Kelas Vocabulary

Posted on December 1, 2015

0


Setelah 5 tahun  mengajar kelas Vocabulary, saya baru menemukan momen perenungan. Intinya, di kelas Vocabulary yang saya ajar, mahasiswa-mahasiswa saya ajar  570 Academic English Words. Ini saya anggap penting karena Academic Words adalah kata-kata yang paling sering muncul di berbagai teks akademik dari berbagai bidang ilmu. Jadi ndak perduli bidangnya Akuntansi, atau Sejarah, atau Pendidikan, atau Kimia Organik, kata-kata ini akan sering digunakan dan oleh karena itu perlu saya ajarkan.

Hal kedua yang saya sadari adalah bahwa penguasaan kata tidak melulu secara reseptif. Mahasiswa perlu dilatih untuk menggunakan kata-kata tersebut di ujaran atau kalimatnya. Maka, sebagian dari sesi di kelas Vocabulary saya adalah menulis esai atau kalimat-kalimat yang memuat kata-kata akademik tersebut.

 

Hal ketiga muncul secara agak menggelikan. Karena “dipaksa” menggunakan kata-kata akademis, karangan yang mereka buat memang penuh dengan kata akademis namun masih mengandung kesalahan-kesalahan kolokasi. Apa itu kolokasi? Kolokasi adalah sepasang kata atau frasa yang ibaratnya orang pacaran sudah sehidup semati, jadi kemana-mana selalu berdua. Kata “make” misalnya, berkolokasi dengan kata “a cup of coffee”, tapi tidak dengan kata “suffering”. Jadi akan lucu kalau ada mahasiswa yang menulis “I make suffering for her”. Nah, kesalahan-kesalahan kolokasi ini membuat saya sadar bahwa selain menguasai kata-kata akademis, mereka juga perlu dilatih menggunakan kolokasi yang pas.

 

Maka saya tugaskan mereka banyak membaca, dan menaruh bacaan yang mereka suka ke situs katamachungers.wordpress.com. Disitu mereka bisa membaca banyak teks-teks asli buatan penutur asli Inggris. Dengan banyak membaca, mereka terpaparkan pada banyak kolokasi yang benar. Memang, pengajaran vocabulary itu tidak melulu pengajaran yang formal dan “sadar”, karena ternyata manusia menyerap kosa kata baru secara “tidak sadar”, yaitu ketika membaca bacaan berbahasa Inggris dan mendengarkan orang-orang berbicara bahasa Inggris. Soalnya saya dulu juga begitu. Kelas 5 SD sudah membaca Newsweek yang dilanggan ayah saya, dan sebagai akibatnya ketika SMP saya sudah tahu banyak sekali kata yang kadang-kadang guru saya pun belum tahu, hahaha.

 

Minggu kemarin saya tugaskan mereka membuat esai berupa cerita pendek atau artikel tentang hobi mereka. Satu mahasiswa pria sudah menyerahkan hasilnya. Wah, bagus. Rupanya dia terinspirasi cerpen saya di storial.co yang judulnya “Where is the Lovely Randy” itu. Yah, tidak mengapa; saya suka kalau bisa menginspirasi mahasiswa saya.

 

 

 

Posted in: Uncategorized