Pendeta Dukun Placebo Halah

Posted on May 25, 2015

2


“Demi nama Yesus saat ini engkau sembuh! Sembuh! Lihatlah saudara-saudara, dia sudah sembuh. Ucapkan amiin!”

Dan sekelompok orang yang berdiri di sekitar panggung itu pun serentak bersorak dan mengucap amin melihat sang penderita yang tadi lumpuh lalu mendadak bisa berjalan kembali tanpa tongkat. Itu terjadi setelah dahinya disentuh (setengahnya dikeplak) sang rohaniwan di atas panggung.

Adegan yang sama terjadi berkali-kali dengan penderita lain. Kepalanya disentuh, setengah dikeplak plak! dan sembuh! Sembuhlah engkau demi nama Tuhan! Horeee!!

Ini adegan yang diulas dalam sebuah acara menarik “Is It Real” oleh National Geographic kemarin siang. Acara ini mengulas apa dibalik peristiwa penyembuhan yang luar biasa itu?

Seperti biasa, Nat Geo selalu menghadirkan para ilmuwan dalam menelisik suatu gejala sosial. Seorang ilmuwan, psikolog tepatnya, mengatakan bahwa bisa saja yang terjadi adalah efek placebo. Placebo adalah perasaan bahwa setelah suatu upaya “luar biasa” atau tindakan medis dilakukan, maka timbullah perasaan bahwa penyakit yang sedang diderita itu akan atau bahkan sudah sembuh.

Seorang ilmuwan lainnya dengan nada sinis mengatakan bahwa yang terjadi adalah para penderita itu terbawa larut oleh suasana gegap gempita di sekitar panggung, yang penuh dengan energi meluap2 dari sang rohaniwan dan umatnya, sehingga tanpa sadar dia merasakan kesembuhan itu nyata adanya hanya dalam sekejap mata. “Padahal,” kata sang ilmuwan, “setelah sampai di rumah sakitnya ternyata kambuh lagi. Lihat tuh, si A yang lumpuh dibawa ke depan pendeta, dikeplak, lalu sembuh seketika, kruknya ditinggal begitu saja di panggung. Eh, dua hari kemudian dia terpaksa harus berkursi roda. Hahaha! Bohongan tuuhh!”

Lalu ada lagi the so-called “penyembuh ajaib” dari Brazil. Namanya Joao. Dia menyembuhkan ribuan orang yang antri sampai beribu-ribu di depannya, hanya dengan komat kamit dan menggumam dalam suatu bahasa yang diklaimnya sebagai “bahasa roh”. Penderita yang maju ke depannya diucapi beberapa kata roh itu, lalu langsung disuruhnya pergi. Datang lagi yang lain, sret! Komat kamit sebentar, pergi. Begitu seterusnya. Ndak sampai lima detik setiap orang dijamahnya dengan bahasa roh itu.

Apakah itu nyata? ya ndak tahu. Ada yang mengaku sembuh, ada yang ternyata ya tetap sakit.

Saya lihat wajah-wajah para penyembuh itu. Hmm, gak tahu ya, melihat wajah-wajah mereka kok sekilas saya merasa tidak nyaman. Wajah-wajah mereka terkesan dingin, alis mata menukik, rahang keras, tatapan tidak bersahabat. Kok lain ya dibandingkan dengan wajahnya Budhha, Gandhi, Yesus dan beberapa orang yang sudah tercerahkan lainnya? Kata orang, wajah menyiratkan aura dan maksud tertentu dalam batin seseorang.

Begitulah, para dukun itu.

Lalu saya baca beberapa buku spiritual termasuk bukunya ET yang sudah seminggu ini saya tekuni. Apa mereka bilang soal sakit dan penderitaan? “Penderitaan dan kesakitan itu perlu untuk membuat kesadaran berevolusi, dan untuk membakar ego” kata salah satunya. “Penderitaan dan kesakitan itu bagian dari karma; ada yang memang tidak bisa dihindari dan harus dijalani”, kata satunya. “Penderitaan dan kesakitan itu adalah cara tubuh dan pikiranmu mengingatkan kamu akan sesuatu yang kurang seimbang dalam kesatuan antara body spirit dan mindmu”, kata yang satunya lagi. “Penderitaan dan kesakitan itu hanya sementara. Jangan mengidentifikasikan dirimu dengannya. Terimalah itu sebagai fakta.”

Tidak ada satu pun di antara mereka yang menawarkan kesembuhan cepat lewat komat-kamit bel gdeuwel beh dan keplakan tangan. Tak ada.

Kenapa kita tidak suka penderitaan? Kenapa kita senantiasa berpikiran “lebih cepat, lebih baik”. Kenapa sedikit sekali orang yang menerima penderitaan itu sebagai suatu ujian kesabaran, atau sebagai suatu penyadaran?

Mungkin kita memang terkutuk. Atau mungkin lambat laun kita sedang disadarkan pada cara berpikir baru, cara “hidup” yang baru.

Posted in: Uncategorized