Someone I Used to Know

Posted on August 28, 2015

0


Judul di atas adalah judul sebuah lagu. Siapa yang nyanyi saya tidak begitu hafal. Yang jelas lagunya lain daripada yang lain, unik, beatnya juga nyentrik. Tapi ungkapan itu bukanlah sesuatu yang asing bagi sebagian dari kita.

Si A berteman baik dengan si B. Mereka bertemu ketika masih kecil, berkenalan, lalu bermain bersama dan menjadi dua kawan karib. Kemana-mana mereka selalu berdua. Karena anak kecil, sebagian besar ya menghabiskan waktu untuk bermain-main. Demikianlah persahabatan terjalin sampai mereka masuk usia akil baliq.

Lalu mendadak hubungan itu merenggang. Kedua anak itu tidak bermusuhan, tidak pernah kelihatan bertengkar, tapi ya makin jarang kelihatan berdua. Ternyata keduanya, setelah masuk usia remaja, mempunyai selera yang berbeda. Si A lebih suka traveling kemana-mana, dan memasak, sementara si B lebih suka fotografi dan sangat aktif di socmed. Si B nampaknya menekuni dunia model, dan makin lama foto-fotonya di socmednya makin “berani”.

“Inilah teman baikku dulu,” kata si A menunjukkan foto ketika mereka kecil. “Tapi sekarang dia sudah someone I used to know. Sudah jarang bersama-sama; kalau ketemu ya menyapa sekedarnya saja. Seleranya lain, kepribadiannya juga terasa lain.”

Itu terjadi di dunia anak-anak yang bisa berubah drastis ketika mereka remaja. Tapi rasanya beberapa orang dewasa pun tidak luput dari gejala itu. Saya pribadi kenal satu dua orang yang menjadi rekan akrab. Lalu seiring dengan berjalannya waktu, entah bagaimana timbul perasaan biasa-biasa saja bahkan cenderung malas. Apakah karena pandangan hidup yang berbeda? Atau secara tanpa sadar kami saling menilai satu sama lain dan ternyata menemukan ketidakcocokan? Apakah mungkin ada beberapa hal di rapat-rapat yang kami ternyata tidak bisa sependapat, dan akhirnya pelan-pelan menjauh? Sekarang pun, kalau ditanya tentang orang-orang tersebut, saya hanya bisa membatin atau bahkan berucap: “”O, ya, itu somebody I used to know . . . “. Mungkin orang itu juga berucap hal yang sama kalau ada orang lain yang bertanya kepadanya tentang saya.

Di jaman socmed seperti sekarang ini, hal itu bisa makin mendapat peneguhan. Setelah melihat hal-hal apa yang disukai (di like) oleh seorang teman, saya bisa sedikit banyak meraba kepribadian dan corak obsesi yang bersarang dalam benaknya. Kalau hal-hal yang disukainya sama dengan saya, saya akan tersenyum kecil dan mengatakan: “kita memang satu nada”; tapi kalau yang disukai atau dipajangnya adalah hal-hal yang gelap, (misalnya pistol, kekerasan, orang pervert/menyimpang dsb) maka saya hanya bisa membatin: “Oh, you . . . just somebody I used to know”. . . .

Someone I used to know. Ungkapan yang menyiratkan sedikit kesedihan tapi juga kepasrahan bahwa tidak selamanya dua manusia bisa terus berkawan dekat.

Tagged: , ,
Posted in: Uncategorized