Dari Bunuh Diri ke Sadar Diri

Posted on May 18, 2015

2


Ada seorang anak lelaki kelahiran Jerman. Orangtuanya bercerai dan masa kanak-kanaknya pun penuh dengan kepahitan. Setelah dewasa, dia kuliah di Inggris. Pada saat-saat itu lah dia merasa dia benar-benar tidak bahagia. Hidupnya dicekam dengan ketakutan, kehampaan, dan kecemasan. Akhirnya dia suka bicara sendiri dan tak ayal teman dan keluarganya menganggapnya sinting. Akhirnya di bilang “wis, aku tak budir aja (bunuh diri)”. Logis. Lha lapa hidup kalau udah dedel duwel kayak gitu.

Lalu suatu malam dia terbangun dan mendapati dirinya bertanya: “sebenarnya siapa to yang merasa kelam, murung, dan hampa ini? Itu adalah aku. Tapi aku ini sebenarnya tidak nyata. Yang nyata adalah kesadaran.” Itulah momen pencerahan buat dirinya. Epiphany, bahasa Inggrisnya. Maka sejak saat itu pun dia menjadi lebih merasa bersemangat, dan memandang semua dinamika kehidupan dengan lebih jernih. Dia mulai bisa membedakan sang aku, yang ternyata adalah EGO, dan sang kesadaran. Yang terakhir ini jauh lebih tinggi, lebih kekal, dan lebih sadar akan kefanaan sang ego. Mempunyai kesadaran berarti tidak goyah oleh jatuh bangunnya sang ego.

Lalu si pria ini menjadi penulis buku-buku spiritual. Dua bukunya, “The Power of Now” dan “The New Earth”, laris luar biasa, dan dia dinobatkan sebagai salah satu spiritualis paling terkemuka di abad ini.

Nama pria itu Eckhart Tolle.

eckhart-tolle

Empat hari saya dibuat tercekam oleh baris-baris kalimat di bukunya yang saya baca. Judulnya “The New Earth”.

ECKHART TOLLE NEW EARTH

Buku ini seolah membuka mata saya tentang ego sebagai sumber kecemasan, kemarahan, kegelisahan, dan seribu satu perasaan negatif lainnya. Buku itu juga membuka wawasan saya tentang kesadaran, sang Tanpa Bentuk yang menjadi wahana sang ego, yang lebih kekal dan lebih menyejukkan. Menurut Tolle, kita umat manusia sebenarnya sedang pelan-pelan menuju ke kesadaran tersebut. Begitu sampai disana, cara pikir dan cara hidup kita pun berubah. Karena berubah, maka dunia dan segala isinya pun berubah, karena pada dasarnya Bumi ini adalah refleksi kesadaran kita. Itu sebabnya dia beri judul “The New Earth”.

Banyak sekali hal bagus yang saya dapatkan dari buku ini. Tidak akan cukup kalau dimuat di satu posting ini saja. Namun satu hal yang bisa saya cipratkan disini adalah bagaimana cara Tolle menangani ego. “Kalau kamu marah karena suatu hal, ” katanya. “Itu adalah kerjaan sang ego. Nah, akui saja kemarahanmu itu. Akui bahwa kamu marah; sadarlah bahwa kamu sedang marah. Lalu pelan-pelan sadarilah bahwa kemarahan itu hanya akan merusak tubuhmu. Lalu redakan kemarahan itu.”

Ego dan segala emosinya–yang kebanyakan negatif karena selalu mementingkan kesejahteraan sang Aku–tidak bisa dilawan. Dia hanya bisa DISADARI kehadirannya. Semakin disadari, semakin lemah kekuatan dan pengaruhnya.

Saya teringat beberapa mantan mahasiswi dan bahkan juga kolega yang kadang-kadang menyebut mau budir saja. “Aku mau budir”, “Saya lebih baik mati” dan sebagainya yang ngeri-ngeri itu. Akankah mereka suatu saat akan mengalami pencerahan seperti Tolle?

Saya tidak tahu. Yang jelas semoga semua makhluk hidup sejahtera.

Post Note: Buku ini rasanya dihadirkan ke hidup saya bukan karena kebetulan. Lima hari yang lalu saya merayakan ultah pernikahan Bapak Ibu saya yang ke 49. Waktu sampai di rumah mereka, tiba-tiba saya terusik oleh bayangan masa lalu dalam suatu peristiwa antara Bapak dan adik saya. Peristiwa itu begitu menyayat batin sehingga sekitar 40 tahun kemudian saya masih merasakan sayatannya. Di tengah-tengah kegalauan itu, saya melihat buku ini di tergeletak di meja adik saya. Saya lihat beberapa halaman dan seketika merasa seperti tertarik luar biasa untuk membacanya. Demikianlah, saya akhirnya membacanya dan mendapatkan kalimat yang sangat menghibur dari buku itu: “Masa lampau tidak lagi punya kekuatan atas masa kini. Lepaskan. Bukan masa lampau yang menghantuimu, tapi kamulah yang mencengkeramnya kuat-kuat. Lepaskan. Hiduplah SEKARANG dan DISINI”.

Posted in: Uncategorized