Budaya orang Amrik: Interesting!

Posted on May 21, 2015

2


Hari Selasa yang lalu saya datang ke acara Forkomil. Yang menjadi pembicara adalah Mr RK, rekan saya yang berasal dari Amrik. Aslinya dia tuh orang Jerman karena ibunya Jerman dan dia lahir di Jerman sebelum pindah ke Amrik. Veteran Perang Vietnam, mantan perwira polisi, dan sekarang menjadi dosen di Sastra Inggris.

Pak RK berbicara tentang sulitnya belajar bahasa Indonesia. Di akhir pembicaraan itu, dia menyinggung tentang budaya orang Amrik. Menurutnya, “kami orang Amrik tidak sesopan orang-orang Asia. Kalau kami bermaksud untuk menolak, maka kami akan mengatakannya secara langsung dan terus terang: “No, you cant do it!”, atau “No, we cant accept your idea”. Nampaknya ini memang selaras dengan apa yang saya baca di sebuah situs tentang pemahaman antar budaya. Orang Amrik cenderung tidak berputar-putar dalam menyampaikan pendapatnya, bahkan pendapat yang potensial bisa membuat orang lain tidak nyaman, seperti penolakan, atau ketidaksetujuan. Ini tentu menarik kalau dibandingkan dengan budaya Jawa. Budaya Jawa tuh kebanyakan muter-muter dulu sebelum masuk ke inti maksudnya. Bahkan pada beberapa daerah di Jawa, yang diujarkan adalah bagian yang muter-muter itu, dan inti maksudnya malah tidak dikatakan sama sekali. Pendengarnya dipersilakan (tepatnya: dipaksa dengan halus) untuk menyimpulkan sendiri apa inti maksud sang penutur. Kalau ternyata penafsirannya keliru, maka si pendengar ini akan dicap: “ora nJawani”, ha haha! Lak repot ya to? Saking sebalnya, pernah lho seorang teman sekelas dari Minang berkata blak-blakan ke saya: “Budaya Jawa tuh rumit. Alus di depan tapi belum tentu di belakangnya mulus. Ppuah!!”

Kembali ke pak RK. Nah, beberapa hari sebelum acara Forkomil itu, saya kebetulan terlibat dalam satu peristiwa dengan pak RK yang ujung-ujungnya membuat saya bertanya-tanya. Ceritanya, saya datang ke kantornya menawari untuk ngobar (= ngombe bareng) sebotol Martini yang saya peroleh dari seorang kenalan baik. Dia kelihatan sangat antusias, karena dia memang hobi minum minuman keras. Lalu dia mengatakan bahwa dia hanya mau minuman keras yang asli, dan bahwa Martini itu banyak jenisnya. Dia ingin melihat jenis Martini apa yang saya punya. Maka saya ajak dia ke kantor saya tempat saya menyimpan botol Martini itu. Begitu melihatnya, dia berkata: “Oh, ini sebenarnya namanya Vermouth. Nih, ada tulisannya nih disini. Itu bahan yang lebih ringan daripada Martini. Jadi ini sebenarnya bukan Martini asli, ya hanya mereknya saja Martini”.

Tentu saja saya agak kaget dan langsung mengira bahwa dia tidak tertarik untuk ngobar kalau ternyata Martininya ndak beneran. Nah, di akhir pembicaraan itu, dia pamit kembali ke kantornya sambil mengatakan: ‘That’s interesting!”.

Nah, jadilah saya yang bertanya-tanya: apa ya maksudnya “that’s interesting!” itu? Apakah itu artinya dia mau ngobar dan menunggu saya untuk mengajaknya lagi? Atau apakah dia bermaksud mengatakan: “Makasih ya udah nawari, tapi Martinimu palsu. Aku ogah ngobar kalau palsu”.

Sampai beberapa hari kemudian saya tidak menindaklanjuti pertemuan itu dengan ajakan berikutnya karena ya masih bertanya-tanya itu tadi. Saya cerita pengalaman ini dengan pak DG, sesama dosen yang mengajar mata kuliah Pragmatics (ilmu tentang mengetahui apa yang tidak terkatakan melalui apa yang terkatakan). Pak DG bercerita bahwa dia juga punya pengalaman serupa. “Orang Barat tuh ya, kalau saya melontarkan beberapa gagasan, akan menanggapinya dengan “that’s interesting!”. Tapi saya ndak tahu apa maksudnya itu dia tertarik ke ide saya, atau hanya sekedar basa-basi saja.” Nah!

Akhirnya setelah Forkomil, saya kirim email ke Pak RK untuk menanyakan apa sih maksud tersembunyi dari kalimat “that’s interesting!” yang diucapkan orang-orang Amrik itu. Jawabannya lugas sekali:

“Ya, “that’s interesting” itu memang maksudnya adalah “saya mendengarkan pendapatmu, tapi sebenarnya saya tuh ndak sependapat dengan idemu, dan sedang berusaha mencari cara untuk secara diplomatis mengatakan bahwa saya kurang setuju dengan pendapat itu. Bisa juga bermakna ‘saya mendengarkan kamu, tapi entah kenapa saya gak setuju sama kamu. Jadi sambil mengulur waktu, saya bilang aja itu menarik, padahal sebenarnya saya sedang cari kata2 yang tepat untuk mendebat kamu”.

Wow!

Hahaha!

Jadi, menjawab keheranan saya dan pak DG, kalau ada orang Barat berkata “that’s interesting!” kepada Anda setelah Anda menguraikan pendapat Anda, jangan keburu senang dulu. Besar kemungkinan dia hanya berbasa-basi dan sebenarnya tidak langsung setuju dengan pendapat Anda atau langsung mau mendukung ide Anda.

Jadi kalau mereka setuju terus bilang bagaimana? Ya, saya belum meneliti sejauh itu, tapi nampaknya mereka akan mengangguk atau mendadak menyiratkan binar-binar di matanya, sambil mengatakan ” Yeah, I can relate with that!”, atau “Yeah, that’s what I think, too!”.

Jadi demikianlah. Akhirnya rahasia “that’s interesting” nya di acara ngobar gagal itu terkuak. Saya sudah benar tidak melanjutkan mengajak dia lagi, karena ternyata dia kurang sreg dengan kualitas oplosan Martini saya.

BTW, saya hari ini mau ngobar Martini sama seorang dosen Akun dan Mas DM. Ada yang mau join?

Posted in: Uncategorized