Apa Tujuan Hidup Ini?

Posted on August 14, 2015

0


Tahun 2009.

Ke kantor saya di DPM datanglah seorang mentee yang bertanya sesuatu yang membuat saya terhenyak: “Pak, untuk apa kita hidup? Apa sebenarnya tujuan hidup ini?”.

Saya ingat saya mengatakan beberapa hal tentang karir, cita-cita, gelar sarjana, dan sebagainya yang seperti itu untuk menjawab pertanyaan yang sangat dalam itu. Perkara dia menerima atau tidak, paham atau tidak, ya saya juga tidak tahu. Itu pertanyaan sangat eksistensial karena mempertanyakan untuk apa sih hidup ini sebenarnya? Tidak mudah menjawab pertanyaan seperti itu.

Tahun 2015.

Seandainya mentee itu datang lagi ke kantor saya dan menanyakan hal yang sama, maka mungkin akan terjadi dialog seperti ini:

M: “Pak, untuk apa kita hidup? Apa sih sebenarnya tujuan hidup ini?”

Saya: “Untuk mengalami. Untuk mengalami apa yang sudah kita ketahui secara konseptual tapi belum secara lahiriah. Dalam bhs Inggris dikatakan dengan elok: “to know experientially what we have known conceptually”.

M: Mengalami? Kenapa mau repot-repot mengalami yang tidak enak, yang sakit hati atau sakit fisik? Yang miskin? Yang nasibnya buruk?”

Saya: “Ya memang itu sebenarnya tujuan sang Alam Semesta atau sang Jiwa ini: mengalami. Dan itu maksudnya ya mengalami semua hal: kegembiraan, kesedihan, amarah, kesakitan, kesuksesan, kegagalan, cinta, benci, rindu, malu, bangga, bahkan hampa. Semua dah pokoknya”.

M: “Tapi kenapa ada yang nasibnya baik, ada yang sejahtera, tapi juga ada yang melarat, yang nasibnya sial melulu, yang sukses, dan yang gagal melulu; ada yang jahat, ada yang baik–”

Saya: “Ya, memang demikian. Semua itu adalah manifestasi keinginan Sang Alam Semesta ini untuk menjadi (becoming). Maka kita pun diciptakan berbeda, dari segi wajah, jenis kelamin, lingkungan keluarga, sifat-sifat, semua berbeda. Kamu wanita, saya pria, kamu mahasiswi, saya dosen, ada orang lain yang hitam, yang sipit, yang gemuk, yang lahir di keluarga makmur, yang lahir di keluarga melarat di Afrika sana. Semuanya itu, semuaanyaaa, adalah wujud keinginan Sang Alam untuk MENGALAMI semua hal. Maka, seiring dengan itu pula, kepada masing-masing dari kita dianugerahkan kemampuan untuk mencipta, untuk berkreasi, membuat sesuatu yang baru. Itu sebabnya kalau kamu kreatif di bidang apapun, kamu sebenarnya sedang menyelaraskan diri dengan semangat sang Alam Semesta. Dia selalu ingin CREATE, maka namanya KREATIF. Dia tidak hanya menciptakan kondisi fisik dan sifat yang berbeda, tapi juga menyimpan daya di diri setiap fisik dan sifat itu suatu energi kreatif.”

M: “iya, baiklah, tapi saya masih penasaran tentang nasib yang berbeda-beda itu. Kenapa ada yang sudah baik hati dan rajin, tetap saja menderita? Ada yang jahat dan malas, eh, malah kaya. Bukankah itu tidak adil?”

Saya: “ya, adil itu hanyalah konsep pikiran dan penghakiman. Pikiran dan penghakiman yang kita buat tidak mampu memahami garis nasib itu karena mereka juga tidak mampu memahami dan mengerti misi sang Hidup untuk mengalami apapun. MENGALAMI APAPUN. Buat si pikiran, wah, itu tidak adil, tapi dari sudut pandang sang Alam, ya itulah pengalaman. Sang Alam tidak peduli itu mau adil atau tidak, karena karut marut soal keadilan itu hanya terbatas pada pikiran, ego, dan penghakiman saja. Sang Alam punya misi jauuuh lebih besar daripada hanya sekedar keadilan yang terbatas pada penghakiman ego dan pikiran itu. Dengan kata lain, pertanyaanmu tentang kenapa tidak adil itu tidak akan terjawab di tingkat pikiran dan egomu; Sang Alam juga tidak mau menjawab karena ya memang bukan itu kok misi utamanya. Hanya kalau kamu mengerti misi Sang Alam untuk mengalami segala hal itu kamu akan tahu akhirnya bahwa tidak ada hal tidak adil itu, karena semua adalah PENGALAMAN, lepas dari itu adil atau tidak, buruk atau baik, apes atau untung.”

M: “Mmm, itu agak sulit diterima, tapi nanti saya renungkan lagi.”

Saya: “Pikiranmu sulit menerima penjelasan seperti itu, tapi Jiwamu tidak. Dia memahaminya dengan baik.”

M: “Iya, deh, nanti saya renungkan lagi. Lalu, setelah mengalami semua itu, apa intinya, Pak? Apa manfaatnya? Kan kita semua pasti mati nantinya”.

Saya: “Naah, persiss! Ketika kamu mengatakan itu, kamu sebenarnya sadar bahwa segala macam pengalaman tadi, segala hal materi, kekayaan, kemiskinan, penyakit dan sebagainya itu tidaklah abadi. Mereka tidak kekal. Yang kekal apa? Ya sang Jiwa tadi itu. Maka, pesan bijaksana dari Sang Jiwa adalah: jangan terlalu terikat dengan segala pengalaman ragawi di dunia yang fana ini, karena mereka semua tidak kekal. Mereka akan mati, entah kapan tapi pokoknya semua yang berbentuk benda atau emosi atau ego akan mati. Jangan pula terlalu khawatir akan semua penderitaan di dunia ini karena, sama seperti kekayaan dan kesehatan fisik, semua itu akan berakhir. Jadi intinya adalah keseimbangan. Kita mengalami semua hal, menikmati semua hal, bergulat dengan urusan duniawi entah itu kuliah, mengajar, menjabat, atau berdagang dan segala macam, tapi ada saat dimana kita harus eling/sadar bahwa kita lebih besar dan lebih kekal dari semua itu. Jiwa kita ini lho, Kesadaran kita ini, sifatnya kekal. Dia tidak pernah dilahirkan, dan tidak pernah mati. Kekal. Tidak punya awal, tidak punya akhir. Kekal.”

M: “Tapi, Pak, kalau Anda bilang seperti itu, itu bertentangan dengan ajaran agama.”

Saya: “Nah kamu bicara dari ego dan pikiranmu lagi karena mulai menghakimi. Sekarang begini aja: kamu duduk disitu, diam, tenang, jangan berpikir atau berbuat apa-apa. Hanya duduk, diam, pusatkan perhatian pada nafasmu; rasakan energi seiring dengan hembusan keluar dan tarikan masuk. Udah, itu aja, jangan mikir apa-apa, jangan menghakimi apapun, jangan ngomel dalam hati. Turn off your mind! Terima semua yang terjadi saat ini dan disini dengan pasrah, apa adanya. Saat ini dan disini, bukan kemarin atau nanti atau besok. Saat ini dan disini.”

M: “Sebentar, Pak! Kenapa saya harus melakukan hal aneh itu?”

Saya: “Karena dengan cara demikian kamu akan mengalami kehadiranNya seutuhnya. Lalu kamu akan merasa terhubung dengan semuanya. Sekali lagi, semuanya. Lalu kamu akan merasa tenang dan tidak kemrungsung lagi.”

Posted in: Uncategorized