Seni Berbicara

Posted on June 18, 2015

0


Mantan murid saya yang baru jadian sama seorang pria bercerita bahwa dia akhirnya memutuskan untuk bubaran dengan pria itu. “Yah, ada beberapa ketidakcocokan lah,” katanya, seolah malas menceritakan alasan sebenarnya. “Tapi satu hal yang jelas, salah satunya adalah karena dia terlalu banyak bicara”.

Hah?

Beberapa wanita menyukai pria yang tidak banyak bicara. Mereka tidak suka pria terlalu banyak omong. Alasannya, dengan terlalu banyak bicara seseorang cenderung kurang mau dan kurang mampu mendengarkan. Bayangkan, kencan 4 jam, hampir 3/4 nya dibuat untuk mendengarkan ocehannya. Apa ndak pekak yang namanya telinga? Yang membuatnya lebih jelek adalah kebanyakan yang diomongkan ya soal dirinya sendiri. Kalau sudah gitu, mau menyelanya dan menceritakan diri sendiri akan sangat sulit.

Wih saya pernah lho punya teman kayak gini. Orangnya sih baik. Tapi kalau misalnya saya melihat dia di mall, saya akan buru-buru masuk WC atau pura-pura jatuh pingsan. Kenapa? Ya karena teman satu ini yaoloooh minta ampun kalau sudah bicara. Terusss ngggedabrus dari satu topik ke topik lainnya tanpa bisa disela sedikitpun. Saya benar-benar bisa lelah menghadapinya. Kami sudah berteman selama hampir 20 tahun, tapi kebiasaan itu ternyata sudah melekat pada dirinya, sehingga ketika kami bertemu di sebuah acara di kampus ini tahun lalu, sekali lagi saya harus kewalahan mendengarkan ceritanya yang terus sambung menymabung tanpa putus.

Menurut beberapa wanita itu, pria yang banyak bicara juga pada umumnya ndak banyak uangnya, karena waktunya habis hanya dipakai untuk berbicara. “Talking much but saying nothing” kata dosen saya dulu. Jaman sekarang ada istilah yang lebih menyedihkan: “talking shits”.

Mantan murid saya, kali ini pria, juga barusan bercerita bahwa dia barusan putus dengan pacarnya. “Yah, ada beberapa alasan lah, ” kilahnya seolah malas menjelaskan kenapa. “Tapi satu hal, Pak, saya malas karena dia terlalu pendiam.”

Hah?

Beberapa pria suka wanita yang pikirannya dinamis dan hidup. Ini tampak dalam caranya bercerita atau berkata-kata. Ini mencerminkan bahwa dia tahu banyak hal dan punya pendapat sendiri, dan tidak malu-malu mengungkapkan pendapatnya ke orang lain. Nah, kalau dia lebih banyak diam, pria-pria itu akan merasa apakah si wanita ini tergolong lemot sehingga sedikit sekali berkata-kata? Atau jangan-jangan dia kurwas alias kurang wawasan karena tidak banyak membaca? Bayangkan dalam 4 jam kencan, sebagian besar waktu digunakan si pria untuk mengisinya dengan berbagai topik, dan si wanita hanya diam saja atau ber “hmmmm” saja. Mampuslah si pria karena bingung.

“Jadi ya sudahlah, saya akhiri saja” kata murid itu. “Mungkin dia punya ilmu kebatinan sehingga lebih banyak diam”

Hahaha . . .

Posted in: Uncategorized