan masuk neraka atau setidaknya menjadi kafir.

Itu sangat berlawanan dengan spiritualitas karena pada intinya, spiritualitas meyakini bahwa kita semua adalah SATU HIDUP, dan oleh karenanya mau gimanapun ya tetap akan bersumber dan kembali pada SATU HIDUP itu. Titik. No ifs, no buts.

 

Itu salah satu sebab mengapa saya sudah malas pol dengan agama. Karena kesadaran itu munculnya jauuuh lebih awal daripada agama, maka menjadi religius tidak akan bisa menjawab pertanyaan sederhana ini: “kalau benar agama itu membawa orang pada surga, lalu kemana perginya orang-orang yang lahir dan ada sebelum agama itu dicanangkan? Masak mau ke neraka semua?”

 

Mikiiir . . .!

 

 

 

 

 

 

Posted in: Uncategorized