Jelek tapi Menarik

Posted on September 18, 2015

0


Di sebuah situs entah dimana (ya emang saya gak tahu karena situs sekarang jumlahnya udah jutaan) ada sebuah telaah psikologi tentang daya tarik manusia terhadap lawan jenisnya. Initnya unik: setiap orang punya kelemahan atau kekurangan entah secara fisik atau secara mental, tapi justru itu yang membuatnya menarik. Aneh ya?

Ya, tapi memang benar sekali sih bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Bahkan selebritis sekelas Marilyn Monroe atau Julia Roberts saja masih mengakui sering gusar dengan kekurangan fisiknya. Ada yang bilang kakinya terlalu besar, bibirnya kurang simetris, andeng-andeng (tahi lalatnya) terletak di tempat yang salah, matanya terlalu sipit, dan sebagainya. Bintang film pria lebih tertutup kalau soal fisiknya, namun saya kira mereka pasti sama saja: kebanyakan merasa kurang di satu atau lain hal. Padahal beberapa artis jutsru menjadi sangat terkenal karena giginya gingsul, atau bayangkan lah seorang Cindy Crawford (artis terkenal tahun 1980 an) tanpa tahi lalat di sudut bibirnya. Pasti tidak akan semenarik dia yang hadir lengkap dengan tahi lalat tersebut di bagian atas bibirnya.

Itu yang masih sebatas fisik. Banyak juga yang merasa kurang dari segi kepribadian. Ada yang merasa terlalu pemalu, ada yang merasa terlalu cepat bosan, ada yang merasa terlalu boros, ada yang merasa kurang tekun, dan banyak lagi.

Anehnya, dengan cacat-cacat kecil seperti itu, masing-masing dari mereka mempunyai daya tarik tersendiri bagi orang lain (baca: lawan jenisnya). Padahal, bukankah tindakan menyukai seseorang adalah melihat semua kelebihannya dan cenderung tidak menghargai kekurangannya ya?

Atau mungkin saya harus meredefinisi konsep “menyukai” tersebut ya. Menyukai mungkin seharusnya diartikan sebagai keterpikatan terhadap seseorang, lengkap dengan segala atribut fisik dan kepribadian yang melekat padanya. Tersirat dalam pengertian ini adalah bahwa manusia atau obyek yang disukai tersebut harus tampil utuh, tidak sepenggal-sepenggal. Kalau mau si A, ya haruslah si A lengkap dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Kita tidak bisa mempreteli si A menjadi yang baik-baik dan yang jelek-jelek saja, lalu menggantinya dengan ciri dari si D sehingga sesuai dengan keinginan kita. Selama teknologi belum memungkinkan kita untuk melakukan hal itu kepada manusia semudah membongkar robot, kita masih harus menerima si A dan si D sebagai pribadi yang unik.

Jadi ingat cerita semasa kuliah. Ada dua teman pria yang sedang diincar oleh seorang teman wanita. Kedua pria ini punya karakteristik berbeda. Satunya–sebut saja si E–adalah orang yang sangat gaul, suka memimpin, punya gaya bicara elok, dan terkesan sangat pede dengan fisiknya yang tinggi besar dan suara baritonnya. Pria satunya–sebut saja si F– lebih pendiam, kutu buku, kurus cenderung kerempeng, dan lebih sering mendengarkan daripada berpidato atau bercerita.

Siapa yang akhirnya disukai oleh teman wanita itu? Di luar dugaan, dia menjawab: “aku suka si F”.

Pada suatu kesempatan, saya pernah usil membandingkan si E dan si F di depan dia. Secara tidak langsung saya menanyakan kenapa kamu pilih si F, dan bukannya si E yang jauh lebih gagah dan lebih populer?

“Ya betul memang,” jawab dia. “Tapi dengan si F aku mendapatkan ketenangan. Rasanya seperti bisa hadir sebagaimana diriku ingin hadir. Dia tidak banyak menceramahi ini itu, dan karena dia lebih sering mendengarkan, dia terkesan lebih perhatian sama aku.”

Hmm, ya, aneh juga ya. Di masyarakat kita, sifat pendiam sering diidentikkan dengan satu kelemahan. Tapi toh seorang pendiam seperti si F ya bisa mempunyai pengagum.

Jadi kenapa justru dengan segala kelemahan kita, kita masih terkesan menarik di mata orang lain? Yah, tidak ada jawaban yang tegas juga setelah menulis sekian panjang. Mungkin yang jelas adalah bahwa manusia bukan hanya fisik dan kperibadian, tapi juga muatan kasat mata berupa vibrasi, aura, karisma atau apalah namanya yang ikut berperan dalam membentuk daya tariknya.

Posted in: Uncategorized