ABBA Menolak Cintaku

Posted on April 9, 2015

0


Kalau Anda saat ini berusia 25 tahun ke bawah, Anda tidak akan kenal grup musik ABBA dari Swedia ini. Kalau Anda seusia saya yang balita (bawah lima puluh tahun, alias 45 ke atas), Anda tentu ingat grup ini. ABBA terdiri dari 4 orang, dua pria, dua wanita, yang ternyata juga sepasang suami istri. Benny suaminya Agnetha, dan Bjorn suaminya Frida. Lho, harus diterangkan kayak gitu karena di jaman bangsat ini bisa aja kan yang namanya sepasang suami istri ternyata adalah pria dan pria, atau wanita dan wanita. Tapi ABBA itu berjaya di tahun 70 dan 80 an jadi waktu itu masih jaman nggenah.

abba-stu-11

Yang menarik dari band ini adalah lagu-lagunya yang manis dengan beat yang lumayan cepat tapi sama sekali tidak keras. So sweet istilahnya kalau jaman sekarang. Konon jimat dari band ini adalah perpaduan luar biasa antara suaranya Agnetha yang tinggi dan kuat dengan suara Frida yang cenderung rendah, lapang, dan berat. Kalau Anda mendengarkan beberapa lagunya saja, seperti “Waterloo”, “Super Trouper”, atau “Dancing Queen”, Anda akan kagum mendengar bagaimana dahsyat dan harmonisnya kombinasi suara mereka.

O, ya, di foto atas itu, si Agnetha yang berambut pirang, dan Frida yang berambut tidak pirang.

Saya suka ABBA sejak tahun 1980 an. Entah kenapa saya suka sampai sekarang. Tapi mungkin karena lagu-lagunya mengingatkan saya pada cinta monyet saya waktu masih duduk di bangku SMP dulu di Santa Maria II, hahaha. Ya, memang pantas lah dibilang monyet wong ke sekolah aja masih pakai celana pendek kok. Waktu itu saya naksir berat seorang teman sekelas, sebut saja namanya D. Teman-teman sekelas juga sudah tahu bahwa saya naksir si D, dan lebih mengenaskan lagi karena si D nya cuek-cuek saja.

Suatu ketika, ada pesta kelas. Tempatnya di rumah salah seorang teman di dekat Taman Gayam sana. Rencana menghadiri pesta itu batal karena ternyata sore harinya mendung dan saya yang baru sembuh dari flu tidak mau ambil resiko kehujanan. Maka saya terpaksa mendekam di rumah sambil membayangkan wajah si D yang pasti lebih cantik karena memakai baju pesta. Esok harinya ketika sampai di kelas, saya baru tahu dari teman-teman bahwa si D datang dibonceng sepeda motor oleh seorang teman karib saya, sebut saja namanya si H.

Saya masih ingat adegan itu. Saya berdiri di depan si H yang sedang nongkrong di kantin: “Kamu kok tega, H?” tanya saya. “Kamu lak tahu kalau aku suka ma dia; kok malah kamu bonceng.”

“Sorry ya, Tris, ya memang aku tahu; tapi yak apa, anake minta dianterno . . . ”

Saya seperti pejudi yang kalah berat sampai tinggal celana dalamnya saja. Ndak bisa bilang apa-apa lagi. Bukan karena badan si H lebih besar daripada saya, jadi mau diajak berkelahi ya pasti kalahnya saya, tapi juga karena dia teman baik saya, dan ini yang lebih penting: dia ke sekolah naik sepeda motor Honda GL Max, sementara saya naik sepeda onthel. Mau digimanakan juga saya udah kalah segalanya. Ngeres tenan.

Nah, pada saat-saat patah hati itu lah saya sering mendengarkan lagu-lagu ABBA. Jadi campuran perasaan mewek dengan perasaan terhibur lagu-lagu mereka itu membuat saya menapaki hari demi hari sambil menyimpan dendam cinta monyet tak tersampaikan, bwa haha.

Saya merenung sejenak setelah menulis kalimat terakhir itu. Nampaknya memang jaman saya sekolah dulu penuh dengan kisah cinta saya tak kesampaian. Ditolak melulu, ih, sakno pol! Siapa mengira bahwa selepas SMA, nasib itu bisa berbalik 180 derajad. Tapi ah sudahlah, itu nanti saja diceritakan . . .

Tagged: , ,
Posted in: Uncategorized