Menjabat

Posted on September 12, 2015

4


Menjabat

Setelah 4 tahun menjabat disini, sudah saatnya bergulir. Jam 3 lebih sedikit, Pak Ketua meminta saya menghadapnya. Pertanyaannya singkat dan langsung, sesuatu yang saya suka: ‘Bapak masih mau melanjutkan jabatan ini?’. Saya hanya memerlukan waktu setengah detik untuk menjawabnya: ‘Ya, ndak mengapa. Saya siap melanjutkan’.

Latar belakang yang beliau ungkapkan adalah saya paling senior disitu, dan salah satu dari kedua guru besar. Guru besar satunya sudah terlalu sepuh untuk mengemban jabatan sebagai Dekan.

Ya, betul juga sih. Lagipula de facto saya yang selama ini menmbidani dan mengurusi prodi baru bernama Zhong wen itu. Perjuangannya masih panjang. Kalau ada pejabat baru sebagai Dekan, kasihan dia bisa kepontal2 mengurus prodi yang perlu banyak perhatian itu.

Tapi lalu pak Ketua mengujarkan sesuatu yang membuat saya gemetar: ‘dulu kan Bapak menjabat sebagai ketua di itu tuuh de pe em. Kalau kembali menjadi pimpinan disana mau ya, pak?’

Saya hanya memerlukan waktu nol koma satu detik untuk menjawabnya: ‘maaf, pak, kalau itu saya kurang bersedia’.

Wajahnya agak berubah. ‘Kenapa ga mau?’

‘Ya karena disana saya rasakan bukan bidang saya, pak.’. Lagipula saya membatin bahwa rekan saya di DPM dulu sudah mengerjakan fungsinya dengan baik, bahkan lebih baik daripada saya. DPM itu sudah mantan saya, jadi ndak mungkin saya mau kembali kesana, hahaha.

Saya adalah dosen. Kalau misalnya dipercayai menjabat, saya ingin berada sedekat mungkin dengan mahasiswa. Sebagai dekan saya ndak hanya mengajar, tapi juga langsung mengurusi dan tahu perkembangan dan dinamika para mahasiswa saya. Itu yang saya suka dari jabatan ini. Di DPM, saya akan berada jauh sekali dari mereka.

Jadi ya begitulah. Saya kembali ke kantor, mereview sebentar persiapan kuliah untuk hari Senin, lalu pulang teng go.

Sent from my iPad

Posted in: Uncategorized