Hilang Respek

Posted on October 18, 2015

0


Dalam hidup kita tentu pernah mengagumi beberapa figur yang kemudian kita kagumi dan hormati. Figur itu bisa berupa orang tua sendiri, atau saudara dekat, atau bahkan orang yang tidak pernah kita kenal secara pribadi namun tetap menimbulkan rasa hormat dari diri kita. Saya tidak pernah kenal secara pribadi Mother Teresa dari Calcutta, tapi saya sangat mengagumi dan menghormatinya. Kata-katanya yang sangat luar biasa non duniawi (alias tidak lumrah di kalangan penduduk Bumi yang kebanyakan sesat) adalah ini: “jika engkau berbuat baik dan toh orang masih saja menistamu, tetaplah berbuat baik.”. Luar biasa.

Tapi adakalanya orang-orang yang kita kagumi tersebut lalu melakukan sesuatu hal yang membuat kita bertanya-tanya: lho kok gitu? Lalu perbuatan itu diulang-ulang, lalu bahkan diperberat lagi dengan tindakan-tindakan lain yang membuat kita makin gusar. Pada akhirnya, kita kehilangan respek terhadap figur tersebut.

Saya tidak membahas ini dari segi saya sendiri. Beberapa orang mungkin sudah kehilangan respek terhadap saya. Ya sudah. Lho kok bisa begitu? Emang apa yang saya lakukan? Ya ndak tahu, tanyakno dewek ke mereka-mereka; kan sudah saya bilang saya tidak akan membahas tentang diri saya sendiri.

Seorang yang kita kagumi itu biasanya punya integritas. Integritas adalah satunya kata dengan perbuatan. Kalau seorang mengatakan bahwa dia anti korupsi, lalu beberapa tahun kemudian skandal korupsinya terbongkar dan terbukti, ini berarti dia tidak punya integritas. Ngomong anti korupsi tapi ternyata dirinya sendiri melakukan korupsi diam-diam.

Seorang yang kita kagumi umumnya juga berkepala dingin. Dia tidak emosional dan meledak-ledak, tapi mampu menghadapi persoalan dengan kadar emosi yang pas. Jarang lho yang seperti ini. Kebanyakan orang akan meledak marah atau menjadi apatis dan tidak mau tahu.

Michael Schumacher adalah pengagum Ayrton Senna. Suatu ketika, mereka bertabrakan di sirkuit Perancis. Senna mendatangi Schumacher dan menegurnya dengan keras di depan orang banyak, bahkan mencengkeram kerah bajunya siap memukul. Schumacher setelah itu bilang: “dulu saya mengagumi Senna, tapi setelah peristiwa itu, saya hilang respek sama dia”.

Nah.

Seorang yang kita kagumi umumnya juga punya kecakapan yang tidak kita punyai. Kecakapan itu entah dalam hal memimpin, membuat karya seni, atau mempunyai pandangan hidup yang luas dan bijaksana. Saya mengagumi Mother Teresa dan Eckhart Tolle itu ya salah satu contohnya. Banyak di antara kita yang mengagumi President John Kennedy atau Presiden Soekarno. Ya tentu saja karena kedua tokoh ini adalah orang-orang berkharisma yang menggaungkan wibawa dan pengaruhnya di eranya sendiri.

Lalu apa yang membuat kita, atau lebih tepatnya saya, kehilangan respek terhadap seseorang? Ya itu tadi, balik ke integritas, satunya kata dengan perbuatan. Seseorang yang mengagung-agungkan nilai ramah, rendah hati, dan adil, akan langsung kehilangan respek saya manakala ternyata tindakannya menguntungkan kelompoknya sendiri, atau mengucapkan kata-kata yang kasar di depan umum, atau berkonspirasi untuk membuat plot-plot tertentu yang lagi-lagi menguntungkan golongannya.

Satu hal yang saya tidak mau ikut campur dan tidak akan mempengaruhi respek saya: hubungan intim dengan seseorang. Jika seorang figur yang saya hormati ternyata kedapatan menjalin hubungan intim dengan seorang manusia lain, saya hanya akan mengangkat bahu dan mengatakan: “itu urusan pribadinya. Tidak ada komentar!!”.

Respek itu berkaitan dengan hal-hal yang dilakukannya untuk umum, untuk sebuah komunitas, untuk bangsa dan negara, untuk lembaga. Itu sebabnya kunci respek itu terletak pada integritas, kejujuran, keadilan, kerja keras untuk komunitas, kerendahhatian, dan kebijaksanaan. Semua itu ranah publik. Hubungan intim? Saya ulangi lagi: “itu urusan pribadinya. No comment!”. Lha wong urusan dua hati yang saling suka satu sama lain lho kok kita ikut ngurusi?? Eh, Anda tahu ya, Presiden Soekarno itu istrinya lebih dari satu, dan Presiden Kennedy juga punya banyak kekasih. Lha kenapa ya orang kok masih mengagumi mereka?  Ya karena itu tadi: “itu urusan pribadinya. No comment!”

Posted in: Uncategorized