Orang Gila Itu Apakah Kita?

Posted on June 17, 2015

0


Saya melihat pria itu duduk di tepi jalan bekas rel kereta. Pakaiannya lusuh, setengah compang camping. Wajahnya gelap. Sinar matanya nanar. Jambang dan kumisnya pating njerawut liar tak terurus. Dia mengomel-ngomel sendiri. Sebagian omelannya sempat saya tangkap:

“Wedok gak ngerti rasane dadi wong lanang. Cerewet. Pateni ae . . ”

Dan bla bla lagi, masih panjang. Karena ngeri, saya cepat-cepat berlalu dari tempat itu.

Mungkin ada beberapa dari kita yang pernah melihat manusia seperti itu. Biasanya mereka meracau sendirian tidak jelas juntrungannya. Sebagian besar ocehannya bernada marah atau frustrasi, tidak jarang diselipi dengan makian-makian kasar.

Kita semua sepakat menjuluki mereka “orang setress”, atau bahkan “orang gila”.

Tapi, tunggu sebentar. Coba pikir lagi. Eh, ternyata kita juga melakukan hal yang sama!

Coba dengarkan baik-baik suara-suara dalam kepala kita. Dengarkan betapa riuhnya suara-suara itu memenuhi benak kita.

Nah, kan, ternyata kita juga meracau seperti manusia-manusia yang kita bilang “setress” atau “gila” itu tadi. Bedanya hanya bahwa mereka mengucapkannya keras-keras, sementara kita meredamnya dalam hati.

“Lho, tapi kan suara-suara pikiran kita itu lebih ilmiah? lebih logis?” demikian mungkin seseorang mencoba membantah.

Ah masa? Coba kita dengarkan lagi suara-suara pikiran kita itu. Kita akan mendapati bahwa sebagian besar di antaranya–kalau tidak bisa dibilang semua–adalah tentang hal masa lampau, atau masa depan. Anything but the present moment!

Omongan kita di masa lalu kebanyakan berkaitan dengan dendam atas ucapan dan tindakan orang lain di masa lampau (“kemarin dia mengatakan sesuatu yang menyakitkan; minggu lalu tetangga depan rumah ini bikin gara-gara; sepuluh tahun yang lalu dia menolak cintaku”), atau penyesalan akan sesuatu yang tidak dilakukan (“mestinya aku ambil saja pinjaman itu; mestinya aku gampar saja orang itu; mestinya aku hamili saja dia supaya tidak keburu direbut orang”).

Sementara itu, racauan kita akan masa depan kebanyakan berupa kecemasan (“gimana kalau sampai semester depan skripsiku belum selesai? aku akan ditinggalkan kekasihku; gimana kalau dia jatuh hati ke orang lain? gimana kalau aku nanti tua dan sakit-sakitan? gimana kalau nanti bisnisku bangkrut?”) atau ambisi: (“tahun depan kita harus menduduki peringkat pertama kampus terpelit di Indonesia; semester depan IP ku harus 4”) dan sebagainya dan sebagainya.

Apkah itu logis? Tidak juga, wong semua itu tidak nyata. Yang di masa lampau sudah tidak akan bisa diubah; mbok mau menyesal atau dendam sampai modar pun ya tetap seperti itu lah masa lampau itu. Sudah terjadi. Sementara itu, yang di masa depan pun juga sama tidak nyatanya, wong belum terjadi. Yang di masa depan itu kan “akan”. Yang masih akan sudah pasti tidak nyata, atau setidaknya belum nyata.

Jadi begitulah, ternyata kita ya sama saja gemblungnya dengan orang setress yang meracau tadi. Pikiran kita penuh dengan omelan, makian, keluh kesah, dan dentam dendam yang semuanya adalah tentang masa lampau dan masa depan. Bedanya kita dengan mereka adalah bahwa kita tidak mengucapkannya lantang-lantang, dan kita punya pekerjaan, punya status sosial entah itu sebagai dosen, guru, pegawai, manajer, mahasiswa. Tapi ya itulah, dalam hal meracau kita ternyata sama gilanya! Hahahaha!

Lha terus bagaimana supaya tidak gemblung?

Mbok sekali-sekali pikiran kita yang riuh rendah dan kacau balau itu dimatikan sejenak. Berhentilah berpikir. Sadarilah bahwa yang nyata adalah MASA KINI dan DISINI.

Sssshhh. . . . . quiet! Be here and now! Enjoy the PRESENT moment! Mengucaplah syukur untuk SAAT INI dan DISINI . . . .

“Our mind is so noisy that many times we cannot hear the whisper of our simple but loving Soul”.

Posted in: Uncategorized