Hobby yang Mulia

Posted on November 6, 2015

0


Hobi saya tidak menarik blas.

Eh, mbok ya kalau punya hobi itu adalah yang bisa dilihat orang lain, membuat mereka terhibur, ketawa, atau merenung. Itu namanya hobby yang mulia. Banyak lah rekan-rekan dosen yang punya hobby mulia kayak gitu. Ada yang suka main musik, menyanyi, memotret, bikin rajutan, melukis, banyak wes. Mulia kan. Bisa dilihat orang lain dan membuat mereka “wow! bagusnyaaaa!”

Lha hobby saya? Caturan online. Pehhh!! Siapa juga yang perduli saya mau menang atau kalah? Mau menang seribu kali dalam sehari pun ndak ada orang tertarik. Mau kalah seribu kali pun emang ada orang peduli? Keindahan taktik catur hanya bisa saya rasakan sendiri, dan itu membuat saya kadang-kadang sebal karena ini berarti hobby saya tidak mulia.

Saya pernah merenung dalam untuk bertanya kepada alam mengapa hobby saya kayak begini. Jawaban alam: “teruskan! Jiwamu suka, dan otakmu juga suka hobby caturan itu karena itu bagus untuk asupan kognitif mereka.” Yah, saya bisa paham. Hobby kan titik acunya pada kesenangan diri, bukan semata-mata karena ingin dilihat dan diakui orang lain? Jadi ada benarnya juga jawaban itu. Dan itu lah yang menjelaskan mengapa setiap pagi kalau saya datang sebelum jam 8 maka yang pertama kali saya gumuli adalah catur online. Perasaan saya mengatakan: “Iki hobi opooooo iki???”. Otak dan jiwa saya mengatakan: “Aseeekkk! Serbuuu!”

Akhirnya kegalauan saya membawa saya pada satu hal yang dulu pernah saya lakukan dengan asyik (bahkan sampai sekarang): menulis. Saya dikaruniai bakat menulis oleh alam. Saya menulis cerpen sudah sejak kelas 4 SD (dimuat di harian Kompas dan majalah Kuncung). Sekarang pun saya menulis dengan mode waras kalau di jurnal, atau Academia.edu atau Researchgate.net, dan mode gemblung di blog Machungaiwo.

Saya menemukan satu situs di storial.co yang menampung banyak tulisan-tulisan berbagai genre mulai dari roman fiksi sampai spiritualisme. Situs ini memberi saya platform untuk menerbitkan tulisan fiksi saya. Maka saya pun bergabung dan menerbitkan dua buku dan satu cerpen disitu. Bukunya dalam bahasa Inggris, sementara cerpennya dalam bahasa Indonesia. Ceritanya apa? Ya bacaen dewek, mosok aku suruh menjelaskan ceritaku disini??

Masuk ke storial.co dan cari “Patrisius Djiwandono” atau “p4tris” di kolom searchnya, dan Anda bisa membaca karya saya. Terima kasih sudah membaca, dan akan berterima kasih lagi kalau mau memberikan rating atau komentar. Sebenarnya satu komentar sudah diberikan secara lisan oleh mantan mahasiswi saya: “Yang cerita bahasa Inggris bagus, soalnya bapak kan emang profesor bahasa, tapi yang bahasa Indonesia….well….membosankaan”.

“Kenapa membosankan, sayang?”

“Ya soalnya kayak bertele-tele, gitu”.

Ok, komentarnya saya terima dan saya hargai. Ya gak papa kan, namanya juga orang berkomentar, mau bilang apapun ya terserah dia kan.

Yang cerita bahasa Indonesia tentang hamil itu saya tulis setelah mendapatkan ide pagi hari setelah bangun tidur, ketika otak masih padam dan yang ada hanya kesadaran. Eckhart Tolle benar: “justru ketika Anda tidak sedang berpikir, Anda menemukan atau lebih tepatnya dihampiri oleh seberkas ide.”

Ada kata baru di cerpen itu: “menyeropot”. Namanya juga karya kreatif, jadi ya sah-sah saja mencuatkan sesuatu yang tidak akan dijumpai di kamus manapun tapi yang penting kan ada maknanya to? Lha emang maknanya apa? Ya bacaen dewek, masa saya suruh menjelaskan disini? Hahaha.

Nah, hobi menulis di storial.co itu saya harap bisa mendekatkan saya pada kriteria hobi yang mulia tadi.

Btw, beberapa penulis muda (saya yang paling tua disitu, kayaknya hampir semuanya masih 20 an) di situs itu bertingkah laku aneh: membuat buku dengan judul bahasa Inggris, setelah dibuka halamannya ternyata semuanya ditulis dalam bahasa Indonesia.

Blehhh!!

Posted in: Uncategorized