Muridku lemot, terus piye? Dibuang ae a?

Posted on May 20, 2015

3


Mahasiswa itu terdiam di depan kelas. Matanya menatap ke layar komputer, beralih sebentar ke layar LCD tempat dia barusan menaruh poin-poin penjelasannya, lalu menatap layar laptopnya lagi. Raut mukanya campuran antara ragu, cemas, dan sedikit kenekadan untuk tidak menjawab pertanyaan saya.

Saya duduk di bangku paling depan. Menatapnya. “Lha wong pertanyaan mudah begitu aja kok ya ndak bisa? Kamu memang tolol,” demikian sungut saya dalam hati.

Beberapa murid memang harus diakui jauh lebih lambat daripada teman-temannya dalam memahami materi kuliah. Entah itu lambatnya karena kapasitas otaknya terbatas, atau karena dia malas dan tidak ada gairah sama sekali untuk belajar. Apapun itu, kehadiran mereka terasa sangat mengganggu laju pembelajaran. Ketika tiba saat presentasi, sementara teman-temannya sudah menyajikan dengan baik dan makin lama makin baik, si murid lemot ini selalu melambatkan laju itu dengan presentasinya yang ancur dan mengandung kesalahan-kesalahan elementer.

Saya merenung lagi. Yah, gejala ini tak terhindarkan dalam suatu lingkungan murid dengan kualitas campur baur. Yang pintar, sangat pintar, sedang-sedang saja, sampai yang lemot ada dalam satu kelas. Pendidikan massal yang mementingkan kuantitas dan batasan waktu memang kejam untuk mereka yang kurang mampu dalam hal daya tangkap. Kalau ada yang lemot gimana? Ya sudah, dalam situasi seperti itu mereka terpaksa ditinggal. Materi harus tetap berlanjut, dari bab awal sampai selesai, dan harus tidak boleh melebihi satu semester atau 16 atau 32 kali pertemuan itu. Anda lemot? Ya sudah, terimalah nilai D, dan tahun depan siap-siap mengulang lagi mata kuliah yang sama. Masih belum bisa juga? Ya sudah, ulang lagi. Lho, lha kalo gitu lak isa sampek tuwek aku ndek sini, Pak? Ya, iya, sampek tuwek sampek elek; well, ya maksimal sampai 7 tahun lah lek kamu gak lulus-lulus juga ya didrop out. Habis perkara.

Kejam, bukan?

Inikah pendidikan yang manusiawi? Rasanya tidak.

Salah satu alternatif solusi adalah menyaring murid yang masuk sehingga hanya yang bibit unggul yang masuk, yang menengah atau bahkan bibit penyakiten ditolak untuk masuk. Selesaikah perkara? Ndak juga. Sama aja itu mendiskriminasi manusia berdasarkan kapasitas IQ nya, sesuatu yang juga makin lama makin diguncang oleh berbagai jenis intelijensi yang lain. Lagipula bukankah lembaga pendidikan yang andal itu memang berkewajiban membuat yang kurang pintar dan bahkan lemot menjadi berkemampuan lebih baik? Harvard tuh contohnya. Universitas itu populer dan jadi kondang semata-mata bukan karena cara pengajarannya yang paling unggul, tapi kualitas maharunya memang sudah sangat top. Koen jangan bangga kalau bapakmu adalah yang punya Harvard. Banggalah kalau punya lembaga seperti yang dimiliki Pak Yohanes Surya itu, yang mampu mendidik anak-anak dari daerah terpencil menjadi jauh lebih pintar.

Solusi lain adalah menyediakan waktu belajar tersendiri untuk murid-murid yang lambat menangkap ini. Ya, itu mungkin bagus di atas kertas, namun apakah bisa dijalankan? Apakah ada guru yang sangat berdedikasi sehingga mau meluangkan waktunya untuk membimbing anak-anak lemot ini? Siapkah sistem dalam lembaga untuk menghargai upaya mereka secara profesional juga?

Kelas masih sunyi. Teman-teman sekelas juga diam memandang si lemot tadi dengan pandangan beragam. Ada yang kasihan, ada yang setengahnya mengejek, ada yang seperti saya dalam hati membatin “kamu memang tolol”.

Kelas pun mandeg. Dan saya juga masih belum menemukan tindakan yang tepat atau ucapan yang pas untuk diutarakan . . . .

Posted in: Uncategorized