Ego dan Kita

Posted on August 12, 2015

0


Sebagai manusia, kita pasti mempunyai ego. Yang cenderung sangat mempertahankan egonya kita sebut egois, dan yang tidak terlalu segitunya kita bilang sebagai orang yang sabar. Tapi apapun kadarnya, ego itu ada dalam diri setiap manusia. Nah, ego punya beberapa ciri:

Satu, identitas diri.

Ego mengukir dengan kuat identitas kita sebagai seseorang. Saya bernama Badu, seorang pedagang, tinggal di Villa Puncak Tidar, beragama Kristen, lulusan Harvard tahun 1998, dan sebagainya dan sebagainya. Demikianlah, ego membuat kita punya jati diri, sebuah identitas yang membuat kita berbeda dengan manusia lain.

 

Dua, keterpisahan.

Paragraf di atas mengandung kata “berbeda”. Yep, itulah bibit dari ciri berikutnya: keterpisahan. Karena masing-masing punya identitas, kita terpisah satu sama lain. Saya yang seorang guru dan dari suku Jawa berbeda dan oleh karena itu terpisah dari Anda yang suku Tionghoa yang berprofesi sebagai pengusaha. Si Badu di paragraf sebelumnya terpisah dengan orang lain yang mungkin seorang Moslem, petani, dan tinggal di bantaran sungai Brantas. Demikianlah, ego membuat kita terpisah bukan hanya secara fisik tapi juga secara pendidikan, status sosial, agama, jenis kelamin, jabatan, dan sebagainya.

 

Tiga, ingin lebih.

Pernahkah Anda merasa bahwa sulit sekali merasa “cukup”? Bahkan ketika Anda sudah meraih puncak prestasi pun, Anda masih merasa “hmm, saya ingin lebih baik lagi”, atau “saya ingin status juara ini lebih lama; tahun depan harus terbaik lagi, tahun depannya juga harus terbaik lagi”. Salah satu contoh paling gamblang adalah ketika main sebuah game. Anda selalu ingin lebih cepat, meraih poin lebih banyak, mengalahkan musuh lebih banyak dan seterusnya. Pengusaha ingin mendapat untung lebih banyak; si peneliti ingin menulis artikel lebih banyak; si mahasiswa ingin meraih nilai lebih tinggi; sang narsis ingin memiliki lebih banyak “like” di foto selfienya; si penggila gadget selalu ingin membeli gadget yang lebih canggih. Lebih, lebih, lebih, itulah ego, sebuah sumur tanpa dasar, sebuah entitas yang tidak pernah merasa cukup.

 

Empat, penghakiman

Penghakiman,atau judgment, adalah ciri ego yang sedemikian kuat dan intensnya sehingga kita nyaris merasa tidak ada yang salah dengan ini. Hitung berapa kali kita menghakimi/menilai orang lain? “Kamu huana, makanya males”; “Kamu Cina, makanya pelit”; “dia bodoh”; “dia jahat” dan sebagainya. Jangankan kepada orang yang kita kenal, bahkan kepada orang yang kita berpapasan di jalan pun kita cenderung menghakimi/menilai: “wih, orang itu gemuk sekali!”; “tuh, orang kaya, sombong”; “wih, orang itu pendek amat!” dan sebagainya, dan sebagainya.

Kadang-kadang penilaian kita lebih positif: “wah, orang itu sexy ya!”; “wah, dia pintar”; “dia baik” dan sebagainya. Tapi tetap saja ini adalah satu bentuk penghakiman, sekalipun sifatnya positif. Yah, mau positif atau negatif, semuanya berada pada satu kontinuum dengan dua polaritas di ujungnya: jelek/negatif dan baik/positif.

 

Lima, semua memusuhi saya.

Nah, yang satu ini adalah dampak dari keterpisahan  dan penghakiman yang sudah saya gambarkan sebelumnya. Karena terpisah dari orang lain (yang sebenarnya juga terpisah dari Sang Hidup) dan cenderung menghakimi, kita banyak kali merasa kitalah korban dari perbuatan orang lain, atau kita merasa bahwa mereka sedang memusuhi kita. Lihat aja, ketika sedang nyetir dan tau-tau ada mobil serampangan membelok tanpa kasih tanda di depan kita, kita akan membatin: “kurang ajar! Itu tindakan sembrono terhadap saya!”. Contoh lebih umum sering terjadi di sebuah organisasi: “orang-orang ini tidak mau bekerja sama dengan saya; mereka membenci saya, tidak suka sama saya”, atau “kebijakan baru ini membuat saya harus berkorban. Mereka membuat saya jadi korban atau tumbal untuk semua karut marut ini!”.

 

Enam, dilanda perasaan waspada, marah, curiga, sedih.

Karena kelima sifat yang tadi saya gambarkan di atas, maka tidak heran bahwa ego cenderung membuat kita merasa waspada (“awas, si A dan B sedang berkonspirasi mau menjatuhkan saya”), atau marah, curiga, dan sedih. Itu semua pernah kita rasakan, bukan? Jadi memang demikianlah kerja sang ego. Di samping pada satu sisi berguna untuk mempertahankan eksistensi kita, di sisi lain ternyata banyak sisi gelap ego yang kalau kita turuti hanya akan membuat kita sengsara.

 

Lha terus gimana caranya supaya tidak larut dalam ego? Ya jangan melekat padanya. Jangan menganggap bahwa si ego itu adalah diri Anda yang sejati. Tapi untuk itu nanti saya bahas di posting berikutnya. Untuk saat ini, cukuplah bahwa kita sadar akan ciri-ciri  sang ego.

 

 

 

 

Posted in: Uncategorized