Germanwings dan Komunikasi dalam Diam

Posted on March 27, 2015

2


Sekarang ketahuan sudah kenapa pesawat Airbus milik maskapai Germanwings jatuh menabrak gunung 4 hari yang lalu: ternyata ko-pilotnya bunuh diri!

Serasa ternganga dibalut perasaan miris, ngeri, dan sekaligus heran ketika membaca berita itu tadi pagi. Bagaimana mungkin seorang ko-pilot muda (28 th) yang pendiam tapi ramah dan bahkan kadang lucu bisa sampai pada keputusan nekad membunuh dirinya sendiri dengan cara yang sedemikian tragis? Benar-benar gemblung.

Lha wong ndak gemblung gimana lho wong dia itu mengunci pintu kokpitnya setelah sang kapten pergi sebentar ke kamar kecil. Lalu ketika sendirian itu, tombol yang membuat pesawat menurun ditekannya, dan pesawat pun turun, turun, turun, terus, terus, terus . . . .

Sang pilot sudah kembali dari toilet. Dia mau masuk kokpit tapi kok dikunci? Dia ketuk pintunya. Eh, gak ada jawaban. Curigalah dia dan lalu menggedor-gedor pintu itu. Tetap ndak dibukakan. Asal kalian tahu aja, setelah peristiwa gedung kembar World Trade Center ditabrak pesawat teroris th 2011, semua pintu kokpit dibuat sangat kokoh sehingga ndak bisa didobrak.

Sementara itu pesawat makin turun, dan penumpang pun tahu bahwa ada sesuatu yg tidak beres. Terlambat! Mereka menjerit beberapa detik sebelum pesawat itu hancur berantakan menghantam gunung Alpen. Tak satupun selamat. Puing-puingnya berserakan sampai hampir satu kilometer . . .

Jadi sudah ada 4 peristiwa kecelakaan pesawat yang diakibatkan oleh pilot yang bunuh diri. Mungkin yang terburuk adalah tahun 1999 ketika seorang ko-pilot Mesir berteriak “Allahu Akbar!” dan langsung menukikkan hidung pesawatnya sampai amblas menghajar laut.

Pilot itu manusia juga. Manusia tuh rentan stress. Kalau sudah sampai puncak stress dia akan memilih untuk bunuh diri. Tapi ya mbok yao kalau bunuh diri itu jangan dengan cara menjatuhkan pesawat penumpang yang membawa ratusan orang lain yang tidak tahu apa-apa.

Salah satu penyebab stress adalah merasa disingkiri. Disingkiri artinya tidak diajak bicara oleh sesamanya. Karena tidak bicara, maka masing-masing pihak tidak tahu apa isi hati satu sama lain. Bencikah? Rindukah? Dendamkah? Ada yang mengganjal kah?

Kediaman menimbulkan prasangka. Saya yang dari tadi pagi hanya mengajar lalu sibuk sendiri di kantor bisa disangka sedang ngapain-ngapain sama orang lain, padahal ya endak; dari tadi ya disini aja ndak ngapain-ngapain. Paling hanya makan sebentar di kantor. Kenapa ndak berkomunikasi? Lho lha wong ndak ada panggilan atau ajakan untuk berbicara kok, ya diam aja . . . .

Salah satu rekan di lembaga yang lama pernah mengatakan bahwa dia paling tidak tahan punya atasan yang serba diam. Puas diam, senang diam, marah pun lebih diam lagi. “Mbok kalau mau marah itu ya wis marah aja gitu lho” dia mengeluh. “Tapi kalau diam aja, lha terus saya ini kan ya salah tingkah mau ngapain? Lebih baik dia ngomong sambil marah-marah, saya kan terus tahu masalahnya dimana dan saya salahnya apa.”

Ya, memang begitulah. Orang pendiam memang mengerikan. Kita tidak tahu apa isi hatinya. Tahu-tahu terbetik berita bahwa dia tewas gantung diri atau menabrakkan pesawatnya ke gunung, seperti ko-pilot Germanwings itu.

Tagged: ,
Posted in: Uncategorized