Ulet

Posted on April 23, 2015

0


Ulet.

Terakhir kali saya mendengar kata itu adalah dari seorang lulusan kampus ini. Dia sedang menggambarkan papanya yang merintis usaha berjualan kabel sampai menjadi besar seperti sekarang. “Orangnya ulet, Pak” dia mengatakan.

Ulet itu dalam bahasa Inggris adalah tough, atau resilient. Prakteknya bagaimana? Ya, mungkin seperti daging itu ya, liat, tidak mudah dicerai-beraikan oleh koyakan gigi taring ketika kita sedang menikmati sepiring gule atau sate kambing yang kebetulan kambingnya tua sehingga dagingnya alot atau ulet. Dalam dunia pekerjaan atau bisnis, saya bayangkan kata itu bermakna “tidak mudah menyerah; gigih; banyak akal dan senantiasa bersemangat untuk menaklukkan tantangan”.

Lulusan yang mantan mahasiswi itu juga bercerita bagaimana dia dulu makan krupuk dibagi tiga untuk kedua kakaknya sewaktu papanya baru merintis usahanya. Saya terkesan. Itu artinya usaha tersebut dijalankan praktis dari nol. Pasti karena keuletannya itu lah sang ayah bisa mempunyai rumah yang sangat layak huni (kalau tidak mau dikatakan “sangat mewah”), sekian banyak pegawai, dan tentunya omzet yang banyak, plus bisa mengajak keluarganya jalan-jalan ke luar negeri. Beberapa kali saya melihat foto-foto mantan murid itu di berbagai negara mulai dari yang hanya dua musim sampai yang empat musim. Dan itu setiap tahun lho. Masih ingat dulu setiap kali awal tahun ajaran baru, selalu melihat picsnya di fesbuk berpose di berbagai tempat wisata di luar negeri.

Yah, ulet membawa keberhasilan, setidaknya keberhasilan material. Duit datang menyerbu bagai angin puyuh, atau melambai-lambai di luar jendela seperti jemuran tertiup angin, siap dipetik.

Apakah sifat ulet hanya khas pengusaha? Rasanya endak. Setidaknya saya pun mencoba-coba untuk bersikap ulet juga. Beberapa minggu yang lalu naskah saya ditolak oleh sebuah jurnal internasional. Sebelum itu, naskah itu pun sudah ditolak oleh jurnal yang lain, kira-kira setahun yang lalu. Rasanya bagaikan pemuda jaman sekarang yang sedang modus lalu ditolak oleh gebetannya. Yah, sempat agak lungkrah juga sih. Tapi karena saya tidak atau setidaknya belum mau menyerah, saya perbaiki naskah itu, kemudian saya kirim ke jurnal yang lain. Tidak cukup sampai disitu, saya adul-adul semua naskah saya beberapa tahun silam. Saya temukan beberapa draft yang masih bisa ditambahi sana-sini sehingga layak menjadi sebuah artikel ilmiah, lalu saya kirimkan lagi ke jurnal-jurnal lain. Kalau sampai ditolak lagi, ya akan saya ulangi langkah yang sama: mencari jurnal lain yang lebih pas, memodifikasi tulisan supaya lebih sesuai, lalu mengirimkannya lagi ke jurnal-jurnal tersebut.

Beberapa mahasiswa saya pun menunjukkan sikap ulet. Sudah tahu dirinya baru sembuh dari sakit, mereka memaksakan diri untuk masuk dan menghadap saya untuk diperbolehkan ikut ujian susulan. Setelah itu, bergelut dengan soal-soal yang saya berikan (biasanya soal-soal saya di ujian susulan lebih sulit daripada yang reguler) dan setelah selesai, ternyata hanya dapat 60 dari saya. Minggu depannya anak-anak ini berusaha mendengarkan kuliah dengan lebih baik, lalu berusaha mengerjakan ujian berikutnya dengan baik untuk memperbaiki nilainya.

Ulet. Untuk seorang dimana sikap ulet itu sudah mendarah daging, memang benar ungkapan yang mengatakan “losing is not an option”. Satu-satunya pilihan adalah berhasil, atau . . . mencoba lagi, mencoba lagi, terus begitu sampai nasib jatuh kasihan dan akhirnya menyerah terhadap kegigihannya.

Posted in: Uncategorized