Mari Mengganja dan Bebasss!

Posted on June 4, 2015

0


Daun ganja dikenal juga sebagai daun Cannabis. Setelah eksekusi Bali Nine beberapa minggu yang lalu, orang diam-diam berpikir: kayak apa sih rasanya mengganja?

Pagi ini saya menemukan satu link di Youtube yang menyiarkan ceramah seorang spiritualis bernama Teal Swan. Wanita Amerika berusia sekitar pertengahan 30 an tahun ini berbicara dengan lugas tentang Cannabis dan spiritualitas.

Menurut Teal, daun ganja adalah zat psycho active, yaitu zat yang mempengaruhi kesadaran kita. Daun ganja mempunyai efek membuat kesadaran kita berkembang. Maksudnya, kesadaran yang semula diredam oleh derasnya pikiran dan geraman ego yang ganas itu lalu menjadi jauh lebih besar dan menguasai pikiran dan ego tersebut. Daun ganja membuat otak kita terputus dengan pikiran. Karena pikiran adalah sumber keresahan, kecemasan, kegalauan, atau fantasi-fantasi pervert atau cabul, maka dapat dibayangkan betapa enaknya ketika kedirian kita ini bisa lepas dari semua itu. Pada saat Cannabis menendang itu, kita akan merasa menyatu dengan semua, SEMUA yang ada di alam ini (oneness); kita tidak lagi merasa harus bersikeras menahan sakit atau amarah atau nafsu (let go of resistance), kita akan merasa pasrah terhadap apapun yang akan terjadi (surrender), dan kita tidak akan melarang ini itu (allowing).

Maka dapat dibayangkan betapa nikmatnya berada dalam kondisi itu. Pikiran tidak lagi menguasai, ego tidak lagi membuat kita murung atau geram, dan semua yang kita rasakan adalah kepasrahan, menerima apapun adanya, tidak lagi menahan.

Itulah sebabnya saya anjurkan kita semua mulai mengkonsumsi ganja, karena ternyata ganja dan spiritualitas itu erat kaitannya. Ganja membuat kita menjadi Being atau insan yang sesungguhnya, tidak lagi terkotak-kotak dan terpisah-pisah dalam ego, pikiran, suku, ras, agama, antar golongan . . . Kita akan bebas dalam arti sebenar-benarnya.

Tapi sebentar, sek sek, ini kok Teal masih ngomong lagi? Ok, coba dengarkan . . .

Teal mengatakan bahwa efek ganja juga tidak lama (ingat kata Tolle: tak ada satupun di alam ini yang kekal, kecuali Ketiadaan itu sendiri). Setelah dia hilang, maka kita pun kembali dikuasai oleh pikiran dan ego. Pikiran menimbulkan kecemasan, ego menimbulkan geram dan kondisi waspada siap tempur yang melelahkan. Kita terpuruk. Lalu kita tentu merindukan keadaan menjadi satu dengan semuanya tadi tanpa terpenjara dalam ego dan pikiran. Maka beranjaklah kita untuk mengkonsumsi ganja lagi.

Kalau ini dibiarkan terus-terusan, maka akibatnya kita menjadi kecanduan ganja. Nah, bukan ini yang diinginkan oleh para bijak itu.

“Manusia tidak seharusnya menjadi spiritual dengan bantuan ganja. Manusia harus belajar dan berjuang menjadi sadar melampaui ego dan pikirannya, tapi tidak dengan cara tergantung pada zat seperti ganja” demikian kata Teal.

Jalan pintas menuju kedamaian spiritual yang diperoleh lewat ganja hanya akan membuat manusia terpuruk lagi, lalu segera mencari jalan secepatnya untuk kembali sadar dan nyaman. Akibatnya yang terjadi bukan sadar yang nyaman selamanya, namun perasaan melambung sesaat lalu ketagihan dan sakaw. Sebaliknya, kalau manusia belajar menjadi sadar dengan disiplin yang ketat untuk senantiasa hadir pada saat ini dan disini, mengenali dan tidak melekat pada ego, menjauhkan dari keresahan pikiran, maka yang akan terjadi adalah kesadaran yang tumbuh. Tumbuh itu artinya tidak instan. Ada proses dan jatuh bangun disitu, namun hasil akhirnya adalah sesuatu yang langgeng.

Nah, itulah sepercik renungan dari Teal Swan. Maka saya tarik kata-kata saya tadi: jangan menggganja. Lebih baik pusatkan perhatian pada napas dan detak jantung kita untuk bisa hadir saat ini dan disini.

O, ya, omong-omong, ini wajah Teal Swan:

TEAL

Cantik, ya pasti. Tapi entah kenapa saya merasa lebih nyaman memandang wajah Tolle yang mungkin tidak ganteng dan gagah, tapi mendamaikan:

Eckhart-Tolle (1)

Posted in: Uncategorized