Diselingkuhi dan Menyerah

Posted on August 19, 2015

0


Setelah beberapa lama mendengarkan dan membaca si Tolle, saya ajukan pertanyaan yang sangat menantang ke orang tercerahkan ini: “saya diselingkuhi. She betrayed me. Gimana sikap yang seharusnya kuambil, hayo??”

Dengan kalem dia menjawab: “Ya sudah, terimalah fakta itu. Jangan melawan; karena ya memang itu faktanya. Accept it, dont fight with what is. DONT FIGHT WITH WHAT IS”.

%&*%!!!!

“Ya, maksud saya seperti ini,” katanya menjelaskan. “Cara kamu menyikapinya adalah dengan mengatakan: “oh, dia berlaku seperti itu karena ya memang baru seperti itulah tingkat kesadarannya. Dia berselingkuh karena memang pada saat itu, dalam tingkat kesadaran yang dia punya, ya tindakan itu yang menurutnya pantas dilakukannya. Kalau kamu melawan, itu berarti kamu bereaksi atas nama egomu. Dan peperangan antar ego tidak akan pernah berakhir damai; dua-duanya dedel duwel. Berserah pada apa pun yang WHAT IS, dan hadir selalu pada masa kini dan disini adalah jalan satu-satunya. Bahwa kamu sedih dan terluka dan menderita, ya iya. Memang, siapa ndak sakit diselingkuhi?? Tapi kalau kamu tidak bereaksi dan marah dan kalap atas nama egomu, sebenarnya kamu sudah bebas dari ‘penjara’ atau ‘jebakan’ emosional itu. Kamu sadar, makanya kamu–sekalipun sakit–lebih memilih diam. Ingat, diam bukan berarti menyerah dan pasrah atau ambil sikap masa bodoh ya sudahlah I dont care. Bukan, bukan seperti itu. Sadar akan masa kini dan disini adalah berserah pada apapun yang ada dan terjadi, tapi pada saat yang sama juga sangat terjaga akan jalan keluar yang bukan dari ego atau pikiran, tapi dari Sang Alam ini, the Being, the Super Consciousness. Kepadamu akan dibisikkan jalan keluarnya. Jalan keluar itu bisa berupa tindakan yang tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya, misalnya mengajak bicara baik-baik, bersikap tegas tapi tidak agresif, dan sejenisnya. Atau, bisa saja jalan keluar itu berupa bisikan untuk mengakhiri hubungan dengannya. There are some situations which you’d better walk out of because it doesnt serve your higher consciousness anymore.”

Satu lagi pelajaran dari mbah satu ini: menyerah bukan berarti pasrah dan apatis atau ya wis embuhlah. “Menyerah” (Surrender) itu artinya “menerima apapun yang telah dan sedang terjadi tanpa adanya label mental atau penghakiman berlebihan terhadap apapun itu.” Dalam bahasa Tolle: “say yes to the present moment, accept it as IT IS, do not make any mental judgment about it”. Tapi pada saat yang sama kita sadar bahwa ada upaya yang harus dilakukan terhadapnya, dan untuk itulah kita harus pertama-tama hadir disini dan saat ini untuk bisa mendengarkan bisikan intuitif dari Sang Kesadaran.

Banyak kali begitu diselingkuhi kita terus terjebak dalam “adegan film drama” yang kita putar sendiri di pikiran: “dia pamit pergi ke Jumana di Bali sana. Katanya sendirian, ternyata disana sudah ada pria lain yang menunggu dan pasti lah mereka lalu asyik di kamar dan jalan-jalan di pantai. Foto2nya di IG direkayasa sedemikian rupa sehingga dia seolah-olah sendirian. Lalu minggu depan mereka pasti sudah merencanakan untuk ketemu lagi di Pasar Comboran . . . dsb . . . dsb…”. Ini disebut Tolle sebagai “stories inside your mind”. Artinya, ya hanya cerita, tidak lagi nyata. Lho kenapa kok bisa ndak nyata? Ya karena itu sudah berlalu (yang di Bali sudah berlalu karena terjadi 2 minggu lalu) atau belum terjadi (yang di Comboran juga tidak nyata karena itu adalah bayangan masa depan).

“Jadi,” demikian si Tolle. “Jangan tergerus oleh bayangan ceritamu sendiri. Itu jebakan sang pikiran yang disponsori oleh ego. Akibatnya hanya membuat kamu makin marah. Hadirlah sekarang dan disini, karena ya hanya itulah yang nyata.”

Posted in: Uncategorized