Manusia dan Lukanya

Posted on May 27, 2015

0


“Hei Walikota Malang, Anda punya mata kan? Lihatlah jalan ini, ini bukan jalannya poro setan!”

Kurang lebih seperti itulah spanduk yang saya lihat terbentang di Jl. Tidar dekat sebuah bengkel dan tempat pompa ban pagi ini. Itu ungkapan kemarahan warga sekitar terhadap rusaknya jalan Tidar, terutama depan STIKI dan Kafe Coffee. Setiap pagi terjadi antrian panjang disitu karena mobil harus merayap lambat di tengah jalan yang berlubang disana-sini.

Itu sudah saya duga. Sudah saya rasakan pula kemarahan dan kegeraman yang sama selama berbulan-bulan. Saya sampai sudah mengetwit Pemkot Malang tentang kerusakan itu. Yang pertama masih sopan; yang kedua mulai sarkastik, dan yang ketiga sungguh demi setan saya ingin banget mengungkapkan makian di tweet itu. Untung saya ingat bahwa kemarahan, apalagi dengan bumbu kata kasar, sungguh sebuah energi negatif yang merusak kemana-mana. Jadi saya urungkan dan saya tweet dengan sopan: “Jl. Tidar sudah rusak lagi. Ada genangan air. Mohon perhatiannya”.

“Sejak kamu baca Tolle kamu jadi gila dan menyebalkan! Tahu ndak, kamu tuh diperdaya sama dia supaya beli bukunya!”.

Ini satu lagi ungkapan kemarahan seorang teman dekat gara-gara saya tak henti-hentinya berbicara (tepatnya: mengkhotbahi dia) soal kesadaran, ego, keheningan dan segala macamnya yang saya peroleh dari video klipnya dan bukunya Tolle.

Dalam keadaan normal, saya pasti akan merasa tersinggung berat dan akan membalas ungkapan itu dengan ungkapan marah pula. Tapi kan sudah dia katakan bahwa saya sudah tidak lagi “normal”. Saya sudah “gila”. Jadi ya saya senyumi saja ungkapan itu. Saya perhatikan, saya sadari bahwa ada kemarahan yang meledak di diri seorang teman dekat. Saya hadir di momen itu. Saya sadari semuanya tanpa melabelinya dengan judgment tertentu (“kamu sedang kalap”). Saya hanya bilang “ya ya ya”.

Ah, sudahlah. Ayo dengarkan saya punya cerita lain.

Kali ini tentang seorang mahasiswa (well, mahasiswi tepatnya). Pagi-pagi dia mengetuk pintu kantor saya. Saya menyilakannya masuk dan dengan gaya resmi seorang pejabat Fakultas saya tanya: “Ok, how can I help you?”. Di luar dugaan dia menjawab: “Ah, nggak ada apa-apa kok, Sir. Saya hanya ingin mampir dan tanya kabarnya Bapak aja”.

Wew! Jawaban itu membuat saya terhenyak sesaat. Baru kali ini ada seorang mahasiswi datang ke kantor bukan karena minta tanda tangan atau urusan akademik lainnya, tapi hanya ingin menanyakan kabar dosennya yang sudah lama ndak ketemu karena dia sudah semester akhir. Wow! Itu mengharukan. Saya salah sangka. Dia memberikan sentuhan manusiawi, sementara saya malah bersiap-siap memberikan sentuhan resmi terstandar yang kering makna. Hmm . . .

Pagi hari itu pula saya menerima kabar dari BBM dari seorang mahasiswi lain, well, tepatnya seorang alumni. Dia mengabarkan berita sedih yaitu dia ditolak masuk ke S2 di sebuah perguruan tinggi negeri alma mater saya dulu. Saya kaget. Kok bisa ditolak? Anak ini kurang apa? Pendiam, tekun, tidak aneh-aneh. Hmm, saya merasa tidak enak. Bahkan sampai terkesan pikiran rasis: “jangan-jangan dia ditolak karena Cina”. Bah! Tapi sudahlah . . . itu ego lagi tuh. Luka batin. Saya baca status BBM nya. Yaah, tepat sekali dengan apa yang dikatakan Tolle tentang penderitaan. Anak ini menulis begini: “U have to hurt in order to know, fall in order to grow, lose in order to gain cause most of life lessons are learned in pain. But it’s hard to do😦 “.

Itu pas sekali dengan apa yang Eckhart Tolle katakan: “karena penderitaan dan kesakitanlah kesadaran kita akan sesuatu yang lebih besar bisa berkembang.” Dia mengutarakan satu kalimat yang bagus sekali: “Make your crucifixion the way to your resurrection and your ascension.” Setiap orang memikul salibnya sendiri-sendiri. Jadikanlah salib itu jalan untuk kebangkitan dan kenaikanmu ke surga. Biyuh! Hebat sekali!

Tapi sudahlah, stop sampai disini tentang khotbahnya Tolle itu, nanti teman saya yang membaca ini bisa marah lagi: “Tolle maneh! Shut up!”

Tak terasa ini sudah akhir Mei. Setahun yang lalu saya jalan-jalan ke Korea. Dimana negeri berikutnya? Jepang. Yah, sampai detik ini ya hanya bisa bermimpi dulu. Saya menunggu kesempatan terbaik. Well, sebenarnya itu hanya ungkapan pelembut untuk ini: “saya menunggu punya uang dulu”. Ha ha ha! Ya iyaa laah, maklum, hanya rakyat jelata bukan konglomerat yang bisa terbang ke seluruh pelosok dunia tanpa perlu pusing soal duitnya.

Posted in: Uncategorized