Menyuapi Mahasiswa dan Menantang Mereka

Posted on March 24, 2015

2


Iki anyar iki, ada dosen menyuapi mahasiswanya, lalu menantang mereka. Opo-opoan iki? Menyuapi. Bikin nasi goreng terus menyuapi mahasiswanya, eh, mahasiswi, soalnya saya kan pria. So sweet. Tapi habis itu saya menantang mereka berkelahi. Sinting.

Sinting?

Hahaha, tidak juga. Biasa, itu kan hanya tipu-tipuan saya supaya ada yang mau membaca posting saya ini.

Judul di atas ada kaitannya dengan sepenggal episode saya mengajar di kelas Discourse Analysis minggu kemarin. Pada pertemuan pertama, ketika saya bertanya apa itu “discourse” (wacana, dalam bhs Indonesianya), tidak ada seorang pun yang tahu. Sekilas saya berpikir untuk menyuruh mereka mencari definisinya di Google atau perpustakaan, tapi lantas niat itu saya urungkan. Alih-alih meminta mereka mencari sendiri definisinya, saya berikan kepada mereka arti “discourse” tersebut. Saya pampangkan besar-besar di slide, saya beri penjelasan lisan, dan saya tulis contoh-contohnya sehingga definisi konsep itu menjadi jelas sak jelas-jelasnya di mata mahasiswa.

Nah, inilah tindakan menyuapi mahasiswa. Istilah Inggrisnya “spoonfeeding”: saya langsung saja memberitahukan kepada mereka satu konsep pokok, dan mereka tinggal menyimak penjelasan saya dan mencatatnya rapi-rapi di bukunya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Tindakan menyuapi seperti ini sederhana saja justifikasinya: efisiensi waktu! Bayangkan berapa lama harus terbuang kalau saya meminta mereka mencari istilah itu di Google. Itu masih ditambah dengan menyelaraskan pengertian yang berbeda-beda yang mereka dapatkan dari berbagai sumber tersebut. Waktu setengah jam lebih bisa terbuang. Dengan penyuapan, saya hanya butuh waktu separonya untuk membuat mereka paham.

Lalu setelah mereka paham konsep “discourse analysis”, mereka pun maju per kelompok menyajikan bab demi bab dari buku teks. Senin kemarin topiknya adalah Transitivity, yaitu sistem tata bahasa yang mempengaruhi cara pandang dan persepsi kita terhadap kehidupan di dunia. Transitivity itu masih terbagi-bagi menjadi empat kategori, yaitu relational, material, verbal, dan mental. Lalu saya bertanya: “apa yang kita cari di setiap kategori tersebut? Apa hubungannya dengan kehidupan ini? Mengapa setiap kategori itu menjadi penting buat seorang ahli bahasa untuk memahami kehidupan dan segala dinamikanya di dunia ini?”.

Sontak kelas pun sunyi.

Saya ulang pertanyaan itu. Masih sunyi.

“Saya tentu saja punya jawabannya,” akhirnya saya berkata. “Tapi tidak akan saya uraikan panjang lebar buat kalian. Kalau itu saya lakukan, kalian hanya akan mencatat kata-kata saya, lalu menghafalkannya supaya ujian dapat bagus. Kalian hanya akan menyimak dan menghafal, tidak berpikir. Itu bukan cara saya mendidik. Saya ingin mahasiswa saya tidak hanya mencatat dan menyimak, tapi juga berpikir. Nah, sekarang saya tantang kalian untuk berpikir tentang pertanyaan saya tadi.”

Disitulah saya menantang mereka.

Waktu berlalu. Masih sunyi. Akhirnya saya berkata lagi, “ok, jawabannya ada di buku ini. Untuk mendapatkannya, kalian harus membaca. Ayo, baca hal 65 – 80.”

Beberapa orang mulai membalik-balik bukunya. Beberapa masih menatap saya atau papan yang ndak ada isinya. “Membaca tuh harusnya ya ngeliat ke buku,” kata saya, sambil sekilas keheranan mengapa beberapa dari mereka mengira bisa menemukan jawabannya hanya dengan bengong menatap dosen atau papannya.

Maka mereka pun membaca. Jangan dibayangkan hanya satu dua kalimat. Bacaannya tuh puanjang-panjang. Ya biarlah, namanya juga menantang mereka untuk mampu membaca dan paham apa yang dibacanya. Saya yakin bahwa generasi muda Indonesia harus dibiasakan membaca. Kalau tidak, daya tangkap mereka terhadap wacana ilmiah tulis akan makin lemah karena kalah oleh rasa sakaw terhadap gadgetnya atau kebiasaan lisannya.

Karena saking panjangnya, sampai akhir kelas pun mereka belum bisa menemukan jawabannya. Ya ndak mengapa, saya langsung menugaskan mereka untuk meneruskan membacanya di rumah dan bersiap dengan kuis kecil saya pekan depan.

Menyuapi dan menantang. Sekarang itu sudah menjadi gaya mengajar saya. Di awal-awal kuliah, saya akan menjadi dosen penjelas yang baik yang mampu menerangkan konsep-konsep utama secara panjang lebar dan mudah dipahami oleh murid-murid. Tapi makin lama yang seperti itu makin sedikit, dan saya pun mulai menantang mereka untuk membaca sendiri, berpikir, mengutamakan logika, dan aktif menjawab atau berdiskusi.

Posted in: Uncategorized