Ssssshh. . . .

Posted on June 12, 2015

0


Keheningan dan ketenangan.

Bangunlah subuh, ketika matahari belum terbit dan hari masih gelap. Alih-alih membuka gadget dan memeriksa updates, berbaring sajalah di tempat tidur . . . .

Rasakan kesunyian itu. Malam yang sekarat, dibungkus keheningan . . . Bumi siap menggeliat ketika sinar pertama mentari menyentuhnya . . .

Samar-samar ada suara jangkrik mengerik atau suara adzan. Dengarkan saja, ndak usah dianalisis atau dipikir segala macam, dengarkan saja.

Just feel it. Dont think, just feel. Dont analyze things, just lie silent and feel the silence.

Lie still. . . .

Stillness is the absence of movement. What movement? Movement of thinking. Silence is also the absence of noise. What noise? The noise of the mind . . . .

So lie still, lie in silence.

====

Kesadaran yang selama ini saya baca dari buku-buku spiritual tak lain adalah keheningan dan ketenangan tadi. Semakin kita bisa merasakannya, semakin kita bisa mengambil jarak dengan pikiran dan ego yang terus menerus berisik, resah, dan menggeliat-geliat itu. Mengambil jarak bukan berarti meniadakannya. Pikiran dan ego tidak bisa dibendung. Maka kita hanya bisa mengamatinya tanpa rasa lewat kesadaran. Sekali dua kita akan terjebak pada pusaran ego dan pikiran, lalu marah, atau emosional, atau menjadi sangat serius. Orang yang SADAR akan mengambil sikap seperti ini: “Ok, itu aku sedang marah atau sedih. Tapi itu ego dan pikiran, bukan KESADARAN ini”.

Dimana kita bisa mendapatkan keheningan dan ketenangan itu? Disini dan sekarang. Here and now. Tidak di masa lalu, tidak minggu depan atau nanti atau besok, tapi SEKARANG dan DISINI.

Maka hening dan tenang juga berarti hadir disini dan saat ini. Kita memberikan respek tertinggi pada kesadaran itu ketika kita sadar akan disini dan saat ini. Orang Inggris menyebutnya dengan elok “The present”. Arti lain dari “present” adalah “hadiah”. Jadi, tidak berlebihan kalau saya katakan bahwa saat ini (the present) adalah hadiah (a present) buat kita semua. Saat ini, disini.

Mungkin Anda masih merasa sulit membayangkan kayak apa sih yang namanya kesadaran itu?

Kesadaran itu tidak bisa digambarkan, wong sebenarnya itu adalah ketiadaan bentuk (formlessness) kok. Maka agak sulit menggambarkan bagaimana kesadaran tersebut. Tapi untuk mudahnya bayangkanlah menjadi ruang maha luas yang memuat semua yang ada di alam semesta ini. Ruang itu maha luas, luass sekali, sedemikian luasnya sampai Anda tidak bisa lagi menggambarkan bentuknya.

Karena maha luas, maka dia menampung apapun yang ada, termasuk ego dan pikiran yang selalu resah dan umek tadi itu. Ok, Anda bisa bayangkan ego dan pikiran itu berkelebatan tanpa putus di depan Anda, untel-untelan, berteriak, menangis, ngomel, kadang-kadang misuh dan sebagainya.

Tapi Anda tetap berada di ruang maha luas tadi itu . . . Anda mengamati, tidak berpikir, tidak emosional, hanya diam, tenang, dan mengamati.

Tiba-tiba merasa marah atau merasa gemblung iki opo-opoan sehh?? Nah, itu Anda terseret oleh gelombang ganas ego dan pikiran tadi. Tarik, bro! Tarik lagi diri Anda ke ruang maha luas tanpa bentuk dan tanpa rasa itu tadi.

Diam lah. Tenang . . . .

Posted in: Uncategorized