Galau Membuat Keputusan

Posted on October 23, 2015

0


Salah satu hal paling rumit dalam hidup adalah membuat keputusan.

Setelah sekian lama bekerja di suatu lembaga, seorang karyawan mulai gelisah dan ingin melakukan sesuatu yang baru. Namun dia tak kunjung menemukan keberanian untuk melakukannya. Dia masih ragu: apakah mau keluar dari lembaga itu lalu bekerja sendiri, atau tetap saja disitu?

Setelah sekian lama menjalin hubungan dengan seorang wanita, seorang pemuda merasa resah karena mereka sering berkonflik. Dia terombang-ambing antara masih sayang sama kekasihnya dan ingin mengakhiri saja hubungan itu karena mereka sering tengkar. Pertanyaan yang berkecamuk dalam kepalanya: apakah harus kuputuskan saja dia, atau bagaimana?

Maka datanglah mereka ke seorang bijaksana untuk minta nasehat. Ternyata nasehat sang bijaksana nggelethek saja: “rasakanlah keindahan dari ketidaktahuan dan keraguan.”

Lha kok mek ngunu?

Lalu sang bijaksana itu menambahkan: “jangan resah dan gelisah. Jalani saja hidupmu, dan nyalakan segenap kesadaranmu. Suatu ketika akan datang petunjuk berupa bisikan yang kalian rasakan sebagai ‘inilah jawabannya, tak salah lagi’. Kalau kalian menjalani hidup dengan pasrah dan hadir dalam kesadaran, tidak kemrungsung terus, kalian akan tahu bahwa hal paling utama dalam masalah mengambil keputusan adalah menanyakan pertanyaan yang tepat”

Menanyakan pertanyaan yang tepat!

Maka kedua orang galauers—org yang sedang galau—tadi kembali ke dunianya dan mengikuti nasehat sang bijaksana. Hari demi hari, minggu demi minggu mereka jalani saja hidupnya dengan penuh kesadaran dan kehadiran. Penuh kesadaran itu artinya minim emosi, minim kecemasan, minim penghakiman, dan minim kemarahan. Ya sudah, menggelinding saja begitu.

Sampai akhirnya mereka datang lagi menemui sang bijaksana dengan wajah cerah.

“Piye? Enak to?” kata sang bijaksana sambil tersenyum-senyum a la presiden Soeharto.

“Ya, mbah,” jawab sang pemuda. “Akhirnya saya menemukan bahwa pertanyaannya adalah bukan: ‘apakah harus aku putuskan?’, tetapi ‘bagaimana caraku mencintai dia dengan lebih baik?’ Itu saya dapatkan setelah pagi-pagi saya jalan-jalan santai di sekeliling rumah. Tahu-tahu muncul begitu saja pertanyaan itu di kepala saya. Sejak saat itu saya langsung tahu bahwa selama ini saya menanyakan pertanyaan yang salah. Pertanyaannya seharusnya berbunyi: “bagaimana kami saling mencintai sekalipun sering tengkar?” Soalnya, ternyata ya kami masih saling sayang, mbah.”

“Nah, saya lain lagi, mbah,” jawab sang pegawai. “Setelah secara sadar tapi pasrah menjalani hidup di lembaga itu,  mendadak suatu hari bos besar saya memanggil saya dan menawari posisi di unit yang selama ini saya sukai. Jadi, masalah saya terjawab. Saya tidak perlu pindah karena ternyata Hidup ini masih menginginkan saya bekerja disana, sekalipun dengan posisi yang baru”.

Demikianlah. Ada banyak tips yang ditawarkan untuk orang-orang yang sedang galau mau mengambil keputusan. Ada yang sangat logis: menghitung untung ruginya. Ada yang lewat doa khusyuk. Nah, ada pula yang agak lain daripada yang lain. Ya seperti yang dikatakan sang bijaksana tadi itu: jalani saja dan SADARLAH; jangan emosi, jangan cemas, jangan marah-marah. Suatu ketika Hidup yang luar biasa cerdas dan penuh kasih ini akan membisikkan jawabannya.

*Disarikan dari ceramah Eckhart Tolle yang berjudul “Asking the Right Question”.

Posted in: Uncategorized