Traveling Sendirian

Posted on July 27, 2015

4


Pada suatu waktu dalam hidup, kita pasti pernah harus bepergian ke luar kota atau bahkan ke luar negeri sendirian. Entah karena ndak punya cukup uang untuk bepergian sekeluarga atau bersama teman, atau memang ditugaskan sendirian, . . . atau memang ingin bepergian sendirian.

Ada enaknya bepergian sendirian. Yang jelas kita tidak perlu menunggu teman atau pacar yang sedang sibuk belanja atau tidur atau mandi atau apa lah. Kita berangkat ke mana-mana ya sendirian, ndak usah pake nunggu teman. Keuntungan lain adalah tidak usah ribut memutuskan sesuatu. Mau tidur seharian di kamar hotel ya ndak mengapa; mau jalan ke mall atau ke pantai ya ndak mengapa juga, ndak ada yang ngerecokin maunya kesini atau kesitu.

Untuk yang masih belum punya tambatan hati, bepergian sendirian kadang-kadang membuka jalan tak terduga ke arah pertemuan dengan seorang asing yang ternyata adalah jodoh. Ketemu, bertatap muka, mendadak merasa nggliyeng dan membatin: “Ini dia my soulmate!”, lalu berkenalan dan bercakap-cakap. Kalau sedang ke Bali mungkin bisa dilanjutkan dengan kencan di kamar hotel atau di wisma-wisma apalah, atau kalau ndak ya sekalian di pantai Kuta aja.

Bepergian sendirian hanya satu ruginya: ndak punya teman ngobrol, dan rawan digendam. Kalau udah digendam, bisa tau-tau ndak ingat apa-apa dan sewaktu sadar sudah di rumah sakit, atau di kantor polisi karena mabuk. Waktu mau mencari dompet dan barang-barang lainnya, alah, sudah hilang semua digondol kabur si penggendam. Begitulah. Never talk to strangers. Jaman sekarang, banyak penggendam berkeliaran mencari mangsa.

Seorang kenalan yang sumpek karena dipaksa menikah sama keluarganya akhirnya kabur ke Bali, sendirian. Pikirnya, dia bisa bebas dari tekanan yang membuat stress itu. Entah apa yang dia mau lakukan disana. Bisa merenung, jalan-jalan ke pantai, pergi melihat candi atau artefak kebudayaan yang lain, makan-makan dan sebagainya. Bepergian sendirian memang membebaskan. Apakah pada akhirnya masalah kejombloan itu terselesaikan (karena tanpa sadar ketika bepergian sendirian kita mengirim pesan non verbal: “saya sendirian. Silakan kalau ingin menemani”), atau karena sudah bisa menemukan kedamaian dalam kesadaran diri yang hening dan jauh dari hiruk-pikuk pikiran dan penghakiman manusia lain . . .

Posted in: Uncategorized