Traveling

Posted on September 27, 2015

0


Traveling

Banyak orang suka bepergian. Bahasa Indonesianya adalah ‘berwisata’. Tapi di socmed istilah kerennya adalah ‘traveling’. Coba cari hashtag berwisata, pasti ndak ada. Coba ganti dengan hashtag traveling, wooow, berjuta-juta yang keluar.

Di Natgeo bahkan ada acara khusus untuk traveling. Biasanya menceritakan hostnya bepergian ke mana-mana dari berbagai belahan dunia, mengamati budaya lokal, bahkan mencicipi makanan setempat. Setelah jaman socmed, para penggila traveling biasanya memajang (lebih tepatnya memamerkan) dirinya berpose di berbagai tempat eksotis di dunia.

Mereka ini pun terbagi menjadi dua kelas: yang memang kaya dan bisa kemana-mana, dan yang dari kelas ekonomi jauh di bawahnya. Yang terakhir ini biasanya disebut ‘turis backpacker’. Salah satu staf di Machung ada yang masuk kategori ini. Untuk mereka ini, bepergian dengan uang pas-pasan tidak masalah, asal sampai ke tempat tujuan. Nginapnya pun di losmen murah yang pokok asal ada tempat tidur dan kamar mandi. Perkara makan, mereka biasanya membekali diri dengan mie instan atau roti tahan lama. Yang penting kenyang, soal rasa nomer dua, hahaha. Jadi memang harus tahan banting dan tidak sok jaim. Di Internet bahkan ada komunitas khusus buat para backpacker. Isinya saling tukar info tentang tarif murah, rute efisien, makanan, dan sebagainya. Asik sih mbacanya.

Ini sedang masuk minggu Travel Fair. Tiket pesawat dan hotel sedang ditawarkan murah. Karena tidak hobi traveling, yang kayak gituan mah lewat aja dari pengamatan saya. Tapi tidak demikian halnya dengan istri saya. Dari sejak bulan lalu sudah sibuk cari info tentang Travel Fair. Cita-citanya adalah pergi sekeluarga ke suatu negeri antah berantah.

‘Terus nanti makannya piye?’ tanya saya yang kadang skeptis dengan rencana itu.

‘O gampang, kita bawa indomie sak akeh-akehe dan roti bloeder Tania. Nanti makan itu ae. Kalau perlu sak potong roti buat orang empat.’

Bwahahaha!

Setelah ngakak itu saya masuk kamar. Disitu kadang saya merasa sedih. Terharu aja melihat istri sampe segitu upayanya untuk bisa pergi ke negeri itu. Saya bukan pengusaha kaya raya atau anggota DPR. Seandainya saya tajir, tentu ya bisa dengan mudah menuruti selera travelingnya. Wong tinggal nggesek kartu kok. Tapi hmm, seandainya saya kaya pun mungkin juga masih ada tantangannya karena saya bukan penggila traveling. Tapi kan ya mending masih bisa menggesek-gesek kartu untuk menyangoni istri pergi kemana-mana. Hmm, yah, disyukuri aja lah, punya istri setia dan ndak ngomel walau suaminya ndak isa mbelikno tiket pesawat non-promo dan hotel mewah untuk tinggal 3 minggu di negeri lain.

Suatu ketika murid saya, seorang pria penggila traveling, sedang kedapatan sibuk mencari jodoh. Diketikkannya kata kunci ‘Asian girls like traveling’ di Google. Belum sejam dia bersorak, ‘horee! Ketemu’.

Seminggu kemudian dia balik lagi dengan tampang kusut. ‘Lho, apak o?’. Aku putus sama cewek itu, katanya. Lho kok isa? Ya iyalah, pak, lha wong ternyata dia itu anaknya orang kaya pol, sementara saya kelas turis backpackeran. Waktu kita pergi bareng, masya allah, pak, ribut terus sepanjang jalan karena dia ndak isa menerima tinggal di wisma kelas melati dan makan seadanya. Lha kalau saya nuruti seleranya tinggal di Shangri-La seminggu, ya isa mbambung aku ndek sana, pak, wong duit ya pas-pasan.

Bwa hahaha! Materi, oh, materi, bahkan cinta pun kau bikin hancur. Disitu kadang saya merasa sedih.

Lalu dia pun sibuk mencari jodoh baru lewat Google. Kali ini kata kuncinya ‘Asian girls long black hair single tall slender backpacker tourists’

Sejam kemudian dia bersorak ‘horeee! Ketemu!’

Saya ucapkan selamat jalan ketika sebulan kemudian dia menggandeng gadis barunya di bandara yang penuh sesak karena penerbangan murah.

‘Ati-ati di jalan!’ kata saya. Enjoy your trip!

Sent from my iPad

Posted in: Uncategorized