Sex dan Cinta

Posted on May 29, 2015

0


Sex dan cinta. Sekilas sama, namun menurut para bijak ternyata jelas sekali bedanya. Nah, kali ini yang saya kutip adalah pendapatnya Barry Long, seorang spiritualis Australia yang sudah wafat tahun 2003.

O, ya, BTW, judul film yang membuat saya muntah-muntah adalah “Love is Cinta”. Di mata saya, judul itu wuueleek pol! Tidak nyeni, tidak romantis, tidak lucu. Tai wis pokoknya. Hahaha!

Nah, sex is cinta. Ternyata tidak. Kata Barry Long, sex itu kasar. Istilahnya “violent”. Memang, ada unsur kasar dalam hubungan sex. Pernah lihat film “the Fifty Shades of Grey?”. Haah, belum? Gilaa, itu kan film wajib tonton orang dewasa rusak kayak kita-kita ini, bwa hah haa! Nah, film itu menggambarkan bahwa kekerasan dan sex itu ternyata bisa merangsang nafsu. Siapa yang terangsang melihat adegan BDSM? Hahaha, ini pertanyaan tolol. Ya ndak ada lah yang mau ngaku, sekalipun sebenarnya menikmati🙂

Cinta? Cinta tidak pernah kasar. Cinta selalu lembut. Pernah melihat seekor hewan betina membelai anak-anaknya dengan jilatan lidahnya? Pernah melihat seorang ibu yang menggendong dan membelai bayinya? Atau seorang tua yang setia menasihati anaknya dengan tutur kata lemah lembut? Itulah cinta.

Yang kedua, sex itu tidak sabaran, kata Mr. Long. Ya, iya lah, pernah kan melihat di film bagaimana seorang kekasih yang sudah lama ndak ketemu terus berciuman sambil merobek-robek pakaiannya ketika mau berhubungan sex saking sudah tidak sabarnya? Ya, bisa aja itu cuma hasil dari fantasi sang penulis cerita atau sang sutradara supaya kelihatan lebih dramatis. Tapi sebenarnya ndak salah juga kok. Cuma saya ya ndak sampe merobek-robek pakaianlah, eman-eman baju dibeli mahal-mahal dengan cucuran keringat kok dirobek-robek hanya demi orgasme sesaat, ha ha haaa! Ntar kalau udah puas dan tenang, baru mewek meihat bajunya sobek-sobek huhuhuu! Bwa ha haaaa!

Cinta? Cinta selalu sabar. Lambat marah. Selalu sabar dan mau memahami. Tuhan itu maha cinta, karena sabar melihat kelakuan manusia begitu parahnya dan toh tidak menurunkan api dari langit untuk membakar kita semua supaya mampus seketika.

Yang ketiga, sex itu menuntut, atau “demanding” istilah Inggrisnya. Ketika kita berhubungan sex, dalam pikiran kita itu selalu ada tuntutan: “ayo, kamu harus membuatku puas”, “kamu harus mau pake gaya ini supaya aku lebih terangsang”, dan sebagainya dan sebagainya. Dalam beberapa kepercayaan, wanita yang sudah bersuami harus mau diajak berhubungan badan setidaknya beberapa kali dalam seminggu, kalau tidak niscaya dia akan dilaknat di neraka.

Di budaya Inggris ada ungkapan “Wham! Bam! Thank you, mam!”. Itu sungguh tepat untuk menggambarkan hubungan sex: tindihi, kejang-kejang sesaat bam bam bam! lalu puas makasih ya, sayang.

Cinta? Cinta tidak pernah menuntut. Andai pun dia memberi, dia tidak pernah menuntut balasan. Cinta itu tulus, memberi, bersabar, dan tidak pernah menuntut.

Yang keempat, sex itu bisa diinterupsi. Kalau Anda sedang berhubungan badan dengan kekasih kemudian mendadak ponsel berbunyi, hubungan sex itu pun harus terinterupsi sesaat. Atau ketika sedang berhubungan sex tahu-tahu ada gempa bumi, lha mbok seenak apapun hubungan itu pasti Anda langsung berhenti dan lari lintang pukang ke luar ruangan, bukan? Itulah sex.

Cinta? Ndak ada ceritanya cinta terinterupsi. Apa pernah Anda melihat atau merasakan cinta Ibu terputus sesaat selama 2 bulan karena ada radiasi solar flare, kemudian nymabung lagi? Atau cinta Anda kepada adik terputus sesaat karena ada konflik? Ndak ada. Cinta itu berkesenimabungan, tak pernah terputus, langgeng senantiasa.

Jadi, kata Barry Long, “whatever sex is, love is the opposite”.

Wew!

Itu sebabnya orang Inggris membedakan antara “make love” dengan “have sex”. Kedua-duanya memang berujung pada persetubuhan, tapi yang satunya lebih sarat dengan dimensi cinta, sementara yang satunya lagi sekedar bergesex-gesex.

Yiyiyi. . .

Posted in: Uncategorized