Wanita dan Make Up

Posted on November 30, 2015

0


Sejak kapan wanita suka bermake up?

Salah pertanyaan. Harusnya: sejak kapan wanita harus bermake up?

Di dunia patriarkhis seperti yang kita tempati sekarang, adalah lumrah bahwa wanita harus tunduk pada selera pria. Kasarnya, apa yang di mata pria dianggap sebagai cantik dan baik, ya itu lah yang harus dikenakan atau dilakukan oleh pria. Kaum feminis boleh teriak-teriak memprotes sampai njungkel gulung koming, tapi ya memang faktanya seperti itu. Ini adalah dunia yang didefenisikan oleh para pria, khususnya dalam hal yang menyangkut kecantikan dan kemolekan.

Wanita harus ber make up. Kenapa? Ya endak tahu juga, yang jelas make up membuat wanita kelihatan lebih cantik. Okelah, kalau demikian, mengapa pria tidak diharuskan bermake up? Bukankah make up akan membuat pria  jadi lebih  tampan? Okelah, ayo dicoba. Ternyata setelah di make up, para pria jadi kelihatan kayak bencong ga karu-karuan. Ya sudahlah, jadi dunia pun sepakat bahwa  make up hanya untuk wanita, dan itu wajib  hukumnya.

 

Tapi lama-lama terasa bahwa para wanita membawa keharusan ini menjadi sesuatu yang agak berlebayan (baca: “berlebihan”).  Make up menjadi satu ujung tombak tersendiri dalam industri kecantikan. Beberapa wanita pun tampil hampir setiap hari dengan make up tebal. Beberapa lulusan kampus tempat saya bekerja, setelah susah payah menyelesaikan ilmunya yang serba agung dan tinggi itu, setelah lulus nggelethek ae menjadi ahli make up. Saya katakan “nggelethek” karena make up adalah dangkal; kedalamannya hanya sekitar beberapa mili di atas kulit. Lebih jauh lagi: make up itu menutupi sesuatu yang asli dan alamiah . Apapun yang menutupi sesuatu yang asli dan alamiah adalah kurang luhur di mata saya.

Lha kalau setelah lulus hanya menjadi ahli make up, sebenarnya dulu ndak usah kuliah ya tho. Buat apa mempelajari filsafat ilmu, bahasa asing, Pancasila, statistik,  dan sebagainya kalau setelah lulus hanya memulaskan make up pada wajah orang lain? Saya ndak bilang bahwa make up itu hina, tapi eman-eman aja ilmu segitu tinggi dan luhurnya setelah lulus ndak dipakai dan malah asyik bermain-main di pedangkalan, hahaha🙂

 

Hmm, tapi setelah saya lihat, ya harus saya akui bahwa wanita ber make up memang cantik. Bukan, bukan cantik, tapi cantiiiiiiiik, soalnya memang mata yang kelihatan lebih lebar, bibir yang kelihatan lebih penuh dan merekah merah, dan kulit wajah yang kelihatan jauh lebih mulus itu memang cantiknya super sih. Karena saya pria heteroseksual sejati, saya pun tak malu-malu mengakui bahwa make up memang membuat wanita kelihatan cantik.

 

Tapi tetap saja itu adalah palsu. Suatu ketika saya dengan mimik kurang senang menatap wajah seorang wanita yang tumben bermake up. “Kamu kok pake make up??” tanya saya. “Itu kenapa mata dihitam2in dan ada eyeliner segala?”

 

“Ya gak papa tho?” wanita itu menjawab. “Haddduh, suami-suami teman-temanku lho malah senang kalau istrinya bermake up, lha kamu kok endak.”

 

“Aku ndak suka make up tebal,” kata saya kepada wanita yang tak lain adalah istri saya sendiri itu.

Saya ndak pernah melupakan pengalaman pangling dengan seorang kenalan ketika dia membukakan pintu pagar di suatu pagi ketika saya bertamu. Saya tidak menyangka bahwa itu adalah teman saya. Saya kira saudaranya atau siapalah, ternyata ya dia sendiri. Kenapa saya bisa pangling? Ya karena pagi itu dia tidak pake make up, sementara saya sehari-hari melihatnya dalam keadaan full make up di tempat kerja kami.

 

Jadi kasihan sekali para wanita yang hidup di balik kecantikan semu ini ya. Kenapa harus mengandalkan sapuan eye liner, lip gloss dan lipstik untuk menampilkan dirinya? Padahal rasa suka yang ditimbulkan dari make up itu ya hanya sedalam sapuan bedak dan berbagai alat make up itu. Wanita akan kelihatan sangat memikat bukan karena make upnya, tapi karena kualitas dirinya, pengertiannya terhadap pria, kesabaran, kesetiaan, dan ngrumatnya terhadap sang pria. Bayangkan Anda punya seorang kekasih yang cantik karena make up tapi matanya jelalatan melihat pria lain bahkan pada saat acara2 sakral seperti pemakaman. Apa ndak gilo?

Sekarang ada mode baru dalam dunia make up yaitu dengan membuat ujung mata jadi sedikit naik ke atas. Saya melihat beberapa mantan mahasiswi melakukan ini pada mata mereka. Hmm, . . . . gimana ya, mau bilang apa? Cantik? Ya endak tahu ya.

“Kamu kelihatan beda,” komentar saya tanpa tedeng aling-aling ke salah satu dari mereka. Setenagh mati dia berusaha meyakinkan bahwa itu adalah dia, tapi saya tetap ngotot bahwa dia jadi kelihatan beda.

Begitulah, wanita dan make up nampaknya sudah makin menjadi satu paket tak terpisahkan.

Omong-omong, tadi di kelas saya menyajikan cerpen saya yang terbaru. Para mahasiswa nampak tertegun ketika membacanya sampai akhir. Setelah saya beritahu bahwa saya  lah penulis cerpen itu, mereka kontan bertepuk tangan. Apa pasal?

“Aku tak mengira akhirnya demikian,” kata seseorang.

“Menarik” kata yang lain.

Mau tahu cerita apa yang membuat mereka begitu? Klik saja tautannya ke situs di bawah ini:

http://www.storial.co/book/i-want-to-be-happy/9

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted in: Uncategorized