Jancuk: Sebuah Kajian Semantik

Posted on April 14, 2015

2


Jancuk sudah hidup sejak jaman dulu ketika barang paling modern adalah mesin ketik sampai jaman zombie bergadget seperti sekarang. Saya mengenalnya ketika masih berusia sekitar 5 tahunan. Bersama adik saya, kami sering bermain-main bersama anak-anak yang lebih besar, dan mereka sering mengucapkan “jancuk” pada berbagai kesempatan. Suatu ketika, saya dan adik saya sedang dicuci kakinya dan gosok gigi oleh orang tua kami, dan tahu-tahu entah gimana ceritanya kami iseng-iseng mengatakan “jancuk. . . jancuk” tanpa tahu sama sekali maknanya. Kontan ayah dan ibu saya terpekik mak jenggirat mendengar kedua anaknya yang masih bocah polos mengucapkan kata itu. “Eh, eh, ngomong apa itu??!! Ndak boleh ngomong kayak gitu!” demikian mereka berteriak. Saya dan adik terbengong karena sama sekali tidak tahu apa salahnya kata itu. Baru sejak itu kami paham bahwa itu adalah kata makian sangat kasar di Jawa Timur.

Jancuk. Saya sekali lagi terbengong untuk kedua kalinya ketika sudah berusia 40 tahunan, wis tuwek. Ketika sesi Forkomil di kampus MaChung, seorang rekan yang usianya sekitar 32 tahunan bertanya kepada forum: “Saya tidak tahu apa makna dari kata makian “jancuk”. Apakah rekan-rekan ada yang bisa menerangkan?” Tanpa ragu saya pun langsung menjelaskan bahwa itu sebenarnya adalah kependekan dari “dikencuk jaran”, yang artinya “disetubuhi kuda”. O alah, rekan itu pun mangggut-manggut. Saya heran kenapa usia sedewasa dia ternyata belum tahu asal kata “jancuk”; sementara itu, rekan-rekan lain seisi Theater Room itu memandang saya dengan heran pula bagaimana mungkin usia semuda saya pikirannya sudah tahu asal muasal makian bangsat itu, ha ha ha!

Ternyata di budaya Inggris asal muasalnya sama. Dari makna denotasi persetubuhan, lahirlah ungkapan makian “fuck”. Sungguh mengherankan ya kita manusia ini, wong hal yang sakral dan nikmat lezat tak ketulungan seperti hubungan intim kok malah dijadikan akar tempat lahirnya makian paling kasar. We are fucking beings, indeed, hahaha!

Seorang linguist pernah meneliti tentang kata yang satu ini. Dia menemukan bahwa kata itu paling sering menjadi kata keterangan dan kata sifat, seperti misalnya pada kalimat “she’s fucking hot”, “Our plan gets fucked up” dan sebagainya.

Kotoran ampas hasil pencernaan makhluk hidup juga dijadikan akar makian. Ya kalau ini masuk akal lah, soalnya kan emang kotor. Jadi kalau “taek” itu diungkapkan untuk menyatakan kekesalan ya itu setara dengan ketika tubuh mengeluarkan kotoran hasil pencernaan. Yang aneh adalah di Barat mereka mengenal ungkapan “holy shit!”. Kombinasi dua kata, satunya suci satunya kotor, ternyata mantap untuk dijadikan pelampiasan perasaan. Di budaya Jawa Timur ada ungkapan “wis gak taek-taekan” yang maknanya kurang lebih sama dengan “dont give me bullshits”.

Kemarin di salah satu situs psikologi, dikatakan bahwa orang yang suka memaki cenderung lebih tahan terhadap stress, lebih spontan, dan lebih percaya diri. Ya, mungkin juga begitu. Lalu apakah yang tidak suka memaki berrarti lebih rentang stress dan kurang percaya diri? Ya, mungkin iya, mungkin tidak. Yang jelas, sebagian orang yang tidak membiasakan memaki dalam hidupnya adalah orang yang pikiran, perasaan, dan tutur katanya sudah sangat terkendali dengan baik.

Tagged: ,
Posted in: Uncategorized