Bunuh Diri: Mengapa Tidak?

Posted on June 23, 2015

2


Posting ini saya tulis bukan karena saya ingin bunuh diri, tapi karena saya penasaran dengan topik yang satu ini. Itu ditambah dengan keheranan dan keprihatinan akan beberapa orang yang saya kenal yang terang-terangan ingin bunuh diri ( = budir).

Saya pernah mencari-cari berbagai referensi tentang budir, namun tidak satupun yang menjawab secara memuaskan. Yang sering saya jumpai bahkan berupa cercaan: “budir adalah dosa, karena mendahului kehendak Tuhan”. Semakin saya tua, semakin saya merasa tidak sreg dengan segala hal yang memuat kata “dosa” di dalamnya. Maka cacian semacam itu pasti tidak akan saya baca lagi.

Nah, saya lalu lihat apa yang dikatakan seorang spiritualis wanita bernama Teal Swan. Menurut nona Swan, orang yang ingin budir kebanyakan memiliki pikiran-pikiran sangat negatif tentang lingkungan dan bahkan dirinya sendiri. Rasa sakit fisik yang sudah bertahun-tahun tak tersembuhkan, putus cinta, putus asa karena melihat semua jerih upaya rontok, ketakutan akan konsekuensi berhutang, depresi, merasa hidup tidak punya tujuan, merasa hampa, adalah hal-hal yang sering saya baca sebagai penyebab budir.

Sebenarnya, ketika orang-orang ini berpikiran seperti itu, di alam metafisiknya (bawah sadarnya) mereka menciptakan, atau merindukan, kondisi yang berlawanan, yaitu energi yang lebih positif: kesehatan, cinta, terpenuhinya harapan, hutang terbayar, suka cita, jelasnya tujuan hidup, hidup yang penuh berkat dan exciting, dan sebagainya yang bagus-bagus. Sang Alam (yakni kesadaran yang maha tinggi) tahu kehadiran energi positif ini dan makin lama makin memperkuatnya, tanpa sang penderita menyadarinya.

Swan mengatakan orang-orang ini tidak mampu berekspansi (“they are unable to expand”). Berekspansi artinya mengikuti perkembangan sang Jiwa sampai pada tahap-tahap yang berlawanan dengan energi negatif tadi. Ibaratnya ikut tur, seseorang harus mengikuti tur itu mulai dari awal berangkat dari hotel sampai ke puncak gunung tempat tujuan tur itu, dan kembali ke hotel lagi. Seorang yang mau budir sama dengan seorang turis yang tau-tau sudah mutung tidak melanjutkan perjalanan padahal turnya baru sampai ke tujuan pertama. Jadi, ketika mereka lebih sabar dan tahu bagaimana caranya berekspansi, mereka akan merasakan energi positif tersebut. Namun karena cara pandangnya selalu negatif, mereka bahkan tidak pernah menengok ke arah energi-energi positif yang diciptakannya di bawah sadarnya tadi. Nengoknya melulu ke arah energi negatif yang serba muram tadi.

Lalu apa yang terjadi? Terciptalah kesenjangan antara energi negatif dengan energi positif yang belum mewujud tadi. Makin lama kesenjangan ini makin besar; sang penderita makin galau, makin buta, makin tersesat, sampai akhirnya dia tidak bisa menahan lagi dan minumlah dia sebotol racun, atau menyayat nadinya sendiri, atau terjun dari lantai 17, atau menembak kepalanya sendiri, atau gantung diri.

Ketika dia mati, kesenjangan tadi pun hilang. Dia melesat ke suatu dunia dimana dia menemukan energi-energi positif yang tercipta sebagai akibat polarisasi dari energi negatif yang dirasakannya ketika masih berwujud daging dan darah. Namun bukan cuma itu: di dekat energi-energi positif tadi dia juga mendapati semua energi negatif. Memang seperti itulah akhir dari perjalanan jiwa kita: kembali pada titik nol, kembali pada suatu tempat dimana yang tersedia adalah pilihan plus atau minus.

Jadi, budir sama seperti menekan tombol “Reset” di komputer atau gadget kita: semua kembali ke awal, ke titik pangkal. Orang-orang spiritual menyebutnya The Unmanifested Source, sumber tanpa perwujudan yang segera berubah menjadi perwujudan fisik dan pikiran ketika kita memasuki alam fana yang tak lain adalah dunia materi ini. Swan menyebutnya :”align with the Higher Perspective”.

Menurut Swan, reaksi normal dari orang yang punya kenalan ingin budir adalah mencegahnya. “Namun, apakah kamu tahu sejarah hidupnya? Apakah kamu tahu bahwa dengan tetap hidup dia akan menjadi lebih baik atau lebih bahagia?”

Jadi, nah ini yang membuat shock dari Swan, dia bilang: “Kalau ada teman yang ingin budir, ya sudah, Anda persilakan saja dia untuk melakukannya. Wong itu hanya seperti menekan tombol “Reset” di komputer, kok.”

Wew! Saya terperangah. Cara pandang seorang spiritualis memang kadang-kadang bisa mengagetkan kita-kita yang sudah terbiasa hidup dalam penjara ego dan bingkai-bingkai berlabel “katanya agama saya”, “katanya orang tua”, “katanya orang” dan lain-lain.

Lama saya merenung. Lalu bagaimana caranya bahagia? Kenapa harus ada kesedihan, kehampaan, depresi, kecemasan, dan sebagainya yang jelek-jelek itu?

Sampai disini rasanya kita perlu menyimak Eckhart Tolle yang ceramahnay selalu berujung pada suka cita sejati sebagai Being. Tentu panjang lebar yang bisa dia katakan, namun intinya tersirat dari pesan sangat dalam ini: “Suffering is necessary until you realize it is unneccesary”, dan satu lagi yang sangat bagus “Make your crucifixion become your resurrection and ascension”.

Posted in: Uncategorized