Ikan dan Akuarium

Posted on August 22, 2015

0


Ikan dan Akuarium

Memelihara ikan dalam akuarium adalah salah satu kegemaran saya. Waktu kecil, saya melihat ayah juga senang memelihara ikan dalam akuarium. Waktu kami pindah dari jalan Tumapel ke jl Salatiga, entah gimana ayah mulai bosan dan akuarium itu pun mangkrak. Entah gimana pula ceritanya akuarium itu bisa pindah tempat ke rumah paman saya di jl Simpang Bogor. Karena melihat sepupu saya (anaknya paman saya itu) juga memelihara akuarium, saya pun mulai merengek minta dibelikan akuarium. Ayah bersikeras tidak mau, dan sayapun makin merengek. Akhirnya dibelikan ikannya doang tapi ditaruh di bak dekat dapur. Ya mana asiklah mandang ikan hanya dari atas gitu. Saya pun menggerutu terus menerus, sampai akhirnya nenek saya bilang: ‘Wis disini aja ikannya, ndak usah beli akuarium. Bapakmu ora nduwe duwit’. Kontan saya berpikir: ’emang bapakku itu kerja apa sih kok beli akuarium aja ndak bisa?’ Hahaha.

Akhirnya keinginan untuk memelihara akuarium pun tercapai sekian belas tahun kemudian ketika saya sudah berusia 25 tahun. Akuariumnya saya beli sendiri, karena saat itu saya sudah bekerja sebagai dosen elek-elekan. Ukurannya sedang, kaca semua gak pakai semen. Saya isi dengan ikan-ikan seperti neon, guppy, black ghost, swordfish, manvis, koki, dan beberapa tanaman air. Ikannya beli di daerah jl Borobudur sana. Suatu hari beli ikan aduan yang cool dan ekornya dahsyat itu. Ikan kayak gitu hanya bisa sendirian karena kalau ada yg lain mereka pasti berkelahi. Suatu saat timbul niat busuk saya, dan saya pun membeli satu ekor lagi. Sungguhan, begitu dicemplungkan, langsung bertarung dengan ikan yang sudah ada disitu. Seru sekali pertarungannya, dan lamaaa. Karena lama, saya tinggal kuliah (waktu itu sudah kuliah S2). Begitu saya pulang, saya lihat kedua-duanya sudah menggelepar mati kabeh. Jahat ya. Tapi ya tolol juga sih ikan aduan itu, mau aja diadu sampek mati hahaha.

Setelah berumah tangga, hobi memelihara ikan masih berlanjut. Akuarium kecil itu pun diboyong ke jl Sulfat Agung sana. Entah karena saat itu saya mulai sibuk sebagai dosen dan studi S3, akuarium jadi agak terabaikan. Entah gimana lalu dia jadi berubah fungsi jadi tempat memelihara hamsternya anak-anak, terus jadi tempat kura-kura.

Tahun 2002 saya beli lagi akuarium yang jauh lebih besar. Ukurannya berapa ya? Ya wis pokoknnya besar lah. Maka isinya pun mulai bermacam-macam. Mulai dari yang jenis umum kayak neon sampai yang aneh-aneh kayak ikan helikopter, black ghost, bahkan udang lobster air tawar. Kokinya matian. Nakal pula karena nampaknya ikan ini diam-diam suka memangsa ikan neon yg memang jauh lebih kecil. Makanya neon saya dulunya 8 bisa jadi tinggal 3. Beli ikannya di pasar Splendid situ tuh. Benar-benar pasar rakyat. Sudah dua kali nih saya pergi kesana kiosnya masih tutup semua karena perginya jam 8 pagi. Ya gini deh, mentang2 dosen MaChung pasar ikan pun dikira sudah buka jam 8 pagi.

Beberapa feng shui bilang memelihara ikan itu bagus karena vibrasi makhluk hidup di medium air itu memberikan energi chi tersendiri di rumah. Mungkin juga sih. Yang jelas melihat ikan-ikan berenang di akuarium di tengah gemulai tanaman air dan desir halus aerator seperti memberikan kesan surealis yang menenangkan. Saya punya kebiasaan memandanginya setiap subuh sebelum jalan pagi, memandanginya saja dengan tanpa berpikir, hanya menikmati dan mengaguminya.

Sent from my iPad

Posted in: Uncategorized