Kapan Nikah?

Posted on May 12, 2015

0


Kapan usia yang pas pada seorang wanita untuk menikah?

Kalau Anda orang desa yang hidup dari bertani dan hanya punya keinginan untuk mempunyai pendamping hidup dan keturunan, jawaban Anda pasti “18 tahun”. Pada usia itu, secara biologis seorang wanita sudah mampu mengandung dan melahirkan anak. Jadi setelah memasuki usia itu, seorang gadis tinggal menerima lamaran saja kemudian menikah dan mempunyai anak.

Di kalangan orang kota yang karena tambahan wawasannya oleh dunia modern, pertanyaan itu tidak bisa dijawab dengan sederhana begitu saja. Ada banyak faktor yang membuat jawaban setiap orang berbeda dari yang lainnya. Yang konvensional akan mengatakan “sekitar 24 – 25 tahun”, sementara yang berpandangan lebih modern akan mengatakan “sekitar 29 tahun”. Alasannya, wanita sekarang sebaiknya juga kuliahnya nggak sampai S1 saja, tapi sampai S3. Nah, lepas S3, sekitar 29 tahunan, barulah tepat untuk menikah. Setelah menikah, tinggal membesarkan anak dan kemudian membangun karir, ndak usah repot sekolah pasca sarjana lagi. Repot lho sekolah sambil mengasuh anak itu.

Kalau Anda sudah berpacaran serius dengan seseorang pria selama 3 – 4 tahun, maka memang sudah saatnya memikirkan pernikahan. Ndak bagus juga pacaran lama-lama. Tapi itupun biasanya tergantung sang pria mau menikahi atau tidak. Beberapa pria menikmati hubungan pacaran, hang out berduaan kemana-mana, berintim-intiman dan sebagainya, tapi begitu diajak menikah eh ogah. Ya bisa saja dia belum mau terikat, atau si wanita punya sesuatu yang dianggapnya “faktor memberatkan”. Misalnya, ternyata si wanita sudah punya anak dari hasil hubungan terdahulu, dan anak sang ayah sudah ndak ketahuan riwayatnya. Jarang seorang pria lajang mau mengikatkan diri dalam pernikahan dengan seorang wanita muda yang sudah punya anak tapi tidak punya suami.

Beberapa mahasiswi di kampus ini cepat sekali menikah. Kuliah baru semester 4 sudah ditinggal atau dicuti karena menikah. Yah, bisa saja karena memang sudah ingin menjalani hidup berumah tangga, atau karena pritungan menghitung pertambahan usia dan nanti kalau sudah punya anak biar tidak kelihatan tua dan sebagainya.

Menikah, apalagi di budaya Asia, bukan hanya penyatuan sepasang pria dan wanita, tapi juga penyatuan dua keluarga. Ini bisa tidak mudah. Ada tetangga di dekat rumah yang hidup serumah dengan ibu si pria. Waa, rame wis. Suatu ketika ibu si pria ini bercerita kepada anaknya: “itu lho istrimu kalau dia pergi, semua lemari dikunci. Apa pikirnya Mama ini maling a?”. Begitulah. Yang ini bukan sinetron tapi bisa sama atau lebih menegangkan konfliknya.

Ada lagi seorang wanita yang sudah menyerahkan semuanya kepada seorang pria yang dicintainya, tapi celaka sang pria belum bisa juga atau belum mau menunjukkan gelagat menikahinya. Kalau saran saya, untuk yang beginian ya tinggal aja. Emang cuma 1 pria di dunia ini? Masih banyak yang lain, walaupun yang normal jumlahnya makin sedikit karena makin banyak pria homo di jaman bangsat ini.

“Tapi tidak mudah meninggalkan pria yang sudah dicintai begitu saja,” kata teman saya yang juga seorang wanita. “Kamu enak aja ngomong kayak gitu. Hati wanita tuh lain, lebih rumit, lebih dalam, lebih ribet”.

Ah, embuh wis.

Posted in: Uncategorized