Mau Nikah Tapi Sama Siapa

Posted on August 11, 2015

0


Ini lanjutan kisah seseorang yang sedang galau karena pada usia yang sudah sangat matang belum menemukan jodoh juga. Padahal keluarganya sudah saben hari mendesaknya untuk segera menikah. Sampai detik ini orang itu belum melepas juga status lajangnya. Lebih parah, dia sedang terlibat dengan hubungan cinta dengan seorang demit yang kalau malam ujudnya nampak, kalau pagi hilang. Mau nikah tapi sama siapa? Apa rela dia melepas demit itu atau tidak?

Banyak dari kita yang tenggelam dalam situasi gentayangan seperti ini. Kalau Anda seorang karyawan, Anda mungkin sedang galau memutuskan untuk keluar dari lembaga Anda yang sekarang ataukah lanjut disitu. Kalau Anda seorang atasan, Anda mungkin akan bingung memutuskan apakah menerima lamaran dari seorang calon pegawai atau menolaknya. Banyak lagi situasi yang potensial membuat galau itu, yang kesemuanya bisa diringkas dalam satu pertanyaan: “Ya atau tidak?”.

Maka berduyun-duyunlah orang-orang ini menemui seorang penasihat spiritual (setelah upayanya untuk menemui pastor, khatib, imam, dokter segala macam ternyata gagal karena mereka tidak bisa memberikan jawaban yang cespleng tapi malah berkhotbah panjang lebar yang tidak terasa masuk).

Jawaban spiritual itu sangat sederhana. Kalau Anda mengharapkan jawaban yang manjur seketika, langsung bisa menyelesaikan masalah, Anda akan kecewa. Jawaban orang yang tercerahkan itu sederhana saja:

“Hadirlah di masa ini, saat ini, dan disini. Jangan pikiri masa lampau, jangan kawatir masa depan, karena yang nyata hanyalah saat ini dan disini. Hadirlah disini, tanpa emosi dan gejolak ego berlebihan. Biasa aja, nikmati apa yang ada dan terima semuanya dengan penuh syukur”.

“Lho kok mek ngunu tok, Mbah?” tanya teman kita yang dipaksa-paksa nikah tadi.

“Iya,” jawab si Mbah yang bijak itu. “Sudah, hadirlah saja saat ini dan disini. Matikan ego dan pikiran, just drift into it with your consciousness. JUST DRIFT INTO LIFE!. Nanti suatu saat akan ada bisikan dari Alam atau Yang Hidup ini langkah apa yang harus kamu ambil. Demikian pula, jika memang Alam merasa sudah saatnya kau menikah, Dia akan mendatangkan jodohmu dengan cara yang sungguh tak disangka-sangka. Sudahlah, jangan resah, hadirlah sekarang dan disini, itu saja.”

Suatu penyerahan total terhadap Hidup. Percaya bahwa sang Hidup ini punya kecerdasan luar biasa yang kalau kita dengarkan akan membawa kita pada kesadaran; KESADARAN, bukan sekedar kepuasan atau kebahagiaan semu.

Ternyata si bijak ini juga punya pengalaman serupa di masa mudanya. Ketika dia menjadi dosen di sebuah Universitas terkenal di Inggris, sebenarnya dia sudah merasa tidak nyaman dengan keangkuhan intelektual dan ego akademis orang-orang di sekitarnya. Tapi gajinya dari mengajar cukup besar. Jadi gimana? Undur diri atau tidak? Demikianlah, dia memutuskan untuk mengalir saja seperti itu, ngajar ya ngajar, membimbing ya membimbing, sampai akhirnya dia terbangun suatu pagi dan ada bisikan kuat di hatinya: “Ok, cukuplah sudah. Ayo mengundurkan diri hari ini juga”.

Dia pun mundur dari profesi dosen, lalu berkelana kemana-mana dan orang mengenalnya sebagai seorang spiritualis.

Jadi jawaban untuk kita-kita yang sedang galau dalam memutuskan sesuatu ini sederhana saja: “hadirlah disini, saat ini; jangan melabeli apapun dengan baik atau buruk; jangan mangkel, jangan kawatir berlebihan, jangan mendendam, jangan bingung; pasrahlah pada apapun yang sedang terjadi. Maka, suatu saat entah kapan, jalan keluar itu akan ditunjukkan kepadamu. Bisikan itu akan sangat unik, dan kamu akan merasakannya sebagai sesuatu yang keluar dari Kesadaran, bukan sekedar letusan dari ego yang terpendam.”

Maka perkenankan saya menutup posting ini dengan sebuah kutipan yang bagus:

“When instead of reacting against a situation, you merge with it, the solution arises out of the situation itself”

“Surrender to what is. Say YES to LIFE–and see how life suddenly starts working for you rather than against you”.

Posted in: Uncategorized