Jurassic World

Posted on June 15, 2015

0


Sejak nonton “Batman” sekitar 2 tahun yang lalu, saya gak pernah nonton lagi. Diajak nonton “Insidious 3” , lewaaat! Diajak nonton “Tommorrow Land”, lewatt! Dasarnya saya ndak suka keramaian mall. Makanya ketika setengah dipaksa untuk menonton Jurassic World di Matos Sabtu lalu, saya sebenarnya ogah. Tapi saya tak berdaya: lha bayangkan, 4 tiket disodorkan ke muka saya: “Hmm, iki lho! Deloken tah! Gratiss dari Bank Niaga! Gak eman tah kamu?? Ha? Gak eman tah??!”

Maka saya pun berangkat.

Itu pun masih pake acara telat segala karena saya masih makan ini lah, masih ke WC lah. Tapi akhirnya ya masuk lah saya ke gedung bioskop.

Pulau yang dijadikan tempat penangkaran dan sekaligus tontonan Dinosaurus itu membuat saya ngiler. Kapan ya bisa beli pulau subur kayak gitu? Nama binatang unggulannya mengerikan: Indominus Rex. Ceritanya ini adalah hasil persilangan antara gen hewan-hewan dinosaurus lainnya, ditambah dengan kecerdasan yang melebihi spesies reptil raksasa itu pada umumnya. Makanya, pintar sekali dia mengelabui penjaganya: dibuatnya bekas-bekas cakaran di dinding penjaranya supaya sang penjaga mengira dia kabur. Begitu diperiksa, eh, ternyata dia masih sembunyi disitu. Dan groaarrr! Korban pun berjatuhan.

Teknik animasi Hollywood yang dikomandani Steven Spielberg memang mencengangkan. Sangat kelihatan nyata: manusia dilahap, hewan dicengkeram cakar raksasa terus dibanting, manuk bersayap lebar terbang menguak-nguak sambil mencocoli siapapun yang dia lihat lari lintang pukang di bawah. Sudah gitu suasananya dibuat makin mencekam dengan tata suara Cinema 21 yang bisa membuat saya merasa berada di tengah-tengah kejadian sesungguhnya. Suara bercicit, kemrosak, meledak dan sebagainya bisa datang dari arah belakang atau kiri kanan studio. Keren.

Tapi ada satu yang akhirnya membuat saya tersenyum simpul: khayalnya. Lho iya, saya tahu semua itu pasti khayal, tapi yang satu ini sungguh terlaluuuu! Itu tuh, si cewek. Sepatunyaaaa! Masa dengan sepatu high-heels seperti itu dia bisa berlari-lari kesana kemari, bahkan tak terkejar oleh seekor T-Rex! Hahahaha! Ketok khayaleee!

Satu lagi adegan yang saya kira sungguh keterlaluan: ciuman! Itu tuh, si cewek berciuman dengan si lakon pria yang ternyata adalah mantan pacarnya. Jiambu! Emang kenapa sih kalau gak ada adegan ciumannya. Ini mengingatkan saya pada film “Batman The Dark Knight Rises”: sudah kurang dari semenit roket nuklir mau meledak malah manusia kalongnya sibuk ciuman. Blah! Kenapa saya mempermasalahkan adegan ciuman itu? Ya karena selain terasa gemblung di tengah adegan yang mencekam juga membuat saya kepingin, ha ha haaa! MMuacchhh!

Lalu satu lagi adegan yang terasa kurang dipersiapkan dengan matang. Ketika si Indominus Rex sudah lenyap ke laut ditelan dino paus raksasa, keempat lakon itu muncul dari tempat persembunyiannya dan melenggang ke tengah arena. Gaya jalannya itu lho yang membuat saya ketawa. Lha wong habis bertempur habis-habisan dan dikejar-kejar dinosaurus kok jalannya kayak orang masuk mall aja. Lenggang aja tuh, santai aja. Kalau saya sutradaranya nih ya, saya akan menyuruh mereka untuk berjalan dengan agak terpincang-pincang atau gemetaran gitu.

Lepas dari itu kegarangan dinosaurus di film itu membuat saya jadi suka sama mereka. Sayang sekali, mereka sudah punah. Coba endak, dan mereka masih ada di Bumi, mungkin Bumi lebih subur dan lebih hijau karena sebuas-buasnya dinosaurus mereka kan tidak pernah mengeruk bumi atau mendirikan kompleks perumahan yang akhirnya membuat Bumi merana? Kita manusia ini memang dajjal kabeh, iblis cerdas maha buas yang merusak ekosistem yang suci ini.

Ini nih favorit saya: Velociraptor. Lebih kecil dari T-Rex, tapi larinya cepat, cerdik, dan tentu saja buas.

Velociraptor_1

Maka saya pun tergetar menyaksikan adegan penutup film itu. Seekor T-Rex keluar dari tempat persembunyiannya, manggung di tengah arena di puncak bukit, dan menggentarkan Bumi dengan raungan dahsyatnya: Grroarrrrrr!!!!

T-REX

Posted in: Uncategorized