Kenapa Kita Cintanya Kandas

Posted on September 22, 2015

0


Sementara kita para awam jatuh bangun dan pusing sendiri tentang cinta, para spiritualis memandangnya dengan sangat jernih dan mengutarakan pendapat atau pandangan yang sangat logis. Salah satu yang pernah saya postingkan disini adalah dari Barry Long tentang perbedaan cinta dan sex. Dengan sangat gamblang namun tak terbantahkan dia menjelaskan betapa kedua hal itu sangat berbeda. Gimana intinya? Yo bacaen dewek aaa, masak saya disuruh menceritakannya lagi disini hahaha!

Nah, tentang cinta, kaum tercerahkan ini membedakan antara cinta yang berakar dari ego dan cinta sejati. Cinta sejati, demikian kata mereka, tidak punya lawan kata. Cinta jenis ini merangkul semua, menerima semua apa adanya, tanpa penghakiman, apalagi kemarahan, kekecewaan , cemburu, sakit hati dsb. Apakah cinta ini ada? Ya ada! Dimana? Ya di dalam diri kita semua, masing-masing kita ini punya cinta seperti itu! Lha kok ndak merasa? Ya itu karena kita tidak mau menyadari adanya hubungan antara diri kita dengan Cinta luar biasa itu. Maka kaum tercerahkan ini melontarkan satu kalimat pendek nan dahsyat dan dalam luar biasa: “You dont have to seek LOVE. You are LOVE.”

Nah, cinta yang rawan sakit adalah cinta dari ego. Karena manusia diciptakan berbeda jensi kelamin, sebenarnya manusia itu tidak utuh, dan oleh karena itu sepanjang hidupnya dia mencari insan lain untuk membuatnya utuh. Itu sebabnya pria ditakdirkan untuk mencari wanita, dan wanita juga mengharapkan pria. Secara jiwa pun, mereka ingin menjadi satu lagi, dan tidak terpisah-pisah seperti sekarang. Jiwa yang rindu akan penyatuan ini mencari segala macam cara untuk bersatu, ibarat seberkas sinar mentari rindu untuk kembali menjadi Sang Surya yang hanya satu itu. Maka timbullah apa yang disebut hubungan intim. Hubungan seks begitu dahsyat karena pada tataran fisik penyatuan kedua tubuh itu melambangkan atau mencerminkan bersatunya dua jiwa. Itu sebabnya kenapa hubungan seks yang dilandasi rasa cinta menjadi sesuatu yang tak terperi indah dan nikmatnya, jiwa maupun raga . . . .

Pada kebanyakan manusia, jatuh cinta atau dicintai menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan karena pada saat itu mereka merasa dibutuhkan, dihargai, diperhatikan, diisi, pendeknya dianggap istimewa. Sebenarnya itu adalah kebutuhan sang ego. Ego kita ini rindu sekali diperlakukan seperti itu: dipuji, diperhatikan, dianggap spesial, dibelai, dibelikan ini itu, dibuatkan ini itu.

Nah, tapi kan tidak selamanya akan selalu begitu. Setelah beberapa lama berhubungan, hal-hal yang tadinya menyenangkan dan membuat aliran darah deras mengalir atau jantung berdegup cepat menjadi makin biasa, lalu datar, dataaar, kehilangan nyala gairahnya. Pada saat yang sama pula toleransi akan hal-hal yang tadinya dianggap biasa menjadi makin rendah. Pada titik ini sang ego dari kedua belah pihak menjadi rawan terlibat dalam konflik. Faktanya, memang banyak dari pasangan yang lalu terlibat konflik, entah itu terbuka atau terpendam bertahun-tahun. Ego memerlukan konflik, memerlukan drama penuh taburan emosi untuk membuatnya tetap hidup dalam diri kita. Itu menjelaskan kenapa beberapa orang kembali ke kekasih lamanya yang punya kebiasaan abusive (mendera emosi dan perasaan dengan kecemburuan luar biasa, atau keinginan mengontrol berlebihan, kecurigaan berlebihan). Tanpa sadar mereka memang menikmati dianiaya secara mental seperti itu! Egonya membuat mereka kembali ke orang yang sama berulang-ulang hanya untuk dianaya secara mental . . .

Pada beberapa gelintir orang yang cintanya sudah melangkah sedikit lebih tinggi daripada sekedar pemuasan ego, terjadi perubahan cara mencintai dan bersikap. Orang-orang seperti ini cenderung memberi kebebasan kepada pasangannya dan menghargai apapun yang mereka suka atau bicarakan. Mereka tidak cemburu berlebihan. Beberapa bahkan tidak peduli ketika tahu bahwa kekasihnya pernah terlibat jalinan asmara sangat dalam dengan orang lain di masa lampau. Buat mereka, “yang lalu sudah biarkan berlalu; itu tidak penting dan tidak nyata karena yang nyata ya hanyalah saat sekarang”.

Kalau Anda beruntung mendapatkan kekasih seperti ini, cinta dia akan sulit kandas. Cintanya menjadi lebih dekat kepada True Love atau Cinta Sejati tadi itu: menerima semua apa adanya, tidak menghakimi, tidak menuduh atau cemburu, dan memberi tanpa mengharapkan akan diberi.

Semuanya terasa begitu damai dengan orang sejenis ini.

Sampai kemudian Anda merasakan erangan sang ego yang merindukan drama tadi . . . .

Posted in: Uncategorized