Rossi, ABBA, dan Cerita Pendek Saya

Posted on November 9, 2015

0


Apa hubungan antara Valentino Rossi dengan kelompok musik ABBA? Ya hubungan gelap lah. Soalnya memang jawabannya gelap, alias ndak ada hubungannya sama sekali🙂

Kemarin saya dibuat terkagum-kagum oleh Valentino Rossi dengan gaya balapnya. Dari urutan buncit (22 atau 26), dia melesat saat start untuk menyikat 8 pembalap di depannya. Lalu satu persatu lawan lainnya dilibasnya, kebanyakan di tikungan. Lepas dari sikapnya yang tidak sportif ketika menendang Marquez di balapan sebelumnya, gaya yang ditunjukkannya kemarin memang khas kaliber jawara dunia. Asal tahu saja, kalau Anda membalap, Anda harus tahu benar kapan mengerem dan dengan kecepatan berapa untuk melibas bagian tikungan yang namanya apex (puncak). Setelah itu Anda harus tancap gas….. penuh? Ndak juga. Pada banyak tikungan, kalau Anda langsung tancap gas penuh, Anda bakal nyosop masuk ke lapangan pasir. Ngegasnya itu berangsur-angsur, meningkat sedikit demi sedikit dalam jeda sepersekian detik, dan pada satu titik tertentu lalu jebret gas pol. Nah, itu semua mudah dikatakan tapi luar biasa sulit dilakukan. Hanya segelintir manusia super seperti Ayrton Senna, Schumacher, dan di dunia balap motor ya Valentino Rossi ini yang bisa melakukannya dengan sempurna.

10 lap menjelang akhir balapan, Rossi masih nomer 4, sementara 3 lawannya di depannya sudah lebih dari 10 detik. Harapan tipis. Dia pasti kalah karena selisih poin dengan Lorenzo–saingan utamanya– masih 8 poin untuk keunggulan Lorenzo. Saya pun meraih remote TV dan membunuhnya. Percuma ditonton, pasti kalahnya.

Esok harinya socmed penuh dengan puja puji untuk Rossi. Sekalipun bukan juara dunia, dia dianggap sebagai juara publik di hati banyak penggemar Moto GP. Saya tergelak-gelak sendirian melihat banyaknya meme yang bermunculan tentang topik itu. Lucu dan konyol pol!

Sebelum kerja saya sempat menulis satu cerpen baru untuk storial.co Biasa, terilhami oleh kondisi “sadar tapi tidak sedang berpikir” di waktu subuh. Ketika cerita itu sudah jadi, ketika sampai di kantor langsung saya taruh di storial.co. Saya membacanya kembali dan merasa heran kenapa cerita itu jadi begitu muram. Sudah gitu berbahasa Inggris pula. Maka tak aneh pembacanya sampai sekarang masih 0. “Yah, ora payu” kata nenek dalam bahasa Jawa. Yah, emang siapa juga yang mau jualan cerita di Internet, mbah? Ya sudahlah, saya turuti kata Pontius Pilatus: “apa yang sudah kutulis, tetap lah kutulis”.

Lagunya ABBA yang “The Visitors” dan “Soldier” sedang menemani saya di mood yang seperti hari ini. Di luar mendung dan gerimis. Saya sudah hampir mlukek sedari tadi membaca ulang naskah artikel saya untuk jurnal ilmiah. Sudahlah, mau diapakan juga ya akan tetap begitu. Jadi saya memilih untuk menyegarkan otak dengan mendengarkan ABBA dan menikmati suasana mendung bulan November.

Posted in: Uncategorized