h-index dan Tipuan ala Profesor

Posted on April 27, 2015

0


h-index. Ini istilah yang relatif baru sejak merebaknya rekam jejak para akademis dan menguatnya kebutuhan untuk melihat seberapa terkenal seorang akademis di bidangnya. Kalau Anda buka scholar google dot kom dan mengetikkan nama seorang akademis disitu, ada tulisan “h-index” di ujung atas kanan. Secara sederhana, h-index adalah angka yang menunjukkan rasio antara jumlah publikasi ilmiah sang akademis dengan jumlah orang yang sudah mengutip hasil karyanya. Semakin tinggi h-index nya, semakin terkenal dia, atau semakin berdampak karya-karyanya pada bidang yang ditekuninya.

h-index seorang profesor idealnya adalah 4.5 – 7.5. Punya saya 4. Yah, lumayanlah, masih bisa disebut profesor walaupun pas-passan, ha ha ha!

Luar biasa “penderitaan” yang harus diemban seorang profesor. Sudah diminta untuk selalu menulis karya ilmiah di jurnal terkenal, masih diharapkan pula bahwa karyanya itu dikutip orang lain. Jancik. Di posting sebelumnya kan saya udah nulis ya betapa beratnya menulis sebuah karya ilmiah dan menerbitkannya di jurnal internasional. Ya begitulah, ndak main-main memang gelar yang satu ini. Sangat menuntut kegigihan, pikiran inovatif, ketajaman pikiran, dan ditambah kemampuan menulis yang prima sehingga karyanya bukan cuma terbit di jurnal tapi juga dikutip orang lain.

Makanya ya jangan mencibir dulu membaca bahwa h-index saya “hanya” 4. Kalau Anda bisa dalam waktu 10 tahun menghasilkan karya ilmiah dan mencapai h-index diatas 4, saya salut!

Nah, tapi apakah h-index bisa dimanipulasi atau setidaknya diakali supaya tinggi? Jawabannya: bisa kalau kita hidup di Indonesia, dan tidak bisa kalau kita hidup di negeri lain yang kagak tahu akal-akalan kayak gitu, hahaha!

Saya sendiri tidak tahu bagaimana caranya. Tapi dari omong-omong santai dengan seorang rekan dari kampus lain, saya jadi tahu bahwa caranya tidak sulit. “Suruh mahasiswa-mahasiswamu yang sudah mau lulus itu untuk mengutip naskah ilmiahmu di skripsi mereka yang mau diterbitkan di jurnal. Begitu tulisan mereka terbit di jurnal online, kan dengan sendirinya h-indexmu naik?”

Blah. Saya tertegun. Kok ya pintaaar sekali beberapa orang di negeri ini untuk mengakali sebuah sistem yang sudah begitu rapi dan dimaksudkan untuk digunakan dengan jujur.

Tapi saya sudah memutuskan untuk tidak pernah melakukan hal seperti itu. Orang lain mungkin ndak bakal tahu, tapi rasanya ada saja di hati nurani ini yang akan terus-menerus mengutuk saya kalau itu saya lakukan.

Jadi saya lebih suka alamiah saja, menuruti nasib dan takdir. Saya hanya berusaha sampai pada batas menulis paper dan menerbitkannya di sebuah jurnal, lalu kalau sudah terbit mendaftarkannya ke situs google scholar saya, lalu sudah. Kalau ada orang yang tertarik mengutip pendapat saya di paper tersebut, akan ada email dari situs tersebut bahwa naskah saya dikutip. Lalu h-index pun akan sedikit terangkat. No tricks, no magic.

Nah, ini saran saya kalau ingin dikutip orang lain: terbitkanlah paper Anda di jurnal bereputasi internasional. Tulisan di jurnal jenis ini punya daya tembus yang lebih besar daripada jurnal domestik. Bukan hanya bangsa Indonesia yang membacanya, tapi juga berbagai bangsa di belahan dunia lain. Juga, kebanyakan orang merasa lebih mantap kalau mengutip dari jurnal internasional. Tulisan saya di FORUM (terbitan Amrik) dan e-FLT (terbitan Singapore) sudah beberapa kali dikutip melebihi tulisan-tulisan saya yang sudah terbit sebelumnya di jurnal nasional.