James Bond The Spectre Taking of Pelham 123 Travolta Washington

Posted on November 12, 2015

0


Sabtu lalu saya nonton “The Spectre”, episode terbaru film James Bond. Di pertengahan film, mendadak saya “terbangun”. Bukan, bukan karena adegan panas di film tersebut (maksudnya adegan bakar2an, tembak-tembakan, bom-boman dsb), tapi karena mendadak saya sadar kenapa pada usia sangat sangat matang seperti sekarang saya sudah tidak bisa lagi mendapatkan moviegasm (orgasme yang disebabkan oleh nonton film yang sangat bagus) dari film James Bond. Semua yang kayak beginian sudah terasa tidak menggetarkan lagi. Yang makin terasa adalah getir sekaligus geli karena adegannya sudah tidak lagi masuk di akal kepala botak saya. Ya, persis kayak film-film Rambo yang saya bilang onani Amrik itu lah: lha masak lho tiap kali Bond menembak mesti lawannya langsung mampus, sementara kalau lawannya (ndak cuma satu lho) memberondong, eh, nyasaaaaar aja tuh peluru kemana-mana. Sudah gitu maksa banget sih skripnya mendesakkan adegan manuk-manukan? Masak habis mbunuh orang tinggi besar, si Bond dan gadisnya langsung bercumbu gila-gilaan di kereta api. Lho, ya tahu bahwa bercumbu itu wenaaak tapi ya mbok jangan seketika setelah setengah mati melawan penjahat laaaah! Bwa hahahaha!

Akting Daniel Craig sebagai James Bond memang menawan, tapi ya sangat terbatas dan akibatnya datar. Kan iya tuh, sangat dingin, tidak pernah ketawa, serius terus. Sebenarnya saya ya bisa lho memerankan James Bond kalau aktingnya hanya kayak gitu. Ya memang dulu pernah si ditawari casting tapi karena saya lebih cinta mengajar jadi ya jadi guru lah, ndak jadi aktor. Ngoeeekkk!

Saya tidak heran membaca jawaban Daniel Craig ketika ditanya wartawan apakah dia mau memerankan James Bond lagi: “saya lebih baik menyilet urat nadi saya sendiri daripada harus memerankan James Bond lagi”. Bwa hahahaha! Saya bisa sangat paham perasaaanya karena saya sebaya dia. Ya iyalah, dia bisa terperangkap di peran itu dan tidak bisa memerankan peran-peran lain di film lain. “Lha kenapa Anda masih mau main di Spectre?” “Ya karena duitnya.” Hahaha! Jawaban sangat terus terang yang menohok!

Nah, beberapa minggu sebelumnya saya melihat film yang sangat membuat saya moviegasm karena bagus sekali: “The Taking of Pelham 123”. Bintangnya John Travolta dan Denzel Washington. John Travolta memerankan seorang bandit yang membajak sebuah kereta subway jurusan Pelham 123, sementara Denzel menjadi pengawas jalur kereta yang karena situasi akhirnya menjadi negosiator dan perantara antara polisi dengan si bandit.

Kedua orang ini memang aktor kawakan. Luar biasa kualitas aktingnya. Si John bisa benar-benar menjadi seorang bajingan yang cerdas, kejam, dan brutal, sementara Denzel menghayati betul perannya sebagai pegawai kelas rendahan yang gugup tapi juga sabar meladeni kemarahan sang teroris. Saya heran dengan kualitas akting seperti ini mereka tidak dicalonkan sebagai pemenang Oscar. Adegan paling mengesankan adalah ketika Denzel dengan nada setengah memohon mengatakan: “sabarlah, broo! Uang tebusannya sudah ada, cumak tadi itu ada kecelakaan di–“; belum selesai dia ngomong, kamera berpindah ke wajah John yang dengan luar biasa marah mengatakan: ” I dont care!!!!!!!”

Guendeng, hebat banget akting keduanya pada momen itu. Luar biasa. Edan tenan. They are gods of the movie. Edan wis, sampai kehabisan kata saya untuk memuji mereka. Nah, kedua gambar di bawah ini mungkin bisa mewakili apa yang saya katakan:

DENZEL WASHINGTON

JOHN TRAVOLTA

Di film James Bond, adegan orang ditembak tidak menimbulkan dampak apa-apa buat saya. Tapi di “Taking of Pelham 123”, saya bisa merasa mak tlosooor ketika John tega menembak mati seorang sandera berkulit hitam. Hati seperti ikut-ikutan rontok. Gini nih film favorit saya: bisa membuat saya merasa tersengat bener oleh duka!

Lalu ada adegan lagi yang menyentuh: istrinya si Denzel minta dibelikan susu satu galon kalau suaminya nanti pulang setelah menjalankan misi menegangkan itu. Kok ya sek sempat2nya minta dibelikno susuuuuu? Haduuh, menyentuh sekali!

Nah, setelah itu adegan terus bergulir sampai akhirnya si Denzel–yang sudah diam-diam dibawakan pistol oleh para polisi–berhasil menodong si John yang mau melarikan diri. Dasar amatiran, sementara dia menodongkan pistol, tangannya gemetaran karena John menantangnya untuk menembaknya, sementara Denzelnya ndak tega dan takut menembak. Pistol John bergelantungan di pinggangnya, siap dicabut. Denzel yang gemeteran lalu menoleh ke beberapa polisi yang mengendap-endap dari jauh: “Heeeyyy! Heeyyy!” sambil wajahnya campuran antara mengancam dan ketakutan. Tawa saya langsung meledak di adegan itu. Gila, lucu sekali adegan itu bwa hahahahahahaha! Ya entah sengaja dibuat begitu atau memang ada maksud melucu, tapi yang jelas kualitas akting keduanya–satunya bandit berdarah dingin, satunya orang sipil yang gemetaran karena baru pertama kali pegang pistol–membuat suasana menjadi tegang tapi juga menggelikan sehingga saya terbahak-bahak sendirian di depan TV.

Begitulah. James Bond vs the Taking of Pelham 123. Yang satu menghibur tapi ya hanya berhenti sampai disitu, yang satunya benar-benar menghibur bur bur bur sak bur bur nya karena kualitas akting luar biasa dari John Travolta dan Denzel Washington. Film seperti the Taking of Pelham 123 itu terasa sangat memikat karena memberikan sentuhan manusiawi, wajar, dan tidak lebay. Kita seolah-olah dibawa ke dinamika hidup yang menegangkan, kadang konyol, lucu, bahkan mengharukan, dan tidak hanya sekedar merasa menjadi superhero setelah nonton film2nya James Bond.

Tagged: , ,
Posted in: Uncategorized