Menjadi Kaya Secara Spiritual

Posted on July 28, 2015

0


Teman karib saya berdebat dengan saya suatu siang tentang ET, seorang spiritualis yang sedang gencar-gencarnya saya dengarkan setiap hari dan saya baca bukunya setiap malam.

Teman: “kamu tahu si Tolle itu kerjaannya apa?”

Saya: “Ya dia ndak punya kerjaan. Drop out S3, terus jadi seorang guru spiritual yang berkeliling dari satu negara ke negara lain menginspirasi orang dengan pencerahannya”.

Teman: “Lha itu, dia dapat duit kan dari situ?”

Saya: “Ya iyalah. Dia juga punya acara sendiri di TV, nulis buku, ceramah, dan sebagainya. Ya dapatlah dia nafkah secukupnya untuk hidup layak”.

Teman: “Lha itu. Ya jelas aja dia selalu ngomong yang baik-baik, supaya orang datang dan membayarnya kan? Kalau dia benar-benar suci, mestinya gak usah narik bayaran.”

Saya agak kewalahan sampai disini. Tapi terus saya bilang: “Ya, ndak ada salahnya kan dapat nafkah halal dari situ? Emang kamu mau ada pelanggan datang ke tokomu terus kamu kasih semuanya gratis?”

Perdebatan tak berujung itu lalu jadi ribet sendiri sampai kami capek.

Tapi pertanyaan itu terus mengusik saya: bagaimana seorang guru spiritual bisa hidup layak? Ya tentunya dengan menjual jasanya. Apakah itu berarti mengkomersialkan ilmunya? Ya, mungkin saja, tapi mungkin nafsu komersialnya ya ndak segitu rakusnya. Karena dia seorang spiritualis, sudah pasti dia tahu kata “cukup”. Lain halnya kalau dia konglomerat yang egonya selalu mengatakan: “aku ingin LEBIH”.

Lalu suatu pagi saya tak sengaja mengklik video si Tolle ini. Ada seorang wanita yang bertanya demikian kepadanya: “kalau suatu saat kami semua tercerahkan, dan semua orang juga tercerahkan, akhirnya ndak ada lagi orang yang mau datang ke ceramahmu dan beli bukumu. Kamu akan bangkrut. Terus gimana, Le?”

Saya menduga Tolle akan kelabakan menjawab ini. Eh, ternyata tidak. Dengan tetap tersenyum dan dengan suara kalem seperti biasanya, dia menukas: “Oh, yeah, that would be wonderful!”

That would be WONDERFUL!

Saya tidak mengira jawabannya bisa begitu sederhana, dan cepat pula.

Lalu baru saya sadar tidak ada gunanya saya terheran-heran. Ya iyalaaah, seorang yang sudah tercerahkan seperti dia tujuan hidupnya hanya satu: tercerahkan, dan menyatu dengan Tuhan! Perkara dia akhirnya ndak laku kemudian ekstremnya sampai mati kelaparan karena ndak punya duit, ya, pasti tidak jadi masalah buat dia. Kan yang mati hanya tubuh dan egonya? Kan dengan kematian itu dia bahkan bisa bebas sebebas-bebasnya menjumpai dan menyatu dengan sang Maha Kesadaran yang selama ini selalu dipujanya?? Bukankah ini sesuatu yang sangat luar biasa membahagiakan?

Jadi ya memang betul sekali jawaban si Tolle itu: “that would be WONDERFUL!”

Berikut ini beberapa ungkapan tentang menjadi kaya yang saya suka dari beberapa bijak:

1. Beberapa orang sedemikian miskinnya sehingga yang mereka punya hanyalah uang.

2. Hidup dan uang ibarat perahu dengan air. Perahu memerlukan air, tapi jangan sampai air masuk ke perahu sehingga menenggelamkan perahu itu. Jadi jangan sampai pula uang menguasai semua sel tubuh dan pikiran kita dan membuat kita tidak sadar.

Posted in: Uncategorized