Membangun Karakter dalam Fiksi

Posted on April 30, 2015

0


Pria itu masih muda. Usianya mungkin baru awal 30 an tahun. Dengan kemeja yang tampak agak lusuh tapi rapi dan celana panjang hitam, dia duduk dengan tenang di sofa. Matanya lurus memandang ke depan. Dua buah map warna hitam terletak di pangkuannya, dan kedua tangannya bersandar di atas map itu. Beberapa orang lalu lalang di sekitarnya, namun si pria tampak tidak terusik. Duduk diam nyaris tidak bergerak, ia tampak seperti sebuah patung memandang tanpa fokus ke depan.

Seorang pegawai yang sejak tadi duduk agak jauh darinya mendekat, dan menawari minuman. Pria itu menggeleng, mengguratkan seulas senyum tipis tanpa mengucapkan apa-apa. Si pegawai pun langsung berbalik dengan senyum membeku, dan raut muka agak heran bercampur sedikit jengah.

Di ujung satunya, duduk seorang pria lain. Rambutnya ikal gondrong menyentuh kerah kemeja abu-abunya. Kedua tungkainya yang terbalut celana jeans abu-abu dan kakinya yang bersepatu Kickers tebal tak hentinya bergerak-gerak seperti bilah kipas. Sesekali goyangan itu berhenti, disusul oleh desahan napas panjang si pria dengan kedua tangan bersedekap pada perutnya. Sekali dua kali dia menyentakkan kepalanya ke atas kiri dan ke atas kanan sampai ada bunyi sayup “krek!” “krek!”. Matanya nanar menatap langit-langit, lalu bergerak memandangi beberapa orang yang lalu lalang di depannya. Lalu goyangan kaki itu kembali lagi. Berhenti sebentar, desahan napas panjang, dan sentakan kepala ke kiri dan kanan. Krek! Krek!

Sang pegawai yang tadi mendekat ke arahnya, menawari hal yang sama. Si pria nampak agak kaget tidak menyangka ada tawaran seperti itu untuk seorang pelamar pekerjaan di kantor lembaga yang terkenal angkuh tapi kaya itu. “Sudah, Mbak, ndak usah. Terima kasih!” katanya ramah sambil membuka dan menggoyangkan telapak tangan kanannya. Si pegawai wanita berlalu. Mata si pria itu dengan cepat seperti copet mencuri dompet mangsanya menjelajahi betisnya yang memang bagus, melangkah dengan pasti di bawah balutan rok ketat warna biru . . .

 

Nah, saya ini sedang ngomong apa sih?

 

Ya ya ya, itu adalah materi yang tersisa dari kursus Creative Writing pada hari Selasa yang lalu. Topik pada hari itu adalah bagaimana membangun sebuah karakter di dalam sebuah cerita fiksi. Mungkin istilah sastranya adalah penokohan. Saya bilang “mungkin” karena sejatinya saya ini tahu sedikiiit banget soal sastra.

 

Karakter bisa dibangun lewat tulisan dengan cara menggambarkan gerak-gerik dan penampilan seorang tokoh. Semakin terperinci gambaran itu, semakin hidup si tokoh yang sebenarnya rekaan penulis itu. Nah, salah satu resep membangun karakter yang nampak “hidup” itu adalah menjadikannya nyata, menjadikannya benar-benar hidup dalam imajinasi penulis. Bagaimana untuk membuatnya bisa terasa benar-benar hidup? Nah, ini caranya: kedua pria yang saya lukiskan di atas itu saya adalah gambaran yang saya ambil dari dua orang kolega saya di kampus ini. Mereka manusia nyata.  Setelah sekian lama mengamati gerak-geriknya secara diam-diam, saya bisa menghidupkan karakter saya dengan menggambarkan perilaku kedua rekan saya itu.

 

Yah, begitulah seniman, khususnya penulis. Nyeleneh dan agak kurang ajar. Kalau kedua rekan saya itu tahu bahwa selama ini saya mengamati mereka untuk kemudian menjadikan mereka tokoh dalam tulisan fiksi, pasti mereka merengut atau setidaknya minta bagian royalti kalau fiksi saya itu nanti jadi buku, ha ha ha!

 

 

Posted in: Uncategorized