Kematian Itu Sederhana

Posted on July 23, 2015

0


21 tahun yang lalu Ayrton Senna, dewa balap F1, meninggal di trek Imola setelah mobilnya menabrak dinding pembatas dalam kecepatan 213 km/jam. Minggu lalu, 21 tahun kemudian, kejadian menyedihkan itu terulang. Kali ini menimpa pembalap muda Perancis bernama Jules Bianchi yang cedera parah setelah mobilnya menabrak crane dalam kecepatan 202 km/jam di sirkuit Suzuka. Setelah 9 bulan koma, dia berpulang minggu lalu.

Apakah kematian?

Kita tidak bisa memahami kematian dengan menggunakan logika, pikiran, dan emosi, karena ternyata kematian lebih misterius daripada apa yang bisa dicapai oleh ketiga sarana tersebut. Maka tidak heran kalau banyak orang masih berdebat mengenai apa sebenarnya kematian tersebut, dan kemana manusia setelah mati.

Namun penjelasan para spiritual seperti Deepak Chopra, Teal Swan, dan Eckhart Tolle mungkin bisa menawarkan jawaban. Ternyata cara mereka menjelaskan relatif sederhana. Tidak rumit, dan . . . menenangkan.

Lihatlah sebuah radio. Ia menyuarakan lagu-lagu, siaran berita, wawancara, iklan dan segala macamnya. Begitu hidup, begitu penuh dengan vitalitas. Kenapa dia bisa begitu? Ya karena semua komponen didalamnya berfungsi dengan baik sehingga dia bisa menerima GELOMBANG yang dipancarkan dari stasiun radio ratusan mil jauhnya.

Namun suatu ketika ada beberapa komponen yang mulai aus, lalu rusak. Mungkin baterenya drop, atau mungkin IC nya terbakar. Maka matilah radio itu. Bisu. Diam. Tak ada lagi kehidupan di dalamnya.

Lalu kemana GELOMBANG radio yang tadi hinggap di dalamnya? Gelombang itu tidak ikut mati; dia melesat lagi ke udara, terus menerus memancar sampai ada perangkat radio lain yang menangkapnya dan jadilah dia masuk kesana, membuat sang radio itu bernyanyi, melawak, memberitakan ini itu dan sebagainya.

Radio dan perangkat di dalamnya itu adalah tubuh, ego, dan pikiran kita, sementara GELOMBANG tadi adalah sang JIWA, sang Being yang diyakini oleh para spiritual itu sebagai “sesuatu yang tak terikat waktu, tak pernah dilahirkan, tidak pernah mati, tidak bisa dihancurkan, tidak punya awal, dan tidak punya akhir”.

Jadi ketika kita mati, yang mati adalah tubuh, ego, dan pikiran kita. Jiwa kita tidak akan mati. Dia kembali menjadi KETIADAAN, sesuatu dari mana semua YANG ADA bisa lahir. Itu juga (mungkin) menjelaskan kenapa kita tidak bisa mengingat kejadian setelah kita mati. Lha gimana bisa ingat, wong ndak punya pikiran, ndak punya perasaan?

“Wah, ngeri dong,” kilah seseorang. “Ndak bisa ingat apa lagi, ndak bisa rasa ini rasa itu, betapa mengerikannya”.

Justru sebaliknya. Anda pikir hidup yang penuh dengan ingatan masa lampau dan kecemasan akan masa depan ini enak? Ego kita terikat pada masa, pada waktu, dan oleh karenanya menjadi sumber penderitaan; sementara itu, ketika kita mati, kita tidak akan lagi terikat pada ruang waktu, tidak terikat lagi pada kenangan masa lalu atau kecemasan masa depan. TIMELESS realm, sebuah dunia nir-waktu!

Jadi ketika kita mati dan dibaringkan di peti, yang disitu itu hanyalah kelonthongannya aja. Kelonothongan ini adalah basa Jawa, artinya adalah :”bungkusnya doang”. Sang spirit sudah tidak lagi disitu. Dia sudah bebas, telanjang tanpa malu, ada dimana-mana tanpa takut, tidak terikat waktu, tidak terikat pikiran, tidak terikat agama dan segala macam aliran bel geduwel beh itu.

FREE.

Sampai ada lagi peluang untuk mewujud menjadi daging dan darah ketika sebuah sel sperma menyatu dengan sel telur . . .

Posted in: Uncategorized